Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menikmati Pentas Barong dan Keris Guwang, yang Dikelola Desa Adat dan Memberdayakan Warga Desa Gianyar

Muhammad Basir • Selasa, 19 Maret 2024 | 04:50 WIB
TAMPIL MEMIKAT : Penampilan barong dan penari keris di wantilan desa adat Guwang memukau para penonton.(foto:desa adat guwang untuk radar bali)
TAMPIL MEMIKAT : Penampilan barong dan penari keris di wantilan desa adat Guwang memukau para penonton.(foto:desa adat guwang untuk radar bali)

Aksi seni nan seru. Pertunjukan Guwang Barong and Keris Dance yang dikelola oleh Desa Adat Guwang dalam Baga Utsaha Padruen Desa Adat (Bupda/usaha desa adat) kian diminati.  Baru dibuka Juli 2023, stage barong kini rata-rata menyedot 700 hingga seribu wisatawan per bulan.

INI bukan sekadar pertunjukan atau panggung berkesenian. Menurut Ketua Pengelola Guwang Barong and Keris Dance,  I Ketut Karben Wardana didampingi koordinator marketing Anak Agung Alit Merta menyatakan kunjungan terdiri dari wisatawan lokal maupun domestik.

“Yang datang untuk tujuan menonton pertunjukan barong sekaligus kegiatan sosial maupun gathering,” ujar Karben, Minggu (17/3/2024).

Beberapa bulan ini, wisawatan asing yang telah menonton berasal dari Spanyol, Prancis, Inggris, Jerman, Belanda dan Republik Ceko. Sedangkan wisatawan domestik berasal dari grup-grup yang menyelenggarakan family gathering. “Pengunjung juga bisa menggelar kegiatan sosial, ulang tahun, perpisahan maupun even lain. Tempatnya layak dan representatif,” terangnya. 

Dalam memberikan sajian seni yang menarik, pihak desa adat memberdayakan warga desa setempat. Mulai dari seniman pemula hingga seniman maestro. Tak kenal usia, dari yang muda hingga lanjut usia ikut ngayah di pertunjukkan tersebut.

Lantaran warga desa terlibat, maka beragam profesi yang sehobi seni kumpul jadi satu.

Dari instruktur senam, pemilik usaha, pegawai airport, pemahat, guide, hingga petani. “Rata-rata yang ikut pentas sudah pada punya kerjaan dan komitmen meluangkan waktunya setiap pagi di sini,” jelas Karben. 

Karben menyebut nama seniman senior Doktor I Nyoman Sudanta ikut bergabung di pertunjukkan. Sudanta yang membimbing para penari dari awal. “Beliau pelaku pariwisata, rohaniawan yang paham betul pakem Kuntisraya yang dipentaskan,” jelasnya. 

Mengenai pertunjukan yang dibawakan di bawah bimbingan Nyoman Sudanta, penari dan penabuh tampil serius menyajikan tarian barong yang dibalut apik.

Tarian yang disuguhkan mengisahkan pertarungan antara kebajikan melawan kebatilan dengan durasi sekitar 1 jam. 

Sementara itu, salah satu penari Wijil, I Wayan Muryana mengaku terpanggil untuk terlibat atas dasar ngayah kepada Ida Sesuhunan dan desa adat. “Saya juga ingin melestarikan seni dan budaya,” ungkap penabuh yang kini memerankan penari laki-laki itu.

“Kami berusaha mendukung desa sesuai kemampuan, awalnya saya ini penabuh tapi karena minim penari cowok, saya coba perankan Wijil sekalian belajar memberanikan diri,” jelasnya. Agar menjiwai karakter Wijil sebagai punakawan, Muryana memposisikan diri sebagai abdi kerajaan. 

Selanjutnya, mengenai dana yang terkumpul dari pertunjukan, dikelola oleh desa adat.

Dana itu diperuntukkan untuk membiayai karya, kegiatan di pura. Bahkan, dari hasil yang ada, krama desa Guwang diringankan dengan pembayaran peturunan (iuran adat). [*]

Editor : Hari Puspita
#barong #kesenian #gianyar