TABANAN, Radar Bali.id - Beredarnya video yang melarang seniman Tabanan I Nyoman Ardika alias Sengap untuk tampil di Desa Adat Bedha viral di media sosial (medsos).
Dari video tersebut tampak jelas salah seorang seniman berpakaian Bali yang tampil saat acara ngaben diberikan sambutan oleh pihak penyelenggara upacara ngaben di Banjar Bengkel Kawan, Desa Bengkel, Kediri Tabanan.
Kala sambutan diberikan oleh Prajuru Desa Adat malah terlontar ungkapan melarang seniman Sengap pentas di Desa Adat Bedha Tabanan.
Belum diketahui pasti apa alasan dari pihak Desa Adat melarang seniman Sengap yang tergabung dalam grup bondres Clekontong Mas untuk tidak pentas di Desa adat Bedha.
Adanya video viral di media sosial (medsos) larangan tampil pentas di Desa Adat Bedha tersebut I Nyoman Ardika alias Sengap sangat santai menjawab dan tak mau ambil pusing. "Matur Suksma (terima kasih)," jawabnya saat dihubungi Sabtu kemarin (10/9/2024).
Menurutnya, adanya larangan tampil pentas seni itu tidak masalah baginya.
Seniman ini tetap optimistis. Sengap meyakini Tuhan Sang Hyang Widhi Wasa Maha adil.
Bahwa pintu rezeki banyak dari Tuhan tidak hanya satu tempat saja. Namun tempat lainya pintu rezeki dibuka. Bahkan ia belum lama masih berkreativitas bersama para seniman dengan pentas di Tabanan.
"Saya ucapan terima kasih matur suksma. Ini sebagai sebuah pelajaran dan kritik sebagai seniman. Saya tetap bersyukur," ungkap Sengap.
Apakah ini ada kaitannya dengan politik, mengingat saat ini ikut mendaftar sebagai calon Wakil Bupati Tabanan melalui Partai Gerindra.
Sengap menyebut ia tidak tahu. Apalagi saat ini ini dirinya belum mendaftar resmi sebagai calon Wakil Bupati Tabanan di kantor KPUD.
"Tapi apakah ini ketakutan pentas. Apa ketakutan saya pentas. Apa ketakutan saya kampanye. Padahal saya belum kampanye dan mendaftar ke KPU," tutur Sengap.
Meski dilarang tampil oleh satu orang, dikatakan Sengap, dirinya tidak mau ambil pusing dan serirus dengan masalah. "Tapi seumpa saya pentas langsung orang itu mengatakan kepada saya, bukan melontarkan pada seniman lain. Maka sepatutnya akan mengajak mereka berdiskusi.
"Rezeki itu diatur tuhan, kekuatan manusia diatur tuhan dan ada batasanya. Saya sebagai seniman tetap happy. Apalagi saya berpolitik sangat happy. Kalau saya berpolitik kemudian orang lain tidak hapy itu perkara lain," pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita