DENPASAR, radarbalijawapos.com - Joko Anwar sukses rilis film Pengepungan di Bukit Duri. Begini 8 fakta menarik tentang film ini.
Sutradara asal Medan ini sukses mendapatkan sambutan antusias dari seluruh penonton film di Indonesia. Terbukti dengan pencapaian 607.488 penonton setelah 7 hari tayang.
Film yang dibintangi Morgan Oey sebagai Edwin, tokoh utama ini mengusung tema sosial. Konflik yang terjadi di lingkungan pendidikan.
Dibalik suksesnya capaian penonton dalam waktu 7 hari, simak 8 fakta menarik soal film Pengepungan di Bukit Duri ini.
Dilansir dari beragam sumber, berikut Tim Radar Bali sajikan untuk Anda.
Sinopsis Film yang Menarik
Dilansir dari akun Instagram milik Joko Anwar, berikut sinopsis film Pengepungan di Bukit Duri. Diposting pada 4 Februari 2025.
Sebelum kakaknya meninggal, Edwin berjanji akan menemukan anak kakaknya yang hilang. Pencarian ini membawanya menjadi guru di SMA Duri, sekolah anak-anak bermasalah.
Di sana Edwin harus berhadapan dengan murid-murid paling beringas sambil mencari keponakannya. Saat ia menemukan anak kakaknya, seluruh kota tengah terjadi kerusuhan. Keduanya terjebak di sekolah dan harus melawan anak-anak brutal yang kini mengincar nyawa mereka.
Pengerjaan Naskah 17 tahun
Joko Anwar mulai menulis naskah ini di tahun 2007 dan baru selesai di tahun 2024. Joko Anwar Blbutuh waktu untuk mendapatkan kedewasaan dan kematangan dalam pembuatan film. Ia ingin menciptakan karya yang tidak hanya menghibur tapi juga menyampaikan isu penting di balik cerita.
Kolaborasi Studio Besar
Penggarapan film kali ini Joko Anwar tidak main-main. Ia bekerja sama dengan Amazon MGM Studios di Hollywood. Kualitas film dari segi gambar dan suara jelas semakin terlihat profesional.
Totalitas Produksi Tidak Main-main
Tidak hanya berkolaborasi dengan Hollywood. Joko Anwar sengaja membuat set lokasi sendiri. Ia membangun gedung sekolah sebagai set lokasi dari nol. Pembuatannya memakan waktu 2 bulan.
Baca Juga: Ini Sosok Satrio Wibowo Mantan Paula Verhoeven yang Disebut Meninggal karena Tertular HIV darinya!
Menyinggung masalah kerusuhan mei 1998
Film ini menyinggung tragedi yang meninggalkan trauma mendalam bagi orang-orang etnis Tionghoa di Indonesia.
Tak hanya lewat penokohannya saja, ada juga frekuensi radio 98.05 FM yang kuat diduga merujuk pada Mei 1998.
Mengangkat Isu Kekerasan dan Diskriminasi Rasial di Sekolah
Film ini mengangkat isu kekerasan dan diskriminasi rasial di lingkungan pendidikan. Latar lokasi ada di sekolah. Alurnya bercerita tentang kebrutalan anak sekolah.
Latar tahun masa depan kisahnya menyinggung masa lalu
Film ini mengambil latar tahun 2027 di Jakarta Timur. Meskipun berlatar fiksi, film ini banyak menyinggung isu tahun 1998 di peristiwa kelam sejarah Indonesia.
Berangkat dari kisah nyata
Cerita film ini didasarkan pada kejadian nyata yang disaksikan oleh Joko Anwar sendiri, termasuk kekerasan yang dilakukan oleh teman-teman SMA-nya terhadap kelompok ras tertentu.***
Editor : M.Ridwan