RADAR BALI – Komunitas penulis perempuan Pena Perajut Aksara (PPA) pada Kamis (24/4) meluncurkan buku kedelapan berjudul 'Aku (Tidak) Baik-Baik Saja.
Buku antologi cerpen bertema kesehatan mental ini ditulis oleh 20 perempuan dari berbagai latar belakang profesi di Sidoarjo, Jawa Timur.
Peluncuran buku digelar dengan nuansa khas Hari Kartini, dengan kebaya yang melambangkan penghormatan atas semangat perjuangan perempuan Indonesia.
Warna ungu dipilih sebagai sampul buku dan warna tema peluncuran sebagai simbol keteguhan jiwa dan harapan.
“Buku ini adalah ruang berbagi cerita, tempat para penulis menuangkan kejujuran tentang luka, jatuh, dan proses bangkit kembali," ujar Vivi Dinatya, salah satu penulis, yang berprofesi sebagai psikolog.
"Kami ingin menyampaikan bahwa kondisi tidak baik-baik saja pun adalah hal yang manusiawi,” kata Dhian, seorang social media strategist.
"Cerita-cerita dalam buku ini bisa menjadi bekal bagi orang tua dan pendidik untuk mengarahkan anak-anaknya menghadapi dinamika kehidupan," tutur Farida Anwari, pemilik sejumlah rumah sakit di Sidoarjo.
Peluncuran buku tersebut diwarnai dengan sesi bincang interaktif bersama Anwar Djaelani, penulis senior yang telah menerbitkan 13 judul buku sastra.
Dalam sesi tersebut, Anwar menyampaikan apresiasi atas keberanian para penulis perempuan mengangkat narasi tentang kesehatan mental yang selama ini kerap dianggap tabu.
“Buku ini bukan hanya karya sastra, tapi juga kontribusi sosial—menyuarakan bahwa kesehatan mental itu penting dan harus dirawat,” ujar Anwar.
Anwar juga mengapresiasi penerbitan buku kedelapan komunitas Pena Perajut Aksara karena menunjukkan konsistensi dalam melahirkan karya bermakna.
"Buku Aku (Tidak) Baik-Baik Saja) menjadi bukti bahwa suara perempuan, dari ruang-ruang sunyi sekalipun, punya kekuatan penyembuhan," katanya.
Editor : Ibnu Yunianto