Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Menarik! Ungkap Opini Kru dan Pemain Film Pengepungan di Bukit Duri, Kreator Ngelantur Indonesia: Ada Distorsi Realitas di Film Ini

Florensia Dita Dwi Kurnianti • Sabtu, 26 April 2025 | 18:35 WIB
BANYAK DIULAS :  Film Pengepungan di Bukit Duri. (istimewa)
BANYAK DIULAS : Film Pengepungan di Bukit Duri. (istimewa)

DENPASARradarbali.id - Film Pengepungan di Bukit Duri sangat menarik diulas. Tidak sedikit kreator yang memberikan ulasan. Simak sudut pandang dari kru dan juga para pemain tentang film ini.

Di tangan produser cantik Tia Hasibuan, film Pengepungan di Bukit Duri sukses merebut hati penikmat film Indonesia. Satu kalimat menarik hasil review milik channel YouTube Ngelantur Indonesia. “Ada distorsi realitas di film ini.”

Video review yang diunggah pada channel YouTube Ngelantur Indonesia pada 21 April 2025 ini sudah mencapai 248.659 penonton.

 Baca Juga: Film Thriller “Drop” Tayang di Beach Walk XXI Bali, Ini Jadwalnya!

Konten dengan judul “Katanya” Film ini Bisa Bikin Trauma…| Review & Penjelasan “Pengepungan di Bukit Duri” (2025) ini menjelaskan dari sudut pandang kreator.

Sisi menarik ini bisa diperkuat dengan penjelasan langsung dari sudut pandang kru dan juga para pemain film keren ini.

Dilansir dari channel YouTube Come and See Pictures, berikut beberapa opini yang diungkapkan langsung dari kru dan aktor film. Video ini diunggah pada 14 April 2025.

Sebelumnya sedikit mengulas kembali. Film Pengepungan di Bukit Duri bercerita tentang perjuangan Edwin mencari keponakannya yang hilang. Semata demi memenuhi permintaan terakhir sang kakak sebelum meninggal.

Dalam upaya pencariannya, Edwin akhirnya dihadapkan pada situasi berbahya. Ia dan para siswa terjebak di sekolah saat kerusuhan melanda. Memaksa mereka bertahan dalam situasi mengancam nyawa. Dibantu Diana, keduanya berusaha menyelamatkan para siswa.

Berbicara tentang pembuatan naskah, sang sutradara mengatakan bahwa skenario ini memang sengaja disimpan untuk waktu yang cukup lama. Ia sebut ini sebagai pad project buat tim.

“Pertama kali aku baca itu tahun 2008 dan ini adalah salah satu skenario yang memang kita simpan, bisa dibilang ini kayak pad project buat kita,” ucap Tia Hasibuan dikutip dari Channel Come and See Pictures.

Terkait pemilihan pemain, rupanya Joko Anwar cenderung menginginkan aktor yang tidak hanya jago akting, tapi juga memiliki kepedulian terhadap isu-isu sosial. Tujuannya agar memiliki daya kepekaan tentang kemanusiaan.

“Kita mencari para pemain yang peduli isu-isu sosial, pemain yang sensible,” tutur Joko Anwar, sutradara sekaligus penulis naskah.

Alasan itu sangat kuat dan relevan sebab dalam film setiap karakter digambarkan sebagai manusia seutuhnya. Tidak digambarkan sebagai predikatnya saja. Semua digambarkan sebagai orang yang terjebak dalam situasi yang tidak mereka inginkan terjadi.

Harapan dari sang sutradara tentang film ini adalah adanya kesadaran dari masyarakat tentang sisi lain nilai pendidikan. Tidak hanya berbicara nilai akademis, tapi juga soal membangun karakter dan empati. Ia ingin masyarakat berhenti melihat kekerasan di sekolah merupakan hal wajar.

“Saya ingin masyarakat lebih menyadari bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tapi juga soal membangun karakter dan empati. Kita perlu berhenti melihat kekerasan di sekolah sebagai sesuatu yang wajar atau sebagai bagian dari proses pendewasaan,” ungkap produser film.

Joko Anwar juga mengungkapkan keinginannya untuk menggunakan film ini sebagai pemantik diskusi, pemantik percakapan antara kita baik itu lingkaran kecil atau dalam circle yang lebih besar di negara kita.

Sang pemeran utama, Edwin menceritakan bahwa tokoh utama ini adalah adalah simbol dari seseorang yang kehilangan kepercayaan pada sistem. Pada akhirnya saat sang tokoh tumbuh dewasa, muncullah pertanyaan besar.

Mempertanyakan jika negara, hukum, dan masyarakat tidak peduli pada mereka yang menjadi korban, lalu siapa yang akan peduli dengan keadaan tersebut.

Morgan Oey menjelaskan bahwa film ini adalah hasil craftmanship yang sangat tinggi. Dedikasi para kru dan pemain untuk membangun dunia cinmatik yang harus terasa nyata. Kolaborasi yang harmonis antara sinematografi visioner dan production desain yang sukses menciptakan semesta Indonesia tahun 2027.

Ia merasa bangga sebab baginya ini sebuah tonggak bersejarah. Morgan berharap melalui film ini bisa membuka peluang baru untuk sinema Indonesia di panggung global.

Pemeran tokoh Diana menganggap bahwa sosok yang ia perankan merupakan refleksi dari banyak guru dan tenaga pendidikan di Indonesia yang memiliki niat baik tapi terjebak dalam sistem yang gagal.

Sudut pandang tokoh antagonis, Jefri cukup unik. Ia menjelaskan latar belakang seseorang bisa memilih menjadi kejam. Tokoh Jefri menjadi sosok brutal sebab menolak menjadi korban. Ia memilih menjadi seseorang yang ditakuti agar tidak lagi merasa rentan. Sosok Jefri beranggapan bahwa dunia ini adalah tempat yang kejam dan kelemahan hanya membuat dirinya dihancurkan dunia.

Keseruan saat proses syuting diceritakan pula oleh Hana Pitrashata Malasan, pemeran Diana. Sisi keseruan saat latihan fisik dan juga membangun chemistry dengan pemain lain.

Omara Esteghlal pemeran Jefri menceritakan bagaimana kedekatan cast film sudah seperti teman sekolah yang harmonis. Saat masuk lokasi dan adegan dimulai, berperan sebaliknya. Saling serang layaknya musik. Baginya itu bagian yang menarik.

“Ini adalah sebuah film dengan skala produksi yang masif. Kolaborasi perdana antara sebuah PH dari Asia Tenggara dengan studio legendaris Amazon MGM Studios. Kami sangat bangga. Kami dari Kamency Pictures bisa menciptakan kerja sama dengan sebuah Frozen Company yang bukan saja legendaris tapi juga memiliki brand sebagai Frozen Company yang memiliki film-film yang luar biasa,” tutur Morgan Oey.[*]

Editor : Hari Puspita
#film #review #ulasan #Pengepungan di Bukit Duri #bioskop