Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Metastomata : Metamorfosis Manifesto Galang Kangin

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 17 April 2025 | 20:00 WIB
Lukisan Karya Galung  Wiratmaja. (ist)
Lukisan Karya Galung Wiratmaja. (ist)

Menyambut ulang tahun ke- 29 Komunitas Seni Galang Kangin (KSGK), akan digelar pameran senirupa di Neka Art Museum, Ubud,Gianyar. Perhelatan dijadwalkan berlangsung 18 April  hingga 18 Mei 2025.

SEPERTI dituturkan Ketua KSGK, perupa Galung Wiratmaja, karya rupa yang digelar berjumlah  36 dari 12 anggota Galang Kangin dan tiga orang  perupa undangan.

Tema pameran kali ini adalah “Metastomata, Metamorfosis Manifesto Galang Kangin”. Selaku kurator pameran adalah Hartanto dari Balimangsi Foundation dan Co kurator,  Benito Lopulalan.

Karya Atmi
Karya Atmi

Pameran ini berlangsung bertepatan dengan bulan kelahiran maestro seni rupa Arie Smit (15 April 1916 – 23 Maret 2016), tokoh yang memberi warna penting dalam perkembangan seni rupa di Bali.

Melalui perannya dalam mendorong kreativitas anak-anak di Penestanan tanpa doktrin, ia memicu lahirnya gaya Young Artistmazhab yang menekankan kebebasan ekspresi dan spontanitas.

“Sepertinya, spirit inilah yang menginspirasi Galang Kangin dalam membangun ruang seni yang merdeka,  mandiri, setara, dan jujur terhadap proses”, tutur Dr. Pande Made K. Suteja, Direktur Neka Art Museum (NAM) .

Karya Wayan Setem
Karya Wayan Setem

Terinspirasi dari karya Mazhab Young artist Arie Smit, KSGK berusaha merevitalisasi Manifesto nya yang dideklarasikan pada 21 Juni 2002. Melalui diskusi panjang antara KSGK, Neka Art Museum Ubud, dan Kurator dan Co Kurator – munculah gagasan thema pameran seperti diatas. Selain itu, Co Kurator,  Benito juga medesain workshop dan questioner oleh co-kurator bagi para perupa yang berpartisipasi.

 “ini untuk memperdalam pemahaman peserta pameran mengenai makna “meta”, baik secara pribadi maupun kolektif—menyeimbangkan logika dengan imajinasi liar demi mendukung penciptaan karya-karya inovatif bertema Meta Stomata” tandas Benito.

Menurut Ketua KSGK,  Galung Wiratmaja, pemahaman tentang Stomata adalah dinamika yang melampaui batas, serta enyatu dengan semesta Kreativitas.

Karya Diwarupa
Karya Diwarupa

Seni, tambah Galung, adalah jendela menuju jiwa manusia, dan  dalam dunia tanpa batas ini, Metastomata menjadi simbol keberanian untuk melampaui keterbatasan yang mengikat. Galang Kangin, sebagai komunitas seni yang penuh semangat, telah menjadikan filosofi ini sebagai denyut nadi kreatifitasnya—sebuah panggilan untuk terus menjelajahi, memahami, dan menciptakan tanpa henti.

Jadi, tambah kurator Hartanto,  Metastomata sendiri berbicara tentang perubahan dan transformasi, tentang melampaui apa yang terlihat di permukaan.

Karya Diwasoma
Karya Diwasoma

Dalam konteks seni, ini berarti menjelajahi konsep-konsep baru, memadukan berbagai medium, dan mendorong batas-batas tradisional untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar unik dan bermakna.

“Di Galang Kangin nantinya, Metastomata : Metamorphosis Manifesto Galang Kangin tidak hanya menjadi ide, tetapi sebuah cara hidup Pemahaman mendalam tentang proses kreatif. Setiap seniman yang tergabung di komunitas ini didorong untuk berpikir melampaui konvensi, menciptakan karya yang mencerminkan jati diri mereka yang sebenarnya”, Hartanto menjelaskan.

Karya Wayan Naya
Karya Wayan Naya

Lebih jauh diungkapkan  bahwa pewacanaan ini  bisa dipadankan dengan perjalanan kreatif  atau “nafas eksistensi” kelompok Galang Kangin selama ini, (dan diharap) hingga ke depannya.

“Konsep Metastomata, juga berpijak dari esensi Manifesto GK serta “bacaan” pada beberapa karya perupa GK yang konsen pada alam,” ungkap Hartanto.

Ini  menurut interpretasi berkait erat dengan refleksi atas suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan simbiosis mutualistik (imbal balik) antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

“Beranjak dari sini (metamorfosis manivesto GK), kita semua berharap pada perjalanan kreatifitas GK berikutnya terhimpun produk-produk pemikiran yang mengimbangi estetika karya-karya para anggota Galang Kangin dengan tujuan, berkembang senantiasa seperti proses metamorfosis, menuju mazhab yang kita harapkan bersama,” jelasnya.

“Intisari dari pewacanaan Metastomata adalah, Stomata. Ini adalah pori-pori kecil pada permukaan daun yang berfungsi untuk mengatur pertukaran gas dan penguapan air yang berlebihan,” imbuh pria yang juga jurnalis senior ini.

Stomata biasanya ditemukan di bagian bawah daun - terdiri dari dua sel penjaga yang mengelilingi celah kecil. Fungsi utama stomata adalah: Pertukaran Gas, yakni mengambil karbon dioksida (CO2) dari udara untuk fotosintesis dan melepaskan oksigen (O2) sebagai produk sampingan.

Selain itu, Transpirasi – yakni mengatur penguapan air dari daun, yang membantu dalam penyerapan air dan nutrisi dari tanah melalui akar.

Selanjutnya, adalah Pengaturan Suhu - ini membantu mengatur suhu daun dengan mengeluarkan uap air, yang mendinginkan daun. Stomata, hanyalah lubang kecil yang mampu menyangga kehidupan tumbuhan, yang besar sekalipun.

“Sepertinya, spirit inilah yang menginspirasi Galang Kangin dalam membangun ruang seni yang merdeka,  mandiri, setara, dan jujur terhadap proses”, Dr. Pande Made K. Suteja, menjelaskan .

Menurut kurator Hartanto, untuk melahirkan mazhab banyak hal yang mesti dikerjakan oleh KSGK – dan manifesto yang di deklarasikan tahun 2002, merupakan langkah awal GK yang tepat. Tentu kita semua berharap, ke depan – mazhab GK menjadi

Kini, imbuh Dr. Pande Made K. Suteja, dengan kedewasaan usia - Galang Kangin berada pada simpul penting. Masa Grahasta Asrama bukan hanya fase produktif, tetapi juga peluang untuk melahirkan generasi seniman baru yang menjunjung nilai kejujuran artistik, semangat kolaboratif, dan orientasi pada keberlanjutan.

Apabila fase ini dilewati tanpa kesadaran kreatif, maka yang tersisa hanyalah kontemplasi pasif di tahap hidup berikutnya yang lebih tinggi lepas dari duniawi , yakni Wanaprastha dan Biksuka.

Beberapa nama seniman peserta antara lain:   Made Supena, Made Galung Wiratmaja, Wayan Setem, Dewa Gede Soma Wijaya, Wayan Naya Swantha, Nyoman Diwarupa, Made Ardika, Made Sudana,  Made Gunawan , I Gede Jaya Putra, A.A. Eka Putra Dela,  Agus Murdika, Atmi Kristiadewi, I Ketut Putrayasa, dan I Gede Adi.

Ketut Putrayasa, kali ini  dengan karya tiga dimensi “Selilit (2025)” seolah menyimpan perenungan tentang hal-hal yang Kecil dan Berpengaruh. Selilit menjadi metafora tentang Tabiat Seni. Selilit, sisa makanan yang menyelinap di sela gigi, mungkin tampak kecil dan sepele.

Namun dia mengusik kenyamanan mapan. Halus namun nyata. Karya ini bagai Tao Te Ching yang menekankan kekuatan hal-hal kecil dan lembut yang mampu mengalahkan yang besar dan keras, seolah air yang lembut tapi terus menerus bisa mengikis batu karang yang keras.

Karena Seni, seperti selilit, hidup dalam himpitan arus besar pragmatisme modern: di antara gempita tekanan kebutuhan pribadi, effesiensi praktis, tekanan sosial, dan berbagai hal yang mengekang kebebasan berekspresi. Namun seni harus tetap tumbuh, menolak kemapanan demi membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk dijelajahi.

Simbol tusuk gigi di atas piring melengkapi kode simbolik metafora seni di arus besar budaya dominan konsumerisme. Selilit dan piring meleleh menjadi gambaran visual bahwa seni adalah ungkapan tanpa akhir (tak kesudahan) yang terus-menerus mengusik kemapanan. Ia menjaga jarak dari segala bentuk rutinitas dalam dunia yang semakin cair dan berubah cepat.

Putrayasa seolah menggambarkan butterfly effects ala teori chaos Edward Lorenz yang menggambarkan kekuatan peranan hal-hal kecil --seperti selilit ini-- dalam memicu perubahan. Lorenz menggambarkan bagaimana hal-hal kecil pada suatu sistem dinamis dapat menghasilkan perubahan dan konsekuensi besar tak terduga. Itulah seni dalam karya ini .

Seni; meski tampak sebagai elemen kecil atau minoritas dalam arus utama budaya pragmatisme, tetap memiliki potensi menggerakkan perubahan besar melalui pengaruh-pengaruh halus namun signifikan.

Seni menyimpan daya hidup subversif; ia adalah kesadaran kritis yang senantiasa berupaya membebaskan diri dari ancaman laten budaya dominan atau ideologi yang mengasingkan manusia dari kepekaan Nurani serta keindahan. Sebagaimana efek kupu-kupu Lorenz — seni memiliki pengaruh besar sebagai kekuatan penggerak perubahan sekaligus penjaga keaslian ekspresi manusia.

Sementara Itu, sebuah karya dari Putu Adi Putra, menggambarkan dunia sebagai kumpulan letupan energi yang terus berevolusi. Dalam karyanya, ia hendak menyampaikan sebuah pesan mendalam bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki asal-usul — dan asal dari segala asal itu adalah energi. Energi inilah yang menjadi inti dari eksistensi, sumber utama yang melahirkan segala sesuatu baik yang tampak maupun tak tampak.

Energi bukan hanya sekadar kekuatan fisik atau fenomena alam semata; ia juga merupakan esensi kreatif di balik setiap bentuk kehidupan. Seni sendiri dapat dipandang sebagai manifestasi visual atau ekspresi nyata dari energi hidup tersebut.

Melalui goresan kuas, dentingan nada, gerakan tari, hingga kata-kata dalam puisi—semua itu adalah wujud evolusi energi menjadi bentuk-bentuk baru yang mampu menyentuh jiwa manusia.

Dalam konteks ini, kehidupan adalah jembatan antara dimensi fisik dan metafisik. Ia menghubungkan kita dengan sumber energi primordial—yang terus berubah dan berkembang seiring waktu—menciptakan dialog antara pencipta dan penikmatnya.

Putu Adi Putra melalui karyanya mengajak kita untuk merenungkan bahwa setiap ciptaan adalah bagian kecil dari arus besar evolusi energi universal. Setiap kehendak, suara atau gerakan membawa getaran kehidupan itu sendiri; mereka adalah bukti nyata bahwa di balik segala rupa terdapat kekuatan dinamis tak terlihat namun sangat nyata.

Dengan demikian, memahami seni berarti juga memahami perjalanan panjang transformasi energi — bagaimana ia bermetamorfosis menjadi berbagai bentuk kehidupan dan pengalaman manusia. Seni menjadi saksi bisu sekaligus perantara bagi kita untuk merasakan denyut nadi alam semesta dalam tiap detiknya.

Selebihnya  untuk informasi lebih lanjut:Neka Art Museum – telp: +6281338424036  atau Ketua Komunitas Seni Galang Kangin – telp. 0812 4699 622. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#perupa #Seni Rupa #Museum Neka Ubud #seniman #pameran bersama #lukisan