GIANYAR-Sebuah album bertajuk Sonic/Panic' dirilis di Monkey Forest, Ubud, Gianyar pada Sabtu (4/10). Album itu dirilis dalam gelaran konser musik bernama Iklim Fest.
Menariknya, secara umum lagu dalam album ini menyuarakan isu lingkungan dan perubahan iklim di Indonesia dan dunia.
Album ini berisikan lagu yang dibuat dan dinyanyikan oleh 13 musisi dan band ternama tanah air. Belasan musisi ini juga lahir dari latar belakang genre berbeda. Mulai dari folk, reggae, hip hop hingg rock.
Album dirilis di bawah naungan Alarm Records ini berisikan lagu-lagu dari Endah N Rhesa, Navicula, Tony Q Rastafara, Tuantigabelas, Iksan Skuter, FSTVLST, Made Mawut, Nova Filastine, Guritan Kabudul, Kai Mata, Rhythm Rebels, dan Prabumi.
Selain perayaan musik dan membangun kesadaran akan krisis iklim, IKLIM Fest diharapkan dapat menjadi contoh pagelaran musik yang lebih ramah lingkungan.
Selain menerapkan protokol guna ulang, IKLIM Fest juga akan memanfaatkan energi terbarukan, energi surya sebagai salah satu sumber tenaga yang menghidupkan panggung-panggung musiknya.
"Sound dan lighting panggung sebagian akan menggunakan tenaga surya, tujuannya untuk
mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari acara ini,” ujar Gede Robi Navicula, yang juga merupakan salah satu inisiator festival dan terbentuknya belasan musisi yang mengisi album Sonic/Panic'.
“Dengan menerapkan langkah-langkah ini, harapannya bisa jadi inspirasi buat festival atau konser musik lain bahwa kita bisa bikin event besar tapi tetap ramah lingkungan,” imbuhnya.
IKLIM Fest juga akan membagikan bibit pohon secara cuma-cuma kepada para pengunjung untuk mereka bawa pulang dan tanam sebagai langkah untuk mengimbangi emisi karbon yang dihasilkan (carbon offsetting) dari perhelatan ini.
IKLIM Fest diklaim merupakan festival sadar iklim pertama di Indonesia dan akan menerapkan ‘reuse protocol’ atau protokol guna ulang untuk mengurangi sampah sekali pakai yang biasa dihasilkan di festival-festival musik.
“Sampah erat kaitannya dengan isu perubahan iklim. Tidak hanya saat sudah menjadi sampah, plastik sudah menyumbangkan emisi sejak dari proses ekstraksi. Pencegahan sampah plastik bisa dilakukan dimana saja, termasuk kegiatan umum seperti festival musik," sambungTiza Mafira, Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia.
Menurutnya, Dietplastik Indonesia perdana meluncurkan dan menerapkan protokol guna ulang atau Reuse Protocol pertama kali di IKLIM Fest.
Semua penyajian makanan dan minuman menggunakan wadah dan alat makan guna ulang dari penyedia jasa guna ulang yang diintegrasikan dengan penjual makanan dan minuman.
"Kami akan menghitung berapa pencegahan plastik sekali pakai yang tercapai. Jika diterapkan dengan standar yang baik, sistem guna ulang ini juga bisa berperan mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) sampai dengan 80 persen," pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak