DENPASAR, radarbali.id -Pentas Janger Maborbor atau Sanghyang Janger Maborbor ‘membara’ dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 seharusnya tampil di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Provinsi Bali.
Namun, atas permintaan sekaa janger, sehingga dipentaskan di halaman panggung tersebut atau di depan Panggung Terbuka Ardha Candra. Sabtu malam (6/7/2024).
Penampilan yang penuh tantangan, dan di luar nalar tapi itu nyata. Tari Janger Maborbor ini ditampilkan oleh para seniman dari Banjar Bukti, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku, sebagai Duta Kabupaten Bangli. Para pengunjung dari berbagai kalangan itu disuguhkan atraksi seni, berupa Tari Janger Maborbor (penari janger yang dibakar). Pentas seni itu mirip dengan atraksi akrobatik, mengundang decak kagum.
Baca Juga: Nostalgia Para Penabuh Memainkan Gamelan Gong Kebyar Legendaris di PKB ke-46
Pementasan kemudian diawali dengan sesolahan (pertunjukan) Tari Barong yang sebelumnya sudah dilakukan ritual pacara. Selanjutnya pada pementasan Janger. Kesenian yang identik dengan seni pergaulan, karena ditarikan perempuan (janger) dan laki-laki (kecak) dengan penuh kebersamaan.
Setelah menari beberapa adegan, kemudian ada yang kerauhan (trance) kemudian prosesi maborbor, para penari mandi dengan api yang ada di tempat pentas itu.
Jero Mangku Wayan Geder (59) mengatakan, Janger Maborbor ini merupakan kesenian yang disakralkan terutama oleh warga Banjar Bukti, Desa Yangapi. Janger Maborbor ini sudah ada sejak lama. Katanya esenian ini diwarisi oleh para leluhurnya sejak jaman dulu.
“Kami tidak tahu pasti, kapan sesungguhnya tradisi ini dimulai. Kami hanya mewarisi dan meneruskan secara turu temurun,” kata Jero Mangku Geder.
Menurut cerita para orang tua zaman dulu, makna dari Tari Sanghyang Jaran ini sebagai upacara suci. Di daerah Desa Yangapi, sebelumnya terjadi malapetaka sakit keras, bahkan sampai kematian.
“Masyarakat melakukan “ngayu-ayu diajeng Ida Bahtara (di hadapan Tuhan), maka terjadi kerauhan (trance) yang meminta untuk dibuatkan api. Api itu katanya untuk mandi untuk Ida Bhatara, sehingga juga disebut “makobok”,” jelasnya.***
Editor : M.Ridwan