Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengikuti Prosesi Ngusaba Bukakak di Desa Adat Sangsit, Buleleng : Ungkapan Syukur itu Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Eka Prasetya • Selasa, 15 April 2025 | 02:45 WIB
NGUSABA BUKAKAK: Tradisi ngusaba bukakak yang diselenggarakan oleh krama Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Buleleng. (eka prasetya/radar bali)
NGUSABA BUKAKAK: Tradisi ngusaba bukakak yang diselenggarakan oleh krama Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Buleleng. (eka prasetya/radar bali)

Tak hanya lestari secara turun temurun, tradisi di Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Kecamatan Sawan, Buleleng, ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sejak tahun 2020 lalu.

ANTUSIASME itu begitu terasa. Krama di Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Kecamatan Sawan, tumpah ruah. Krama tengah merayakan tradisi ngusaba bukakak.

Tradisi ini merupakan warisan turun temurun yang masih dilestarikan oleh masyarakat adat Sangsit Dangin Yeh.

Tradisi ngusaba bukakak rutin dilaksanakan tiap dua tahun sekali. Tepatnya saat rangkaian purnama kedasa. Tahun ini, tradisi tersebut berlangsung pada Minggu (13/4/2025) yang bertepatan dengan rahina redite kliwon sungsang.

Salah satu acara yang paling ditunggu dalam rangkaian ngusaba bukakak di Desa Adat Sangsit Dangih Yeh adalah ritual Ida Bhatara Melancaran. Ritual ini ditandai dengan arak-arakan sarad bukakak dari Pura Subak Sangsit Dangin Yeh menuju pura yang hendak dituju.

Menjelang ngusaba bukakak, krama sudah berbondong-bondong mendatang pura subak sejak pukul 10.00 pagi. Proses ini diawali dengan pembuatan sarad bukakak di areal pura subak. Mereka yang membuat sarad bukakak adalah krama dari Dadia Pasek Bedulu.

Setelah sarad tuntas dikerjakan, krama pun semakin ramai datang ke pura subak. Mereka akan mengenakan busana putih-merah atau putih-kuning.

Krama yang belum menikah akan datang mengenakan pakaian putih dengan kamben warna kuning. Mereka akan mengusung sarad Dewa Ayu.

Sementara krama yang sudah menikah akan mengenakan pakaian warna putih dengan kamben warna merah. Mereka yang mengenakan pakaian putih-merah, akan mengusung sarad bukakak.

Ritual diawali saat para krama yang berpakaian putih-kuning mengusung sarad Dewa Ayu menuju Pura Pancoran Mas. Selanjutnya sarad akan dibawa kembali menuju Pura Subak Sangsit Dangin Yeh.

Krama yang mengenakan pakaian putih-merah kemudian menuju Pura Gunung Sekar yang berada di sisi timur desa. Di sana mereka melakukan prosesi mejaya-jaya. Setelah mejaya-jaya dan mendapat bija berwarna kuning, mereka seolah mendapat kekuatan gaib.

Mereka langsung menuju Pura Subak guna menjemput sarad bukakak. Setelah itu mereka akan beramai-ramai mengusung sarad menuju Pura Gunung Sekar. Usai melakukan prosesi di Pura Gunung Sekar, sarad bukakak langsung dibawa melancaran.

“Sesuai petunjuk, tahun ini Beliau berkehendak melancaran ke Pura Kaja di Desa Adat Sangsih Dauh Yeh. Kami sudah meminta petunjuk pada Beliau, tiga hari sebelum kegiatan ini,” ungkap Ketua Panitia Karya, Wayan Sunarsa.

Lebih lanjut Sunarsa mengungkapkan, ngusaba idealnya digelar setiap tahun sekali. Tapi karena keterbatasan biaya, maka upacara hanya dilaksanakan tiap dua tahun sekali.

“Maknanya mengucap syukur dan terima kasih atas karunia Beliau yang telah memberikan kesejahteraan dan kemakmuran pada seluruh krama,” ujar Sunarsa.

Sunarsa mengatakan, ada wacana untuk mengembalikan pelaksanaan tradisi pada purnama jiyesta. Namun perubahan jadwal itu sangat tergantung dengan hasil paruman.

“Dulunya memang saat jiyesta. Berubah itu tahun 1985, karena ada pemilu saat jiyesta akhirnya dimajukan ke purnama kedasa. Kalau nanti krama setuju lewat paruman, bisa saja berubah ke jiyesta,” tegas Sunarsa.

Saat ini tradisi ngusaba bukakak telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penetapan itu dilakukan sejak tahun 2020 lalu.

Krama adat berharap agar tradisi itu semakin lestari, seiring telah ditetapkan sebagai WBTB. [*]

Editor : Hari Puspita
#warisan budaya tak benda #wbtb #adat istiadat #budaya #buleleng