Usai pasang lampion di sepanjang jalur Pura Desa Adat Galiran di Jalan Laksamana, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Buleleng, piodalan dimeriahkan atraksi barongsai pada Jumat (31/1/2025) malam. Kemeriahan dan kehangatan sangat terasa dalam kehidupan penuh toleransi di Desa Adat Galiran
WAKTU terus beranjak menuju malam. Kelompok barongsai memulai aksinya sekitar pukul 20.00 Wita, yang diawali dari Bengkel Las Karang kemudian menuju ke Pura Desa Adat Galiran. Kelompok barongsai yang tampil adalah Bahana Surya Dharma Singaraja.
Usut punya usut, penampilan barongsai di Pura Desa Adat Galiran, ternyata sebagai bentuk akulturasi sebab piodalan yang dilaksanakan di sana, berbarengan dengan Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili di tahun 2025. Puncaknya pun sama, yakni pada Rabu (29/1/2025).
Momen yang muncul ini, kemudian membuat penggabungan budaya dan saling menghormati ini dilakukan. Tanpa mengabaikan makna dari piodalan itu sendiri. Apalagi di Desa Adat Galiran, ada krama (warga) yang etnisnya Tionghoa.
”Ini sebagai wujud rasa terima kasih keluarga kami, karena diterima dengan baik di Desa Adat Galiran. Ini murni yadnya, ngaturang seni barongsai sebagai hiburan dalam rangka piodalan. Apalagi ini pertama kali momennya bersamaan,” ujar Perwakilan Keluarga Besar Oei Cukwan, Gede Karang Sadnyana.
Karang Sadnyana melanjutkan, keluarga besar Oei Cukwan yang merupakan krama Desa Adat Galiran yang etnisnya Tionghoa. Diceritakan, kalau kakeknya itu datang ke Singaraja sekitar tahun 1920 dari Kalimantan.
Kedatangannya saat itu bersama rombongan keluarga dan kerabat lainnya, yang sampai ke Pelabuhan Buleleng. Mereka berpencar, ada yang tinggal di Kota Singaraja hingga di Kubutambahan.
Oei Cukwan lalu berjualan kopra (kelapa), rempah, dan hasil bumi sampai ke Desa Adat Galiran pada waktu itu. Lalu ia bertemu dengan tokoh spiritual Desa Adat Galiran yakni Jro Made Karang. Pertemuan itu membuat Oei Cukwan menikah dengan Ni Made Suati yang merupakan anak dari tokoh spiritual tersebut.
Pernikahan mereka membuahkan 5 orang anak, yakni Oei So Tien, Oei So Ling, Oei So Hun, Oei Lam Cuan, Oei So Kyu. Yang ada di Desa Adat Galiran adalah Oei Lam Cuan, anak laki-laki satu-satunya yang juga menikah dengan krama setempat.
”Dari kakek saya, sudah menetap dan ikut ngayah seperti krama desa adat pada umumnya. Keturunan ada sekitar 50 orang, tinggal dan aktif di sini. Generasi ketiga sudah tidak ada pakai nama Tionghoa lagi, pakai nama Bali,” lanjut Karang Sadnyana yang merupakan generasi ketiga dari Oei Cukwan.
Mengenai barongsai, pria yang juga pentolan LSM di Buleleng itu mengatakan, kalau pihaknya ngaturang barongsai, tentu sudah diberi izin oleh Desa Adat Galiran. Bahkan penampilan barongsai juga hanya di areal jaba pura saja, tidak sampai ke jeroan.
Pihaknya pun awalnya tidak merencanakan persembahan barongsai ini. Namun ketika mengetahui momennya bersamaan, membuat pihak keluarga secara spontan melakukan pemasangan lampion dan barongsai.
”Kami merasa terhormat diterima dengan baik di sini. Pementasan barongsai kami batasi juga, sampai di jaba pura saja,” sambungnya.
Sementara itu, Kelian Desa Adat Galiran, Putu Anteng mengatakan, pementasan barongsai dan pemasangan lampion di sekitar Pura Desa Adat Galiran, tidak mengurangi makna dari piodalan agung di wilayahnya.
Malahan, ini merupakan gambaran toleransi yang ada di Kota Singaraja khususnya di Desa Adat Galiran, Desa Baktiseraga bahwa toleransi dan saling menghargai sangat tinggi. Kebersamaan dan keharmonisan ini menunjukan Buleleng menghargai budaya yang beragam
”Sudah dikoordinasikan dengan prajuru desa adat, krama juga tidak masalah karena ini momen yang bersamaan (piodalan dan Imlek). Jadi sekalian memeriahkan piodalan agung. Tanpa mengurangi makna dari piodalan itu sendiri,” ujarnya. [*]
Editor : Hari Puspita