DENPASAR,radarbali.jawapos.com – Kasus pemerasan dan pengancaman yang menjerat Nikita Mirzani nampaknya berdampak pada kehidupan artis janda tiga anak tersebut.
Setelah menjalani masa tahanan yang cukup panjang dan tak kunjung disidang, Nikita Mirzani nampak kebingungan dengan kasus yang ia hadapi.
Masa penahanannya kembali ditambah tiga puluh hari kedepan.
Penahanannya yang belum memiliki titik terang tersebut nampaknya berimbas kepada bisnis ibu tiga anak tersebut.
Ia yang dikenal memiliki sederet bisnis itu diisukan perlahan pemasukannya merosot turun tanpa dirinya.
Tak hanya soal bisnis bahkan film layar lebar yang ia bintangi sebelum berkasus pun terancam gagal tayang.
Film horor yang dibintangi Nikita Mirzani berjudul Syirik kabarnya diboikot netizen.
Hal tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi trending saat ini.
Netizen menganggap masalah hukum Nikita Mirzani terlalu fatal sehingga sosial harus memberikan ia sangsi dengan menolak karyanya.
Tujuan netizen melakukan hal itu adalah sebagai efek jera kepada semua artis yang gemar membuat huru-hara.
Aksi pemboikotan netizen terhadap karya Nikita Mirzani tersebut diharapkan bisa menjadi contoh agar tak diikuti oleh artis lainnya.
Banyak netizen yang mendukung aksi boikot tersebut dan terus menyuarakannya di media sosial.
“Nah bagus, biar ada efek jeranya, kalo mau aneh-aneh artis yang lain bisa mikir lima kali,” tulis netizen.
Tak hanya Nikita Mirzani film Syirik juag diperkuat dengan jajaran pemain papan atas seperti Teuku Rassya, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Totos Rasiti, Richelle Skornicki.
Film ini menjanjikan ketegangan yang menyayat dan refleksi spiritual yang mendalam. Dengan sentuhan budaya lokal seperti wayang kulit manusia, nuansa mistik dalam film ini terasa sangat khas Indonesia.
Film Syirik hadir bukan sekadar untuk menakut-nakuti, tetapi juga sebagai pengingat agar kita senantiasa waspada terhadap bentuk-bentuk syirik yang datang tanpa disadari.
Adapun jadwal tayangnya adalah pada Juni 2025, namun apakah aksi pemboikotan akan mempengaruhi penayangannya?.***
Editor : Desi Rabiati