Seniman muda itu telah memberikan pembuktian. Seni tradisional seperti wayang kulit, ditinggalkan penonton karena dianggap membosankan. Namun di tangan dalang muda asal Buleleng, wayang kulit juga jadi pementasan yang menarik.
KESENIAN wayang selama ini identik dengan masyarakat yang sudah lanjut usia. Regenerasi dalang juga tersendat-sendat. Lantaran kesenian ini minim penonton. Syukurnya wayang kulit masih bertahan karena terkait dengan keperluan upacara agama.
Namun di Buleleng, geliat para pemuda dalam memainkan wayang kulit mulai tumbuh. Seperti yang dilakukan Komunitas Pedalangan Kercen Mas.
Komunitas yang bermarkas di Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan itu menampilkan wayang kulit saat Pekan Apresiasi Seni (PAS) Buleleng di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno pada Sabtu (13/1/2024) malam lalu.
Menariknya lagi, penampilan wayang kulit itu dilakukan oleh dalang yang baru berusia 20 tahun. Dia adalah Komang Wahya Saputra, pemuda asal Banjar Dinas Kelod Kauh, Desa Tamblang.
Tatkala tampil pada Sabtu malam lalu, dia membawakan lakon berjudul Sayembara Dewa Indra. Cerita ini membawakan kisah saat Dewa Indra membuat sayembara kepada para desa di surga saat kondisi mulai terdesak oleh serangan Dewata Kwaca.
Bukan hanya lakonnya yang menarik, ia juga menggunakan tambahan tata cahaya. Penggunaan cahaya itu juga turut memainkan emosi penonton.
Saat dihubungi pada Minggu (14/1/2024), Wahya mengungkapkan Komunitas Pedalangan Kercen Mas tersebut baru berdiri pada tahun 2021. “Saya berada di bawah naungan Wayang Cenk Blonk (Dalang Nardayana), sehingga saat pementasan kami juga dibantu peralatan,” ungkap Wahya.
Wahya mengaku dirinya sama sekali tidak memiliki trah sebagai seorang dalang. Kemampuan mendalang dia dapatkan tatkala duduk di bangku sekolah menengah. Dia memutuskan melanjutkan pendidikan ke SMKN 3 Sukawati dengan mengambil jurusan pedalangan.
Setelah lulus sekolah, dia mengisi pertunjukan wayang skala kecil. Biasanya untuk upacara tiga bulanan, maupun yang berkaitan dengan tumpek wayang. Dia sempat vakum dari dunia dalang selama beberapa bulan, karena kesibukan bekerja sebagai seorang barista di Denpasar.
“Kemarin saya minta jadwal pentas di PAS banyak juga permintaan masyarakat, karena kangen juga sempat lama vakum karena saya bekerja di Denpasar,” terangnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, I Nyoman Wisandika mengatakan pertunjukan wayang kulit yang tampil perdana di PAS, disebutnya sebagai satu upaya memberikan kesempatan merata pada pelaku seni tradisional maupun modern.
“Kami membuka peluang sebesar-besarnya, tidak hanya untuk seni tari tabuh saja. Tahun lalu kan juga rama kesenian teater dari seni modern. Semakin banyak yang mau tampil semakin bagus dan beragam kesenian kita di Buleleng. Artinya tujuan PAS untuk pelestarian seni budaya sudah menunjukkan hasil,” demikian Wisandika. [*]
Editor : Hari Puspita