Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tegakkan Kebenaran, Salah Satu Martabat Manusia Unggul Dalam Dramatari Penyalonarangan Sumpah Sudarsana

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 27 Juni 2024 | 11:30 WIB

 

DAYA PIKAT: Barong Cilik Kumara Mas, Banjar Sengguan, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar
DAYA PIKAT: Barong Cilik Kumara Mas, Banjar Sengguan, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar

DENPASAR, radarbali.id - Penampilan anak-anak Sanggar Barong Cilik Kumara Mas, Banjar Sengguan, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar berhasil buat penonton terhibur di Kalangan Angsoka kemarin (26/6). 

Tempat duduk  penuh hingga banyak yang rela berdiri dan sesak-sesakan. Penonton dibuat  betah walau  pertunjukkan berlangsung sekitar 2,5 jam.  

"Cang numitis makanya tiang ngelestarian," salah satu dialog membawakan dramatari penyalonarangan Sumpah Sudarsana. 

 Baca Juga: Gudang Logistik Pusdalops BPBD Bali Ludes Terbakar Jadi Arang, Begini Kejadiannya

Pesan yang dibawakan bagaimana mahalanya kejujuran, yang merupakan harkat martabat manusia unggul, Jana Kerthi Paramaguna Wikrama". 

Ceritanya  demi kebenaran dan harga diri, Patih Sudarsana dari Kerajaan Midarsa rela mengorbankan  tangan sendiri. 

Ceritanya Patih Sudarsana dituduh akan  berbuat jahat kepada Permaisuri Midarsa, karena ingin membersihkan darah makhluk jadi-jadian, berupa burung garuda yang jatuh di atas paha Diah Ratnawati, Permaisuri Prabu Midarsa. 

Padahal ia hendak menolong permaisuri karena melihat kelebat bayangan burung raksasa di tempat peraduan Sang Prabu.

Patih Sudarsana tidak berpikir panjang menikam dengan keris, sayangnya keluar darah berceceran di paha permaisuri Diah Ratnawati dan tiba-tiba permaisuri bangun lalu menuduh Patih Sudarsana akan melakukan rudapaksa.

Ketua  Sanggar Barong Cilik Kumara Mas I Wayan Mariasa menjelaskan dari cerita ini  bahwa manusia unggul adalah menegakkan kejujuran dan kebenaran. Anak-anak yang tampil berjumlah 60 orang ini rata-rata duduk di bangku sekolah dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Baik yang menari dan penabuh juga anak-anak.

 Baca Juga: Tak Bisa Asal-Asalan, Urusan Sampah di Buleleng Wajib Diselesaikan dari Hulu ke Hilir

“Ini maksudnya, kalau ini dari cerita istilahnya Patih Sudarsana  menegakkan kebenaran tidak mau bohong. Walau sudah dituduh, dengan kesaktian memotong tangannya jadinya wujud bakti kepada kerajaan” jelas

Mariasa berharap anak-anak didiknya menjadi menjadi manusia unggul di bidang kesenian. Pesan-pesan dalam cerita penyalonarangan bisa diimplementasikan di kehidupan.

Apalagi dalam cerita Patih Sudarsana yang tidak ingin dianggap bebuat jahat dengan melakukan aksi sutindih  memotong tangan kirinya karena telah menyentuh paha Diah Ratnawati. Dengan tangan kiri yang masih berdarah-darah, Patih Sudarsana memohon menghabisi Diah Jambawati yang menjadi sumber  kehancuran negeri Midarsa.

“Keunikan barong anak anak. Yang tampil anak-anak dari Singapadu biasa mereka sering pentas,” katanya.

Anak-anak yang tampil kemarin adalah generasi keempat. Mariasa mendirikan Sanggar Barong Cilik Kumara Mas sejak 2002 lalu.   “Usia dari 6 hingga 14 tahun. Dari 2002 didirikan sanggar ini. Dari pertama sampai  sekarang yang keempat,” sebutnya.

Mariasa menyebut tidak membutuhkan waktu lama dalam persiapan pentas kemarin karena anak-anak sudah terbiasa pentas. Sekitar satu bulan untuk persiapannya, tetapi diapresiasi banyak pihak.

"Kalau dari nol baru sulit agak lama sedikit. Minimal tiga bulan. Selain itu susah hari liburnya," sebut Mariasa.

Tak main-main 14 pertunjukkan  ditampilkan oleh Sanggar Barong Cilik Kumara Mas. Adapun susunan papeson dari: 1. Tabuh Pategak,2. Tari Mapang Barong,3. Tari Sisia, 4. Condong,5. Galuh, 6. Patemon Galuh dengan Condong,7.

Panasar,8. Patih Sudarsana, 9. Siat Sudarsana dengan Diah Ratnawati,10. Rebat Sudarsana dengan Diah Ratnawati, 11. Bondres Berjaga-jaga di Karang Kepatihan,12. Patih Sudarsana Menyerang Jambawati,13. Rangda (Jambawati) Ngundang-ngundang, 14. Patih Sudarsana menyerang Jambawati.***

Editor : M.Ridwan
#barong #2024 #pkb #pesta kesenian bali #calonarang #radarbali