Hadir setiap tahun, ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol ataupun sekedar memeriahkan perayaan Hari Suci Nyepi. Namun ogoh-ogoh juga menjadi media untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, utamanya yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa terkini.
INI seperti dilakukan Sekaa Truna Truni (STT) Abdi Yowana dengan ogoh-ogoh Ratu Wong Samar.
STT yang mendiami Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng itu, membuat ogoh-ogoh Ratu Wong Samar sekaligus menyampaikan pesan, terkait dengan keselarasan hidup dengan alam dan dunia gaib.
Sebab rasa hormat terhadap makhluk hidup hingga yang tidak terlihat, sangat dijunjung tinggi masyarakat Bali.
”Tema ogoh-ogoh ini kami angkat, untuk memperingatkan manusia agar tidak sembarangan bertindak di tempat-tempat yang dianggap sakral,” ujar Ketua Panitia Ogoh-Ogoh STT Abdi Yowana, Komang Angga Tri Wardana pada Minggu (23/2/2025).
Ogoh-ogoh tersebut telah dibuat sejak Minggu (12/1/2025), yang kini sudah mencapai 75 persen. Dalam pembuatannya, karya seni dengan tinggi tiga meter dengan lebar 1,5 meter menggunakan bahan bambu dan koran bekas.
Pesan lainnya yang ingin disampaikan ke masyarakat adalah pentingnya menjaga lingkungan. Karena dengan menjaga lingkungan, merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap makhluk hidup lainnya, baik sekala (yang tampak, bisa dilihat) maupun niskala (tidak tampak/gaib).
”Membuang sampah pada tempatnya menjadi salah satu bentuk menjaga lingkungan. Apalagi pemerintah saat ini, utamanya di Bali, tengah menggalakan pengurangan plastik sekali pakai,” lanjut Angga.
Dijelaskan secara singkat, Ratu Wong Samar muncul dari berbagai cerita. Awalnya karena adanya kutukan dari Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra, seorang pendeta Brahmana dari masa Kerajaan Majapahit.
Sekitar tahun 1489, bersama dengan istri dan tujuh orang anaknya, Dang Hyang Nirartha menyeberang dari Pulau Jawa ke Bali.
Sesampainya di wilayah Bali utara, rombongan ini mengalami musibah. Yakni putri sulung Dang Hyang Nirartha, yaitu Dyah Swabhawa dapat perlakuan tidak baik di sebuah desa tua.
Nah, Dang Hyang Nirartha lalu marah dan mengutuk warga desa tersebut, menjadi manusia yang tidak terlihat alias wong samar.
Dari kemarahannya itu juga, sang pendeta bahkan membakar habis desa itu dengan kekuatan saktinya. Disebutkan dalam cerita, Dang Hyang Nirartha kemudian mengangkat anak sulungnya yaitu Dyah Swabhawa menjadi pemimpin wong samar di Bali.
”Secara umum ogoh-ogoh ini tampak seperti yang lainnya. Namun ada pesan mendalam yang disisipkan,” tandas Angga. [*]