Bali bukan hanya gudang perupa dan seniman tradisional saja. Tapi juga melahirkan segudang musisi dari industri musik pop dengan genre nan beragam. Sayangnya masih banyak musisi yang karyanya belum bisa menguntungkan dari sisi bisnis. Ini yang dibedah Robi, frontman grup musik grunge, Navicula, dan kawan-kawan.
PEMUSIK kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 7 April 1979 silam, ini membeberkan beberapa faktor kerumitan seputar pemasaran, royalti dan hak cipta itu.
Mulai dari pembajakan hingga kurangnya pengetahuan dari para musisi untuk memasarkan karyanya secara digital maupun non digital.
Adalah I Gede Robi Supriyanto, pria kelahiran 45 tahun silam ini menguraikan seluk beluk industri musik di Bali sejauh ini yang dalam perspektifnya cukup bergairah. Para musisi juga selalu menghasilkan karya-karya baru.
Di sisi lain, sudah banyak kafe-kafe yang jadi media para musisi untuk mengekspresikan karya mereka. Namun belum banyak musisi yang menyadari dan mengetahui bagaimana memasarkan karyanya hingga menghasilkan cuan dari sisi bisnis.
"Di sisi seninya sangat bergairah. Tetapi jarang diskusi dari sisi bisnis. Sementara karya ini ada peluang artis memiliki pemasukan lain dari Spotify atau jualan album," kata Robi saat ditemui dalam acara Save Your Song yang digelar di Rumah Tanjung Bungkak, Denpasar, Senin (29/4/2024) sore.
"Saya pikir kalau kita peduli kepada skena musik, memang harus ada balance selain workshop cara lagu, harus ada edukasi bahwa kita harus melek bahwa ini juga bisnis. Kita kan (selama ini) jarang (membahas itu) ," ujar vokalis/gitaris sekaligus penulis lagu Navicula ini.
Dari pengalaman musiknya bersama Navicula, salah satu hal yang membuat band tersebut bertahan di industri musik adalah harus ada bekal pemahaman entrepreneur knowledge.
Menurutnya salah satu jaminan pensiunan dari seorang musisi atau band adalah royalti musik. Seorang musisi seharusnya bisa terus mendapatkan royalti dari karyanya meski musisi yang bersangkutan sudah pensiun dari dunia hiburan.
Pada kesempatan yang sama, Owner Pragita Prabawa Pustaka, Bimas Nurcahya menuturkan, Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki banyak sekali musisi dengan karya-karyanya yang hebat.
Namun sayangnya, dari hasil pemetaaan yang dilakukan oleh pihaknya, banyak musisi khususnya komposer yang mengalami miskomunikasi ketika bekerjasama dengan pihak-pihak luar ketika mereka menjalin sebuah kerjasama.
“Entah itu bersama label, konten kreator dan lainnya. Nah, miskomunikasi ini tentunya merugikan para komposer di Bali. Maka dari itu, acara Save Your Song ini diselenggarakan dengan tujuan sebagai sebuah momen edukasi bagi para musisi, khususnya para komposer tentang hak cipta, lisensi musik kepada komunitas musik di sini (Bali),” tutur Bimas.
Dalam gelaran Save Your Song ini, Pragita Prabawa Pustaka pun menawarkan konsultasi gratis kepada para pelaku musik di Bali mengenai bagaimana ketika musisi ingin mendistribusikan karyanya, perlindungan hak cipta lagu, juga menyediakan sesi coaching clinic bagi para musisi yang hadir secara langsung dalam acara ini.
Sementara Antida Music Productions sebagai tokoh kunci yang mempersiapkan segala hal teknis dan produksian dari mulai tata letak panggung, sound system, lighting dan lain-lainnya.
"Miskomunikasi di sini adalah kerugian yang timbul karena pelanggaran hak cipta bisa saja karena kesengajaan dari pihak yang mau menggunakan, atau ketidaktahuan dari penciptanya.Di sini kita akomodasi tentang ketidaktahuannya dulu,” jelasnya.
“Kita berikan informasi, kita berikan pengetahuan dari sisi kita sebagai publishing. Di mana ada hak yang harus diurusi sendiri oleh pencipta, yaitu mechanical rights atau synchronization. Di sini kita sebagai publishing akan lebih banyak memberi informasi penanganan hak secara individu,” papar Bimas.
Di sisi lain, Chief of Licencing & Copyright Officer Wahana Musik Indonesia (WAMI), Meidi Ferialdi melanjutkan, di era digital seperti saat ini, pihaknya sangat menyoroti tentang pentingnya perlindungan hak cipta di era digital yang semakin maju oleh para pelakunya.
"Bali merupakan salah satu gudangnya seniman. Sebagai gudangnya seniman, Bali juga jendela Indonesia untuk internasional. Di sini kami bersama-sama ingin mengedukasi musisi untuk memproteksi karya mereka sendiri. Lalu kami juga ingin merangkul para komposer dan juga musisi untuk mengungkapkan pandangannya perihal isu tersebut,” pungkas Meidi Ferialdi. [*]
Editor : Hari Puspita