Tarian Legong Peliatan, Ubud, Gianyar, ini dikenal punya Tingkat kesulitan tersendiri bila dibandingkan dengan tarian lain. Tak ayal, penarinya yang mampu membawakan dengan baik, dipastikan bisa membawakan tarian lain.
SALAH seorang penari, Agung Ayu Surya Djelantik,yang ikut tampil di panggung PKB ke-46, menuturkan tari Legong adalah olah tari yang berat dibandingkan yang lain.
Perempuan asal Karangsem ini meyakini kalau berhasil menarikan tarian Legong akan bisa tarian apa pun.
“ Olah tari yang berat dipelajari kalau itu mudah tari yang lain akan mudah,” ujarnya.
Keperibadian saat ini terpengaruh karena komunitas tari ini. Komunitas menjadikan seperti sekarang. Ia ingar saat sering menarikan tari legong spiritnya dari penonton. “Kalau penontonnya adem ayem kami ikut adem ayem. Antusiasme kami tergantung penonton,” tegasnya.
Baca Juga: Eksistensi Puri-Puri di Bali(3): Puri Agung Denpasar Pertahankan Tari Legong Keraton Lasem
Sementara itu, Agung Arimas, murid Gusti Made Sengog yang dilatihnya tahun 1959. Arimas mengenang Gusti Made Sengog memiliki fisim kuat dan sangat pintar karema hafal gerakan setiap tarian. Agung Arimas paling ingat ketika istirahat, Gusti Made Sengog selalu melatih gerakan mata sambil duduk mengajarkan bagaimana mendelik.
Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang juga tim kurator, Prof. I Wayan Dibia mengatakan, kriyaloka sangat efektif untuk memperkenalkan kesenian legong pada zamannya. Tentu bisa mendidik generasi muda. Penonton sangat antusias dibuktikan dengan respons yang dilontarkan.
“Kami ingin anak-anak muda yang sedang belajar tari terlibat. Harapnya peserta mendapatkan pengalaman aktif,” ucapnya. [habis/ni kadek novi febriani]
Editor : Hari Puspita