DENPASAR, radarbali.id - Penampilan anak-anak Sanggar Barong Cilik Kumara Mas, Banjar Sengguan, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar berhasil buat penonton terhibur di Kalangan Angsoka kemarin (26/6).
Tempat duduk penuh hingga banyak yang rela berdiri dan sesak-sesakan. Penonton dibuat betah walau pertunjukkan berlangsung sekitar 2,5 jam.
"Cang numitis makanya tiang ngelestarian," salah satu dialog membawakan dramatari penyalonarangan Sumpah Sudarsana.
Baca Juga: Gudang Logistik Pusdalops BPBD Bali Ludes Terbakar Jadi Arang, Begini Kejadiannya
Pesan yang dibawakan bagaimana mahalanya kejujuran, yang merupakan harkat martabat manusia unggul, Jana Kerthi Paramaguna Wikrama".
Ceritanya demi kebenaran dan harga diri, Patih Sudarsana dari Kerajaan Midarsa rela mengorbankan tangan sendiri.
Ceritanya Patih Sudarsana dituduh akan berbuat jahat kepada Permaisuri Midarsa, karena ingin membersihkan darah makhluk jadi-jadian, berupa burung garuda yang jatuh di atas paha Diah Ratnawati, Permaisuri Prabu Midarsa.
Padahal ia hendak menolong permaisuri karena melihat kelebat bayangan burung raksasa di tempat peraduan Sang Prabu.
Patih Sudarsana tidak berpikir panjang menikam dengan keris, sayangnya keluar darah berceceran di paha permaisuri Diah Ratnawati dan tiba-tiba permaisuri bangun lalu menuduh Patih Sudarsana akan melakukan rudapaksa.
Ketua Sanggar Barong Cilik Kumara Mas I Wayan Mariasa menjelaskan dari cerita ini bahwa manusia unggul adalah menegakkan kejujuran dan kebenaran. Anak-anak yang tampil berjumlah 60 orang ini rata-rata duduk di bangku sekolah dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Baik yang menari dan penabuh juga anak-anak.
Baca Juga: Tak Bisa Asal-Asalan, Urusan Sampah di Buleleng Wajib Diselesaikan dari Hulu ke Hilir
“Ini maksudnya, kalau ini dari cerita istilahnya Patih Sudarsana menegakkan kebenaran tidak mau bohong. Walau sudah dituduh, dengan kesaktian memotong tangannya jadinya wujud bakti kepada kerajaan” jelas
Mariasa berharap anak-anak didiknya menjadi menjadi manusia unggul di bidang kesenian. Pesan-pesan dalam cerita penyalonarangan bisa diimplementasikan di kehidupan.
Apalagi dalam cerita Patih Sudarsana yang tidak ingin dianggap bebuat jahat dengan melakukan aksi sutindih memotong tangan kirinya karena telah menyentuh paha Diah Ratnawati. Dengan tangan kiri yang masih berdarah-darah, Patih Sudarsana memohon menghabisi Diah Jambawati yang menjadi sumber kehancuran negeri Midarsa.
“Keunikan barong anak anak. Yang tampil anak-anak dari Singapadu biasa mereka sering pentas,” katanya.
Anak-anak yang tampil kemarin adalah generasi keempat. Mariasa mendirikan Sanggar Barong Cilik Kumara Mas sejak 2002 lalu. “Usia dari 6 hingga 14 tahun. Dari 2002 didirikan sanggar ini. Dari pertama sampai sekarang yang keempat,” sebutnya.
Mariasa menyebut tidak membutuhkan waktu lama dalam persiapan pentas kemarin karena anak-anak sudah terbiasa pentas. Sekitar satu bulan untuk persiapannya, tetapi diapresiasi banyak pihak.
"Kalau dari nol baru sulit agak lama sedikit. Minimal tiga bulan. Selain itu susah hari liburnya," sebut Mariasa.
Tak main-main 14 pertunjukkan ditampilkan oleh Sanggar Barong Cilik Kumara Mas. Adapun susunan papeson dari: 1. Tabuh Pategak,2. Tari Mapang Barong,3. Tari Sisia, 4. Condong,5. Galuh, 6. Patemon Galuh dengan Condong,7.
Panasar,8. Patih Sudarsana, 9. Siat Sudarsana dengan Diah Ratnawati,10. Rebat Sudarsana dengan Diah Ratnawati, 11. Bondres Berjaga-jaga di Karang Kepatihan,12. Patih Sudarsana Menyerang Jambawati,13. Rangda (Jambawati) Ngundang-ngundang, 14. Patih Sudarsana menyerang Jambawati.***
Editor : M.Ridwan