Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ada-Ada Saja, Sekaa Teruna Abhirama Devari Singgung Penyebar Hoaks Lewat Ogoh-ogoh Bhuta Dasa Angkara Bumi

Francelino Junior • Sabtu, 29 Maret 2025 | 03:45 WIB
MENYINDIR FENOMENA KEKINIAN : Karya ogoh-ogoh Bhuta Dasa Angkara Bumi karya ST Abhirama Devari yang menyindir penyebar hoaks.(francelino junior)
MENYINDIR FENOMENA KEKINIAN : Karya ogoh-ogoh Bhuta Dasa Angkara Bumi karya ST Abhirama Devari yang menyindir penyebar hoaks.(francelino junior)

Tak melulu tema mainstream yang mengangkat kisah-kisah klasik, Sekaa Teruna  Abhirama Devari yang menyindir kelakuan para penyebar hoaks lewat karyanya kali ini. Sebuah pesan moral yang menggelitik.

MEREKA menangkap fenomena terkini. Ogoh-ogoh selain sebagai karya seni dalam rangka Hari Suci Nyepi, juga dapat menjadi wadah untuk menyampaikan sebuah pesan atau sindiran.

Seperti ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna (ST) Abhirama Devari, Kelurahan Liligundi, Kecamatan Buleleng, Buleleng yang menyinggung penyebar hoaks.

Ketua ST Abhirama Devari, Ida Bagus Eka Permana Putra mengungkapkan, ide ogoh-ogoh Bhuta Dasa Angkara Bumi berawal dari bungkak yang selalu ada dalam yadnya yang dilakukan oleh umat Hindu. Setelah ditelusuri, ternyata ada cerita dibalik keterlibatan bungkak setiap kegiatan keagamaan.

”Kami melihat sekecil apapun upacara Hindu, selalu gunakan bungkak. Jadi kami cari tahu artinya, itu yang menjadi inspirasi. Tentu kami cari referensi juga ke kitab,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bali pada Kamis (27/3/2025) sore.

Katanya, dalam Lontar Kelapa Tattwa dijelaskan bahwa pohon kelapa tumbuh dari wara nugraha Bhagawan Wraspati. Berawal dari bumi yang mengalami kehancuran akibat berbagai tumbuhan yang dirasuki kekuatan kala dan menghasilkan racun. Hingga kemudian menimbulkan penyakit atau wabah, sehingga banyak makhluk yang menderita.

Dewa Siwa lalu mengutus Bhagawan Wraspati untuk turun ke bumi, untuk mencari tahu penyebab wabah yang ada di bumi. Bhagawan Wraspati kemudian turun dan melakukan yoga. Akhirnya diketahui, penyebab wabah merajalela adalah kekuatan kala, yang berubah menjadi Bhuta Dasa Angkara Bumi. Setelah itu, Bhagawan Wraspati memerciki air suci ke segala penjuru arah, berdampak pada tumbuhnya pohon kelapa. Bungkak kemudian dipakai untuk menyucikan wabah yang ada di bumi.

”Dengan perkembangan globalisasi, terkadang ada orang-orang yang malah menyebarkan hoaks di media sosial. Kabar-kabar palsu itu wujud Bhuta Dasa Angkara Bumi yang menyebarkan wabah, membuat perpecahan antara satu dan lainnya,” lanjut Eka Permana.

Ogoh-ogoh ini cukup menarik, sebab posisi atau konstruksinya berbentuk huruf J. Ada sejumlah objek yang tampak dalam karya seni ini, yaitu raksasa Bhuta Dasa Angkara Bumi, bungkak atau kelapa muda, kemudian bumi yang diselimuti air dan api sebagai proses penyucian. 

Dalam pembuatannya selama dua bulan, ogoh-ogoh Bhuta Dasa Angkara Bumi sudah menghabiskan anggaran sampai Rp 30 juta. Tinggi ogoh-ogoh ini mencapai empat meter dengan lebar mencapai lima meter serta berat 350 kilogram. [*]

Editor : Hari Puspita
#hoaks #simbolis #medsos #sindiran #Lomba #ogoh-ogoh