Tak hanya di Tabanan, di Buleleng juga ada tradisi perayaan Lebaran. Mereka saling berkunjung dari rumah ke rumah, yang disebut Mekila.
TRADISI Lebaran Ketupat di Buleleng, mungkin gaungnya tidak begitu populer. Namun di wilayah Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng ada satu tradisi yang disebut Mekila.
Kebiasaan Mekila ini dapat dijelaskan sebagai kegiatan silaturahmi dari rumah satu ke rumah-rumah warga, utamanya saat Idul Fitri.
Konon, dari kabar tutur yang ada, Mekila saat zaman dulu bahkan dipimpin langsung oleh pimpinan wilayah setempat, kemudian diikuti oleh warga lainnya.
Memang sempat menghilang alias vakum, Mekila kemudian dihidupkan kembali oleh pengurus Masjid Kuna Keramat Singaraja yang berada di Jalan Hasanudin Singaraja sejak tahun 2020, karena kerinduan generasi muda akan tradisi nenek moyang mereka.
Jawa Pos Radar Bali berkesempatan mengikuti tradisi ini pada Kamis (3/4/2025). Pada Idul Fitri 1446 Hijriah/2025, tradisi ini digelar dua hari yakni Rabu (2/4/2025) dan Kamis (3/4/2025).
Pukul 08.00 Wita, pengurus masjid yang disebut Badan Kemakmuran Masjid (BKM) sudah berkumpul di Masjid Kuna Keramat Singaraja.
Lantunan doa sebagai rasa syukur berkumandang di sana, sebelum pengurus dan warga berangkat ke rumah-rumah warga.
Sampai di salah satu rumah yang tidak jauh dari Masjid Kuna Keramat Singaraja, BKM dan warga mengawali kegiatan dengan dzikir Alhamduliman.
Setelah itu, tuan rumah menyuguhkan santapan. Hidangan yang disediakan pun tidak ada syarat dan ketentuan, hanya berdasar kesiapan dan kesanggupan rumah yang dikunjungi saja. Beruntung Jawa Pos Radar Bali dapat mencicipi dadar gule, kuliner khas Ramadan.
Meski menyantap hidangan yang disuguhkan dapat dikatakan menjadi bagian favorit, namun kebersamaan dan lantunan doa menjadi yang utama. Sebab tujuan mekila memang untuk mempererat tali silaturahmi.
”Mekila ini tujuannya silaturahmi, setelah Idulfitri. Tujuannya mempererat persaudaraan. Turun temurun dari nenek moyang kami dulu,” ujar Ketua BKM Masjid Kuna Keramat Singaraja, Muhammad Mujib.
Tradisi mekila semakin meriah, sebab dalam perjalan menuju rumah ke rumah diiringi dengan hadrah, yang menambah suasana Islami penuh kehangatan. Kata Mujib, saat ini pihaknya masih memfokuskan kegiatan ini mengunjungi rumah-rumah pengurus masjid saja, sebab tradisi ini baru dihidupkan kembali. Namun tidak menutup kemungkinan dan kesempatan, apabila ada warga yang ingin didatangi, maka rombongan akan datang menghampiri.
Sebagai generasi muda, Mujib mengatakan pihaknya hanya sebagai penerus tradisi yang sudah ada turun temurun dilaksanakan di wilayah Kampung Kajanan. Ini juga sebagai bentuk mempertahankan dan melestarikan kebiasaan positif yang ada.
”Kalau bacaan dalam mekila ini, sudah dibuat oleh nenek moyang kami dulu. Jadi kami hanya melanjutkan saja,” tutup Mujib. [*]
Editor : Hari Puspita