Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Gelar Pameran di Jakarta, Made Gunawan Persembahkan Panen

Ni Kadek Novi Febriani • Sabtu, 16 November 2024 | 22:15 WIB
PANEN : Journey of Harvest, akrilik, media kanvas, 130 x 150 cm, salah satu lukisan karya Made Gunawan yang  yang dipamerkan. (sumber : Katalog Hadiprana)
PANEN : Journey of Harvest, akrilik, media kanvas, 130 x 150 cm, salah satu lukisan karya Made Gunawan yang yang dipamerkan. (sumber : Katalog Hadiprana)

Momen istimewa bagi petani adalah panen. Karena Seluruh kerja keras dan derai keringat menampakkan hasilnya. Sukacita dan rasa syukur melingkupi seluruh areal pertanian, semua orang bergembira ria menyambut panen.

TEMA tentang panen ini punya kekhasan tersendiri. Panen menjadi salah satu kegiatan sakral yang kerap dilengkapi dengan ritus tertentu sebagai rasa syukur pada Tuhan, alam semesta dan segenap warga masayakarat.

Kali ini Made Gunawan pada 15 Nopember hingga 15 Desember ini, perupa Made Gunawan  memamerkan karyanya di Galeri Hadiprana Jakarta, dengan menggelar 24 karya terbarunya yang mengambil thema Harvest  alias Panen.

 Baca Juga: Pameran Lukisan Bertema Telanjang di Ubud, Ternyata Terinspirasi dari Lekukan Tubuh Model Prancis

Dalam ulasannya, Erma Retang, tema tentang panen ini adalah energi positif yang dihasilkan serangkain proses panjang sejak mengolah tanah hingga memetik hasil.

Tak pelak, segala sesuatu yang berkaitan dengan visualisasi panen dipercaya memiliki energi positif besar khususnya dalam hal menarik rejeki, kesejahteraan dan kemakmuran. Jamak terlihat lukisan bertema panen dengan gaya Mooi Indie menghiasi ruang tamu kelas menengah Indonesia.

 

Gambar hamparan padi menguning emas, gunungan padi  lengkap dengan bapak dan ibu petani yang sedang memanen dalam dominasi warna kuning keemasan sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran menjadi penghias dinding ruang tamu. Bukan hanya sebagai dekorasi terlebih karena dianggap memiliki energi positif  yang mampu menarik rejeki.

 Baca Juga: Dari Pameran Lukisan dan Patung Gung Paramartha:Bercerita tentang Pewayangan hingga Kisah Pribadi

Mooi Indie atau Hindia (Belalanda) yang indah, cantik, menawan, merupakan sebuah aliran seni lukis yang dikembangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda di abad 19 - 20 yang “hanya” mengeksplorasi keindahan alam Hindia Belanda dengan gaya naturalistik dan kemudian menjadi parameter keindahan sebuah karya lukis.

Ciri khas aliran ini terletak pada objek lukisan yang melulu “memotret” pemandangan alam, sungai, gunung, kehidupan pedesaan dan lain sebagainya dengan pilihan warna tenang, teduh dan damai.

Manusia pun menjadi obyek, tentu saja gambaran manusia perempuan dan atau laki-laki dengan segala keelokan tradisi alamiahnya. Aliran ini ditujukan untuk menarik hati wisatawan agar berkunjung ke Hindia Belanda guna menikmati keelokan alam. Pelukis klasik bumiputera yang mengikuti aliran Mooi Indie antara lain Raden Saleh dan Basuki Abdulah.

Eksistensi Mooi Indie terkikis berkat protes keras pelukis S Sudjojono yang berpendapat aliran itu hanya menampilkan keindahan semata dan tidak menggambarkan realitas sesunguhnya kehidupan bumiputera dan ditujukan hanya untuk menghibur orang asing.

 

Aliran Mooi Indie tak lagi banyak digunakan meskipun tak punah sama sekali sebab aliran ini terlanjur mengakar kuat dalam benak masyarakat.

Setidaknya masih bisa disaksikan lukisan-lukisan bergaya Mooi Indie dijajakan pedagang lukisan keliling, termasuk lukisan bertema panen Lengkap dengan hamparan sawah menguning berlatar gunung biru menjulang.

Di era seni rupa kontemporer, tema panen masih tetap menjadi inspirasi karya lukis. Adalah Made Gunawan, pelukis kelahiran Apuan, Tabanan - Bali, 14 Juli 1973 yang menuangkan imaji seninya dalam lukisan-lukisan bertemakan panen, tentu saja dengan gaya kontemporer yang lebih ekspresif dinamis dengan tekhnik nyawinya yang legendaris. Torehan garis atau lengkung hitam yang digurat melalui sebatang bambu kecil berujung lancip dan dicelup dalam tinta menjadi ciri khas yang melekat dalam setiap karyanya. Nyawi ala Made Gunawan membuat lukisan-lukisannya tak sekedar unik namun  juga mempertegas imajinya tentang obyek lukisan.

 

Terinspirasi oleh kesederhanaan petani, Made Gunawan menyapukan kuasnya menarikan aneka warna dalam paduan tekhnik seni rupa modern dan tradisional. Sebagai “seniman sarjana” yang mengenyam pendidikan seni rupa di ISI Denpasar, ia malaras imaji dengan tekhnik modern lalu mempertegasnya dengan gurat-gurat hitam nyawi yang merupakan tekhnik tradisional seni rupa Bali. Ia membangun harmoni antara modern dengan tradisi dalam setiap karyanya. Sama seperti petani-petani Indonesia yang memadukan modernitas tekhnologi pertanian dengan pola tanam tradisional yang masih digunakan hingga saat ini.

 

Sebagai orang Bali, Made Gunawan tak lepas dari filosofi  Tri Hita Karana yang menuntut keselarasan hidup dengan Sang Hyang Widi Wasa [Tuhan], alam semesta dan sesama makhluk. Keselarasan itu mencuat kuat dalam setiap karyanya melalui penjor, rembulan-matahari, pepohonan, kerja sama yang riang antar manusia dan penjor. Bagi masyarakat Bali, penjor melambangkan gunung yang merupakan “rumah Tuhan” dengan segala manifestasinya. Penjor selalu hadir dalam setiap karya Made Gunawan.

 

Panen adalah suka cita, bukan hanya bagi petani tapi bagi seluruh masyarakat. Semua jerih payah petani dalam menyediakan sumber makanan terbayar lunas saat panen tiba. Makanan sebagai sumber kelangsungan hidup disambut penuh gempita oleh segenap masyarakat. Seluruh penghuni desa bergotong royong bergandengan tangan dengan riang memanen hasil sawah dan kebun. Energi suka cita melingkupi cakrawala. Made Gunawan berhasil memindahkan energi besar masyarakat petani dalam bingkai-bingkai kanvasnya yang bertemakan panen. 

 

Selain itu, pada pameran kali ini, Made Gunawan menemukan ‘teknik percik’ (bukan ‘ciprat’) untuk proses kreatif karya-karyanya. Sepertinya, Made Gunawan menghindari ‘teknik Ciprat’, agar tak menjadi epigon suhunya, Made Wianta. Termasuk upaya Gun menghindari ‘Abstrak Geometri’. Yang Gun petik dari Made Wianta adalah ‘spiritnya’.

 

Menurut Made Gunawan, teknik percik ini ia temukan Manakala melukis dengan bahan pasir di atas kanvas. Ia merasa kurang pas. Sebab,  warna pasir terbatas, maka tekstur, backround, dan volume tak muncul secara apik. Dan terkesan Flat. Oleh karenanya Gun mencoba ‘teknik percik’ dengan cat. Dan dia menemukan apa yang diharapkan, yakni ; munculnya tekstur, backround, dan volume.

Saya perlu menjelaskan lebih detail tentang perbedaan antara ‘Percik’ dan ‘Ciprat’.  Tanpa pandangan mata pada  kedua ‘gaya’ itu (saya pakai referen fisika), dan hanya terpaku secara kaku dari kamus, maka akan terjadi ‘mispehamaman’ akan makna sebenarnya. Percik ada lebih dari satu sumbu . Ciprat lebih terpusat.

Dari ilmu fisika, ini dua hal yang berbeda. Percik versi Gunawan V = 0, tanpa sudut elevasi. Unsur gaya dan tekanan terbatas. Untuk Ciprat, V = X (X = daya dorong), ada sudut elevasi (sudut pelontar), gaya, tekanan, dan kecepatan lebih besar dari Percik. Simbul V pada penjelasan saya ini adalah  Vektor, yakni besaran fisika yang mempunyai nilai dan arah. Beberapa besaran vektor antara lain perpindahan, kecepatan, gaya, tekanan, medan magnet, dan momentum. Jadi Vektor Nol adalah vektor yang besarnya nol, satuan dan arahnya tidak menentu.

 

Oleh karenanya, bisa dibayangkan betapa besarnya energi positif yang “dipindahkan” Made Gunawan kedalam lukisan-lukisan panennya. Setiap detil percik yang memunculkan tekstur dan latarbelakang, serta sapuan kuasnya -  menguarkan energi suka cita pada kelimpahan rejeki berupa panen. Tawa lebar setiap objek manusia yang digambarnya menyuguhkan keriangan berbalut kebahagiaan.

Deretan warna warni umbul-umbul menyiratkan rasa syukur pada Sang Maha Pencipta. Matahari dan segenap pepohonan pun tetumbuhan tidak hanya menjadi sekedar gambar dekoratif pelengkap namun menyimbolkan harmoni elok antara manusia dengan alam semesta.

Panen ditangan Made Gunawan tak hanya gundukan padi atau hasil kebun dengan senyum sumringah ibu-bapak tani, melainkan serangkaian kegembiraan dan kebahagiaan otentik penuh rasa syukur.

 Karya panen Made Gunawan bukan sekadar memanjakan mata pada sapuan warna teduh dan damai dalam sebuah gambar, melainkan menyesapi nilai-nilai yang melatari hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta dan sesama manusia, menikmati cinta kasih Tuhan dan alam semesta pada manusia dan mensyukuri jerih payah dalam kelindan proses panjang berujung suka cita.

Menikmati karya-karya panen Made Gunawan adalah menyerap energi positif. Karyanya tak hanya membasuh jiwa, ia sekaligus menyuntikkan kegembiraan dan semangat.[*]

Editor : Hari Puspita
#Seni Rupa #pameran #lukisan