Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ekspresi Eksotik Residensi 8 Perupa Seni Instalasi Indonesia Dalam Adicitta Buana di Nuanu

M.Ridwan • Selasa, 26 Maret 2024 | 06:51 WIB
DI TEPI SUNGAI: Ignatia Nilu, kurator Pameran Karya Seni Instalasi 8 seniman Indonesia di depan karya IGN Diva Naya di bentang Eco Path (25/3/2024)
DI TEPI SUNGAI: Ignatia Nilu, kurator Pameran Karya Seni Instalasi 8 seniman Indonesia di depan karya IGN Diva Naya di bentang Eco Path (25/3/2024)

TANAH LOT, radarbali.id –Sebuah pameran karya seni berkelas, eksotik dan lekat dengan alam serta  bentang budaya di gelar di Nuanu, Tabanan (25/3/2024) Menariknya, konsepnya inovatif. Yaitu Residensi Seni, dimana Nuanu menunjukkan komitmen mendalam terhadap lanskap seni Bali dan Indonesia.

Pameran diberi titel, 'Adicitta Buana'  dengan kurator Ignatia Nilu yang telah menjadi mentor bagi 8 seniman Indonesia selama 2 bulan program residensi di Nuanu.

Seniman-seniman yang terpilih yakni, Aditya Wisesha, Alfiah Rahdini, Dhoni Yudhanto, I Gusti Ngurah Diva Naya, Koko Sondaka, Octo Cornelius Tri Andriatno, Tempa (Putud Utama & Rara Kuastra), dan Wisnu Ajitma.

 

Delapan karya seni mereka akan menjadi instalasi permanen di Eco Path, sebuah bantaran sungai di Nuanu yang menawarkan pengalaman mendalam bagi pengunjung yang memperlihatkan simbiosis antara seni dan alam di dalam ekosistem hutan. Taman ini akan terbuka untuk umum setelah Nuanu dibuka resmi pada Juli 2024.

Program residensi seni ini merupakan wujud komitmen Nuanu terhadap warisan seni Indonesia yang kaya dan sekaligus bentuk dedikasi Nuanu untuk menumbuhkan bakat-bakat lokal.

Dengan menyediakan wadah bagi seniman untuk berekspresi dan berproses kreatif, Nuanu bertujuan memperkuat keberadaan mereka sekaligus mempromosikan keberadaan mereka dan menggaungkan suara seniman-seniman ini ke dunia global.

 

Residensi ini menawarkan kesempatan unik bagi seniman untuk mendalami tema perubahan ekologi, hubungan manusia-dengan-alam, dan kemajuan teknologi.

EKSOTIK: Tempa karya Santosha dan In (Finity) karya Dhoni Yudhanto, dengan bahan dasar sampah plastik yang diolah menjadi karya seni instalasi berkelas di Nuanu.
EKSOTIK: Tempa karya Santosha dan In (Finity) karya Dhoni Yudhanto, dengan bahan dasar sampah plastik yang diolah menjadi karya seni instalasi berkelas di Nuanu.

Sepanjang program residensi ini, seniman-seniman yang terpilih terlibat dalam diskusi multidisiplin dan bereksperimen dengan praktik pembuatan seni berkelanjutan, menciptakan karya seni yang menyatu dengan ruang alam sambil melakukan interaksi dan dialog dengan lingkungan sekitar.

Sergey Solonin, Pendiri Nuanu, dalam siaran persnya mengatakan, salah satu misi utama Nuanu sebagai kota kreatif adalah menjadi wadah pendukung bagi seniman dari semua disiplin.

”Memastikan mereka merasa dihargai, diakui, dan diberdayakan untuk menjelajahi kreativitas mereka secara bebas. Program ini tidak hanya menawarkan platform untuk ekspresi artistik tetapi juga berusaha untuk memahami dan mengatasi tantangan, kebutuhan, dan aspirasi seniman di wilayah ini,” ungkapnya.

 

Sang kurator Ignatia Nilu, kepada sejumlah awak media menyebut, program Residensi Seni Nuanu kali ini memilih delapan seniman Indonesia berbakat dari berbagai latar belakang.

Selama program residensi, setiap seniman mendapat support dana sebesar Rp 100 juta perorang, dengan akomodasi dan berbagai akses ke ekosistem Nuanu.

”Setelah program residensi dua bulan, seniman-seniman ini menuangkan hasil karya luar biasa yang dipamerkan di alam terbuka yang diberi nama Eco Path Nuanu ini,” terang Ignatia Nilu.

 

"Saya sangat senang bisa terlibat dan mempersembahkan Program Residensi Seni pertama di Nuanu ini.  Nuanu mencoba menemukan format pembelajaran budaya yang fokus pada pengembangan ide dan praktik seni dengan visi sosio-ekologis yang inovatif,” tukasnya.

Konsepnya ini lanjutnya, terinspirasi oleh Bali sebagai entitas budaya, memperluas apa yang menjadi hubungan manusia-alam sebagai gagasan inti eksplorasi artistik.

”Mendefinisikan kembali apa yang disebut lingkungan di luar batas adalah Adicitta (arah) kami - Memikirkan kembali alam. Kami membutuhkan lebih banyak dukungan untuk kelangsungan ekosistem seni di Indonesia, seperti yang kami dapatkan dari Nuanu," paparnya.

Selaku kurator, Ignatia juga menjelaskan satu persatu hasil karya 8 seniman terpilih, sesuai judul yang ditetapkan masing-masing seniman.

”Jadi semua mulai dari proses awal sampai finishing karya ini dilakukan langsung oleh delapan seniman terpilih selama 2 bulan di Nuanu dan hasilnya kita lihat di Eco Path, ini,” tandas Ignatia.

Bahkan, Ignatia menyebut ada salah seorang peserta paling senior yang usianya sudah 69 tahun, Koko Sondaka.

”Iya Pak Koko merupakan seniman tertua di Program Residensi ini menuangkan idenya tentang pohon yang ranting dan dahannya berbeda-beda dengan titik air sebagai penumbuh. Jadi yang terpilih ini merupakan paduan seniman tua dan muda,” terang Ignatia.

 

Nuanu terus berkembang sebagai kota kreatif, menawarkan tempat perlindungan bagi seniman untuk menjelajahi, menciptakan, dan berkembang. Melalui Program Residensi Seni, Nuanu tetap berkomitmen untuk menumbuhkan lanskap seni dan budaya Bali dan Indonesia. Pameran seni ini akan dibuka untuk publik mulai Juli 2024. ***

Editor : M.Ridwan
#8 seniman #Nuanu #Pameran karya seni #Bentang alam #instalasi #Adicitta buana