DENPASAR, radarbali.id - Para penabuh itu tidak muda lagi namun semangatnya masih membara. Mereka masih fasih memainkan gamelan gong kebyar. Mereka tetap menguasai teknik dalam memainkan bilah-bilah gamelan itu pun masih tampak jelas dan tegas.
Dua gong kebyar legendaris tampil pada utsawa (parade) Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Minggu (7/6) malam. Dua sekaa gong itu adalah Sekaa Gong Eka Dharma Duta, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Duta Kabupaten Tabanan dan Paguyuban Istakari Kokar, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Duta Kabupaten Gianyar.
Adapun Sekaa Gong Eka Dharma Duta penabuh yang sempat jaya di tahun 80-an dan 90-an. Bahkan, I Gede Arya Sugiartha kini Kepala Dinas Kebudyaan Provinsa Bali terlibat dalam memainkan ugal (pemimpin gamelan). Prof. Arya yang merupakan penabuh di sekaa gong ini. Sejatinya, mereka adalah pewaris, karena orang tua mereka rerata sebagai panabuh sebelumnya.
"Pada tahun 1950an jadi penguruk (pelatih) Sekaa Gong Pujungan adalah seniman karawitan Bali asal Kedis yaitu Ketut Merdana biasa dipanggil Nang Ayon," jelasnya.
Dijelaskan, pada tahun 1970an Sekaa Gong Pujungan sempat dilatih oleh seniman asal Batubulan yaitu Bapa Jebeg. Selain itu, banyak seniman besar Bali yang sempat menuangkan kreativitasnya dengan Sekaa Gong Pujungan, diantaranya: I Nyoman Winda, I Made Arnawa, Gusti Ngurah Padang, Ketut Gede Asnawa, Ketut Suartajaya, I Wayan Widia dan lainnya.
Sekaa Gong Pujungan kemudian berganti nama menjadi Sekaa Gong Eka Dharma Duta pada tahun 1987, karena ditunjuk mewakili Tabanan pada ajang Festival Gong Kebyar.
Saat itu, penabuh Sekaa Gong Eka Dharma Duta merupakan generasi ke-empat dari awal terbentuknya Sekaa Gong di Pujungan. Sekaa Gong Eka Dharma Duta juga pernah mengikuti Festival Gong Kebyar pada 1991 dan Parade Gong Kebyar Dewasa pada 2017.
Sementara Paguyuban Istakari Kokar Bali mengawali penampilannya dengan Lelambatan Kreasi Tabuh Gari. Tabuh Gari salah satu reportoar pegambuhan yang bersifat instrumental. Pada 1984, I Wayan Beratha mengadopsi lalu mengubahnya menjadi komposisi lelambatan Tabuh Pat Kreasi yang lanzim disebut tabuh lelambatan mapayas.
Pimpinan Gong Kebyar Legendaris Paguyuban Istakari, I Ketut Suanda atau yang akrab disapa Cedil itu mengatakan, Kokar ibarat sukuntum sekar yang pernah mekar di tengah masyarakat Bali.
Semilir semerbak wanginya, hingga kini masih melekat kuat di kalangan pecinta seni. Persembahan seni tari dan seni tabuh khususnya, yang ditorehkan lembaga formal pendidikan seni tingkat menengah atas ini, meninggalkan jejak pesona.
Kiprah alumni Konservatori Karawitan (Kokar) Indonesia telah memberikan bersumbangsih di seni pertunjukan. Tidak hanya di Bali tapi juga ke seluruh Nusantara.
Pertunjukkan seni yang ditampilkan adalah sebuah kerinduan. Mereka berikhtiar merajut kebersamaan, mengibarkan Paguyuban Istakari (Ikatan Siswa Tamatan Kokar Bali). Mata acara Gong Kebyar Legendaris PKB 2024, dijadikan tonggak untuk mengingatkan kelegendaan yang telah terengkuh itu.
Kali ini, greget berkesenian dari alumni angkatan 1982-1985, dengan tulus rendah hati berkehendak bernostalgia bersama penonton, semoga berkenan di hati.***