Sudah tiga tahun kepergian I Putu Indrawan. Di perhelatan musik mengenang berpulangnya eks pemain bas band rock Harley Angels ini, sejumlah seniman mengenangnya sebagai sosok penampung ide dan pelaksana acara seniman jalanan dalam ajang Dapur Olah Kreatif (DOK).
Warung Tresni (Untuk Putu Indrawan)
Di antara botol-botol bir kau bergumam
Hidup seperti meracik minuman
Kadang nikmatnya terasa hingga ujung waktu
Kadang agak pahit seperti getah perdu
Namun dalam adonan tipat kuah
Ada rasa gurih
Mengabadikan masa silam
Yang perlahan sirna
Ditelan deru kendaraan
Di sudut Warung Tresni
Bunyi gitar melengking mengiris senja
Suaramu lantang menyanyikan Gloria
Gelas bir saling berdentang
Di antara canda tawa pada sahabat
Tubuhmu ringkih
Menenteng botol bir
Tubuhmu bergoyang
Matamu nyalang
Menantang petang
Lagu demi lagu
Makin lantang
Di Warung Tresni, rumah terakhir musisi jalanan,
Aku menggurat kenangan pada meja-meja kayu
Menera rindu pada tembok batako
Dan debu di halaman selalu merayuku
Untuk kembali menghayati lagumu.
(Puisi Wayan “Jengki” Sunarta)
SEMAKIN sore menjelang petang, suasana semakin syahdu saja, terasa. Hari itu, Sabtu (10/5/2025). Sejumlah penyair dan musisi, seniman, hingga dokter seperti : Putu "Kabe" Gariyasa,Wayan “Jengki” Sunarta, Tan Lioe Ie, Erick EST, Oni Toelle, Muda Wijaya, Yoyok, Baron Basline, Darwin Doris Herebessie, Yande Subawa, Agung Bawantara, Putu Pramana, dan Kawan-kawan. Tampil bergantian membawakan nomor-nomor lagu classic rock.
“Ini sekadar acara mengenang kakak saya, karena kawan-kawan komunitas classic rock, blues, ingin kumpul-kumpul,” ujar Ketut "Gogonk" Pramana, adik mendiang Putu Indrawan, selaku pemrakarsa acara Remembering Putu Indrawan : 1960-2022, di New Warung Tresni, Jalan Muding Buit 10, Banjar Muding Klod, Kerobokan Kaja , Kuta Utara, Badung.
"Saya dari pagi sudah menyiapkan segala keperluan sound system untuk acara ini," ungkap Oni Toelle, gitaris yang juga merangkap panitia acara sukarela ini.
Seperti biasa, beragam kalangan penyuka classic rock dan blues tampil bergantian. “Lagu pemungkasnya nanti Gloria (lagu Gloria-nya The Doors),” ujar Chorul Amri Simabur, salah seorang jurnalis asal Tabanan yang juga kawan karib mendiang Putu Indrawan.
Dia me-request lagu. Ternyata lagu kesayangan almarhum itu sudah nongol duluan dibawakan.”Saya dulu ibarat “penjaga Warung Tresni” karena sehari-hari saya nongkrong di sana dan berkenalan dengan banyak kalangan, sebagai jurnalis,” kenang pewarta yang akrab disapa Kocong, gegara figur kartun Kocong ciptaannya ini.
Suasana cair. Mengalir begitu saja. Hingga sekitar pukul 16.35, giliran Wayan Jengki membacakan puisinya tentang Warung Tresni. Sebuah tempat nongkrong dengan sajian utama tpat kuah dan es daluman, di Jalan Drupadi, Denpasar (sekarang sudah tutup, jadi Alfa Mart).
“Di Warung Tresni, rumah terakhir musisi jalanan,
Aku menggurat kenangan pada meja-meja kayu
Menera rindu pada tembok batako
Dan debu di halaman selalu merayuku
Untuk kembali menghayati lagumu.”
Begitu antara lain tutur Wayan “Jengki” Sunarta dalam puisinya.
Hal senada juga disampaikan sutradara film Erick EST. “Saya akui, sejak dari masih kuliah di PSSRD (Program Studi Seni Rupa dan Desain,Unud) saya menemukan figur seorang kakak, yang legend pada diri almarhum Putu Indrawan. Karena Dia akrab dengan beragam kalangan dan punya gagasan-gagasan keren di luar dugaan,” jelasnya bertestimoni.
Salah satu acara di Warung Tresni yang sangat berkesan dan dikenang adalah Dapur Olah Kreatif alias DOK. Acara mingguan ini menyuguhkan panggung beragam kalangan.
Dari pelukis, hingga juru masak. Jadi bukan hanya musisi, penyair, saja, untuk tampil bermusik. “Itu acara yang brilliant. Karena bisa berlangsung setahun lebih,” terang Erick EST, mengenang sepak terjang almarhum musisi peraih gelar pemain bas terbaik festival rock se-Indonesia, versi Log Zhelebour ini.
Juga segala aktivitasnya dalam mewadahi komunitas classic rock dan blues. “Mungkin kita tidak terasa saat semua keadaan itu sedang berlangsung. Tapi, setelah Beliau meninggal, semua merasakan bagaimana Beliau merawat komunitas. Bagaimana memelihara persaudaran, kekeluargaan, persahabatan itu,” terang Erick.
Hingga selepas waktu maghrib, seusai alunan Trisandya lewat, suasana syahdu itu berlangsung bak suasana di Warung Tresni dulu. Di sejumlah sudut ruangan mereka bergerombol. Berdiskusi, ngobrol tentang apa saja.
Dari meja-meja dan kursi itu, ide-ide digali. Dari secangkir kopi, segelas teh, air putih, atau bersloki-sloki ragam jenis alkohol. Mereka menikmati dan larut dalam dialog beragam tema pembicaraan dan gagasan, hingga selepas malam, di momen mengenang 3 tahun berpulangnya seorang Putu Indrawan. [*]
Editor : Hari Puspita