Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Optimisme Arja Terus Hidup, Sebuah Kesenian Paling Sulit, Mengandung Filsafat, Padukan Tarian dan Nyanyian

Ni Kadek Novi Febriani • Rabu, 25 Juni 2025 | 12:37 WIB

 

PASANG SURUT: Arja adalah kesenian tua yang terus diberi napas. Meski kadang redup dan tumbuh.
PASANG SURUT: Arja adalah kesenian tua yang terus diberi napas. Meski kadang redup dan tumbuh.

DENPASAR, radarbali.jawapos.com Arja adalah kesenian tua yang terus diberi napas. Meski kadang redup dan tumbuh. Ratusan peserta yang didominasi anak muda, generasi z. Baik siswa SMK/SMA dan mahasiswa.

Selain pagelaran ada diskusi dengan menghadirkan empat pembicara dalam diskusi bertajuk Arja Tak Jadi Mati yang digelar di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar kemarin(24/6) serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB).

Diskusi dipandu oleh moderator Jero Penyarikan Duuran Batur, Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, Prof. I Made Suarta, menegaskan bahwa Arja tidak akan pernah mati.

 Baca Juga: Bahas Keamanan, Karo Ops Polda Bali Sebut Tajen Tanpa Perjudian Tidak Masalah, Lalu Bagaimana Mengemasnya, Ini Pendapat Dewan

"Sepanjang masih ada agama Hindu dan adat istiadat Bali, Arja akan tetap hidup. Penonton mungkin menurun, tapi napas Arja tetap ada," ujarnya.

Arja pertama kali muncul di Klungkung sekitar tahun 1814, dikenal dengan nama Arja Dadap, sebelum menyebar ke seluruh Bali.

Suarta mengatakan, arja kemudian masuk ke radio melalui RRI Denpasar berkat tokoh seperti Made Kredek, ayah dari Prof. Bandem.

”Dulu hanya sekadar balih-balihan (hiburan), kini menjadi bagian dari bebali (pertunjukan suci), bahkan sering dipadukan dengan upacara nedunang sesuhunan," tambah Prof. Suarta.

Sementara itu, Dosen ISI Denpasar, Ketut Kodi, menerangkan Arja memiliki kekuatan karena menggabungkan sastra, pupuh, bahasa Bali, dan nilai-nilai pranayama (pengendalian napas).

Arja paling sulit dibandingkan seni lainnya.”Ada tarian, gending, makna filsafat, gamelan, sampai harus mampu menjawab gending teman secara spontan," paparnya.

Ia pun berharap agar Arja di radio tetap dihidupkan dan meminta pemerintah Bali serius mempertahankan ruang siar tersebut.

Dalam ranah pertunjukan langsung, I Wayan Sudiarsa, dari Sanggar Gita Semara Peliatan optimismenya arja tak akan lekang oleh waktu. Meski harus bersaing dengan sinetron dan hiburan populer lain.

"Kami tetap pentas setiap enam bulan. Bahkan saat pandemi, kami merancang pertunjukan Arja Lingsar di Pura Desa Adat Ubud. Sajian Arja ini untuk nedunang sesuhunan, agar tak selalu dengan Calonarang," jelasnya.

Dalam pementasan Arja Lingsar sebelum diskusi dibawakan oleh Arja Gita Semara dari Desa Peliatan, Ubud, Gianyar menjadi penyaji karya, dengan konsep yang ditata oleh I Wayan Sudiarsa dan I Wayan Sukra, serta musik garapan Gamelan Suling Gita Semara.

Dalam pertunjukan ini, Arja dikemas sederhana, namun sarat makna.Dengan tema “Ruwat Gumi”, Arja Lingsar menyuarakan keresahan masyarakat Bali di tengah gempuran modernitas dan pariwisata.***

Editor : M.Ridwan
#pkb #kesenian #arja klasik #pesta kesenian bali