Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Dari Pementasan Wayang Kulit Cerita Wayang Subak Pretiwi: Sampaikan Pesan Moral Subak Tergerus Pariwisata dan Menurunnya Minat Bertani

Juliadi Radar Bali • Jumat, 1 November 2024 | 03:25 WIB
PENTAS WAYANG : Pementasan wayang kulit karya dalang muda I Putu Ardiyasa mengangkat cerita Wayang Subak Pretiwi dari Lontar Darma Pemaculan.(juliadi/radar bali)
PENTAS WAYANG : Pementasan wayang kulit karya dalang muda I Putu Ardiyasa mengangkat cerita Wayang Subak Pretiwi dari Lontar Darma Pemaculan.(juliadi/radar bali)

Ini pertunjukan wayang dengan tema khusus. Pementasan wayang kulit disungguhkan saat malam Jalma Rasa Sumpah Kebangsaan Muda Berbudaya di Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Penebel Tabanan belum lama ini Senin (28/10/2024). 

KALI ini pementasan wayang kulit Karya dalang muda I Putu Ardiyasa. Dalang ini mengangkat cerita wayang Subak Pretiwi tentang kehidupan dan aktivitas masyarakat Jatiluwih khusus Subak Jatiluwih. 

Meski sedikit hujan, cerita Wayang Subak Pretiwi ini dimulai dengan sosok Pretiwi yang banyak memiliki  pertanyaan kepada kakeknya, salah satunya soal kakeknya yang selalu bersembahyang di sawah hingga ritual lainnya di lahan subak. 

 Baca Juga: Jurus Tarik Wisatawan Menginap di Jatiluwih : Suguhkan Animasi Lampu Sinar Laser Malam Hari

Pertanyaan polos yang muncul dari Pretiwi itu membuat sang kakek menjawab penuh kesabaran sabar. Sang kakek setiap kali menjawab pertanyaan cucu selalu  menenteskan air mata, karena tradisi dan ritual sampai kapan akan mampu dipertahankan. Mengingat sudah banyak lahan subak yang mengalami alih fungsi lahan akibat dari dampak pertumbuhan pariwisata Bali. Disatu sisi juga telah menurun minat masyarakat Bali untuk bertani. 

 

I Putu Ardiyasa mengatakan pagelaran Wayang Kulit yang ia tampilkan mengangkat cerita Wayang Subak Pretiwi itu terinpirasi dari sebuah karya seni Lontar Darma Pemaculan. 

 

Salah satu naskah yang berisi ajaran suci yang menjadi landasan pertanian tradisional Bali, terutama ritual terhadap tanah yang memberikan kehidupan bagi manusia. 

"Karya ini sebenarnya menggali filosofi dan praktek kehidupan petani dalam memuliakan tanah merepresentasikan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal subak dalam pengelolaan lahan pertanian," ujar dalang muda Lulusan Seni Pedalangan Institut Senin Indonesia (ISI) Denpasar. 

 Baca Juga: Bikin Wayang Kulit Itu Sulit, Ini Resep Khusus Dalang Sembroli…

Petunjukkan seni Wayang Kulit saat malam Jalma Rasa Sumpah Kebangsaan Muda Berbudaya, Ardiyasa menyebut lebih kepada mengelaborasikan nilai-nilai yang terkandung dalam lontar Darma Pemaculan dengan kehidupan masyarakat subak petani di Desa Jatiluwih. Mulai tentang cara pertanian, ritual hingga sumber air petanian. 

 

Misalnya dalam hal nilai-nilai kearifan lokal di subak. Saat ini dalam mengenalkan subak, sudah tidak bisa lagi ke kalangan remaja dan anak muda, karena mereka sudah tidak bisa diganggu dengan kehidupan mereka. Kemudian pardigma mereka sudah berubah, 

Sehingga nilai-nilai kearifan lokal tentang subak ini ia sisip atau masukkan pada generasi alfa. Yakni anak-anak, mereka anak bukan untuk mengajarkan mereka agar menjadi petani tetapi mengenalkan mereka nilai-nilai kearifkan lokal dari subak itu sendiri. "Sehingga kelak mereka mau bercerita tentang subak," ungkap pria asal Desa Selulung, Kintamani, Bangli.

Selain itu dikatakan Ardiyasa, ia tidak sekedar fokus hanya petunjukkan seni wayang kulit ini saja dalam menghibur penonton, melainkan dalam pertunjukkan Wayang kulit juga sengaja mengimplisitkan pesan dan kritikan tentang kondisi subak di Bali yang tergerus pariwisata. 

 

Pesan yang ingin ia sampaikan pentingnya subak meneguhkan jatidiri tentang tanah jangan sampai pariwisata menjadi boomerang, karena mohon maaf saja masif sekali alih fungsi lahan. 

"Karena apa menjaga subak adalah menjaga Bali, kenapa menjaga subak pula menjaga sumber air," tandasnya. [*]


Editor : Hari Puspita
#Jatiluwih #wayang kulit #pesan moral