Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Mengenang 3 Tahun Kepergian Putu Indrawan: Eks Harley Angels itu Dikenang sebagai Penampung dan Pelaksana Ide Seniman Jalanan

Hari Puspita • Minggu, 11 Mei 2025 | 23:56 WIB
BACAKAN PUISI PENGHORMATAN : Wayan Jengki Snnarta membacakan puisi Warung Tresni untuk mengenang Putu Indrawan. (hari puspita/radar bali)
BACAKAN PUISI PENGHORMATAN : Wayan Jengki Snnarta membacakan puisi Warung Tresni untuk mengenang Putu Indrawan. (hari puspita/radar bali)

Sudah tiga tahun kepergian I Putu Indrawan. Di perhelatan musik mengenang berpulangnya eks pemain bas band rock Harley Angels ini, sejumlah seniman mengenangnya sebagai sosok penampung ide dan pelaksana acara seniman jalanan dalam ajang Dapur Olah Kreatif (DOK).

Warung Tresni (Untuk Putu Indrawan)

Di antara botol-botol bir kau bergumam

Hidup seperti meracik minuman

Kadang nikmatnya terasa hingga ujung waktu

Kadang agak pahit seperti getah perdu

Namun dalam adonan tipat kuah

Ada rasa gurih

Mengabadikan masa silam

Yang perlahan sirna

Ditelan deru kendaraan

 

Di sudut Warung Tresni

Bunyi gitar melengking mengiris senja

Suaramu lantang menyanyikan Gloria

Gelas bir saling berdentang

Di antara canda tawa pada sahabat

 

Tubuhmu ringkih

Menenteng botol bir

Tubuhmu bergoyang

Matamu nyalang

Menantang petang

Lagu demi lagu

Makin lantang

 

Di Warung Tresni, rumah terakhir musisi jalanan,

Aku menggurat kenangan pada meja-meja kayu

Menera rindu pada tembok batako

Dan debu di halaman selalu merayuku

Untuk kembali menghayati lagumu.

(Puisi Wayan “Jengki” Sunarta)

SEMAKIN sore menjelang petang, suasana semakin syahdu saja, terasa. Hari itu, Sabtu (10/5/2025). Sejumlah penyair dan musisi, seniman, hingga dokter seperti : Putu "Kabe" Gariyasa,Wayan “Jengki” Sunarta, Tan Lioe Ie, Erick EST, Oni Toelle, Muda Wijaya, Yoyok, Baron Basline, Darwin Doris Herebessie, Yande Subawa, Agung Bawantara, Putu Pramana, dan Kawan-kawan. Tampil bergantian membawakan nomor-nomor lagu classic rock.

“Ini sekadar acara mengenang kakak saya, karena kawan-kawan komunitas classic rock, blues, ingin kumpul-kumpul,” ujar Ketut "Gogonk" Pramana, adik mendiang Putu Indrawan, selaku pemrakarsa acara Remembering Putu Indrawan : 1960-2022, di New Warung Tresni, Jalan Muding Buit 10, Banjar Muding Klod, Kerobokan Kaja , Kuta Utara, Badung.

TAMPIL SILIH BERGANTI : Mengenang 3 tahun Putu Indrawan. (foto: Pande Suarsana untuk Radar Bali)
TAMPIL SILIH BERGANTI : Mengenang 3 tahun Putu Indrawan. (foto: Pande Suarsana untuk Radar Bali)

"Saya dari pagi sudah menyiapkan segala keperluan sound system untuk acara ini," ungkap Oni Toelle, gitaris yang juga merangkap panitia acara sukarela ini.

Seperti biasa, beragam kalangan penyuka classic rock dan blues tampil bergantian. “Lagu pemungkasnya nanti Gloria (lagu Gloria-nya The Doors),” ujar Chorul Amri Simabur, salah seorang jurnalis asal Tabanan yang juga kawan karib mendiang Putu Indrawan.

Dia me-request lagu. Ternyata lagu kesayangan almarhum itu sudah nongol duluan dibawakan.”Saya dulu ibarat “penjaga Warung Tresni” karena sehari-hari saya nongkrong di sana dan berkenalan dengan banyak kalangan, sebagai jurnalis,” kenang pewarta yang akrab disapa Kocong, gegara figur kartun Kocong ciptaannya ini.

Suasana cair. Mengalir begitu saja. Hingga sekitar pukul 16.35, giliran Wayan Jengki membacakan puisinya tentang Warung Tresni. Sebuah tempat nongkrong dengan sajian utama tpat kuah dan es daluman, di Jalan Drupadi, Denpasar (sekarang sudah tutup, jadi Alfa Mart).

“Di Warung Tresni, rumah terakhir musisi jalanan,

Aku menggurat kenangan pada meja-meja kayu

Menera rindu pada tembok batako

Dan debu di halaman selalu merayuku

Untuk kembali menghayati lagumu.”

Begitu antara lain tutur Wayan “Jengki” Sunarta dalam puisinya.

Hal senada juga disampaikan sutradara film Erick EST. “Saya akui, sejak dari masih kuliah di PSSRD (Program Studi Seni Rupa dan Desain,Unud) saya menemukan figur seorang kakak, yang legend pada diri almarhum Putu Indrawan. Karena Dia akrab dengan beragam kalangan dan punya gagasan-gagasan keren di luar dugaan,” jelasnya bertestimoni.

Salah satu acara di Warung Tresni yang sangat berkesan dan dikenang adalah Dapur Olah Kreatif alias DOK. Acara mingguan ini menyuguhkan panggung beragam kalangan.

Dari pelukis, hingga juru masak. Jadi bukan hanya musisi, penyair, saja, untuk tampil bermusik. “Itu acara yang brilliant. Karena bisa berlangsung setahun lebih,” terang Erick EST, mengenang sepak terjang almarhum musisi peraih gelar pemain bas terbaik festival rock se-Indonesia, versi Log Zhelebour ini.

Juga segala aktivitasnya dalam mewadahi komunitas classic rock dan blues. “Mungkin kita tidak terasa saat semua keadaan itu sedang berlangsung. Tapi, setelah Beliau meninggal, semua merasakan bagaimana Beliau merawat komunitas. Bagaimana memelihara persaudaran, kekeluargaan, persahabatan itu,” terang Erick.

Hingga selepas waktu maghrib, seusai alunan Trisandya lewat, suasana syahdu itu berlangsung bak suasana di Warung Tresni dulu. Di sejumlah sudut ruangan mereka bergerombol. Berdiskusi, ngobrol tentang apa saja. 

Dari meja-meja dan kursi itu, ide-ide digali. Dari secangkir kopi, segelas teh, air putih, atau bersloki-sloki ragam jenis  alkohol. Mereka menikmati dan larut dalam dialog beragam tema pembicaraan dan gagasan, hingga selepas malam, di momen mengenang 3 tahun berpulangnya seorang Putu Indrawan. [*]

Editor : Hari Puspita
#blues #seniman jalanan #putu indrawan #seniman #harley angels #Classic Rock