BULELENG-Kesenian gambuh acap kali kembang kempis, kesulitan mencari regenerasi. Tapi di Desa Adat Anturan, tari gambuh tetap Lestari. Apa rahasianya?
Alunan tabuh gambuh terdengar dari Pura Dalem Desa Adat Anturan. Malam itu, Senin (16/10), krama berkumpul di pura desa serangkaian piodalan alit di pura tersebut. Kendati persembahyangan sudah usai, mereka masih bertahan memenuhi pelataran pura.
Krama masih bertahan untuk menyaksikan pementasan Tari Gambuh. Di Desa Adat Anturan tarian tersebut masuk dalam tari wali alias tari sakral. Karena hanya dipentaskan saat diselenggarakan piodalan di Pura Kahyangan Tiga. Baik itu di Pura Desa, Pura Dalem, maupun di Pura Segara.
Seluruh penari yang membawakan tarian gambuh merupakan truna alias laki-laki. Sehingga hal itu menjadi daya tarik tersendiri. Krama acap tertawa ketika melihat truna kurang lugas saat menari.
Bendesa Adat Anturan, Ketut Mangku mengungkapkan, tari gambuh di Desa Anturan sudah ada sejak dulu. Konon tarian itu ada bersamaan dengan berdirinya Desa Adat Anturan. Menurutnya Tari Gambuh di Desa Anturan berbeda dengan gambuh pada umumnya.
Lazimnya dalam tari gambuh ada beberapa tokoh. Seperti Panji, Demang dan Demung, Nak Bagus, Punakawan, Prabu, Galuh, dan sebagainya. Selain tokoh-tokoh tadi, ada pula Topeng Detya. Topeng ini yang menjadi sosok sentral dalam kesenian gambuh di Desa Anturan.
“Yang menarikan topeng detya bukan orang sembarangan. Harus seorang Jro Mangku. Itu pun sebelum mesolah di hadapan krama, didampingi dengan beberapa jro mangku,” kata Mangku saat ditemui, Sabtu (21/10).
Menurut Mangku, kesenian tersebut ditarikan oleh sebuah paguyuban di bawah desa adat. Paguyuban itu bernama Truna Bunga. Mereka yang masuk dalam paguyuban Truna Bunga harus menjalani upacara pembersihan secara niskala terlebih dahulu. Mengingat mereka akan mengemban tugas membawakan tari wali.
Selama bertahun-tahun kesenian ini cukup terkenal. “Terkenalnya Tari Gambuh ini dari dulu karena penarinya baik yang berperan sebagai putri/galuh maupun prabu dan peran-peran yang lain, semuanya adalah laki-laki,” jelasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, kesenian itu hanya dipentaskan saat karya piodalan di Pura Kahyangan Tiga. Kesenian itu wajib dipentaskan untuk nyangkepang karya piodalan. Sehingga tari tersebut masih tetap lestari.
Desa adat juga memberikan pelatihan secara berkala kepada anggota Truna Bunga. “Harapan kami biar semakin banyak yang mau ngaturang ayah menggeluti kesenian ini. Kalau memang dari sanggar-sanggar atau sekaa ada yang mau ikut terlibat melestarikan, kami sangat terbuka,” tegasnya.
Di sisi lain Desa Adat Anturan tahun ini menggelar piodalan alit di Pura Kahyangan Tiga. Piodalan diawali dari Pura Dalem, yang dilanjutkan dengan Piodalan di Pura Desa Bale Agung, Pura Gede Patih, dan terakhir di Pura Segara. Rangkaian piodalan di pura-pura tersebut baru berakhir pada November mendatang.***
Editor : Donny Tabelak