Pesta Kesenian Bali (PKB) jadi ruang pembaruan dengan inovasi-inovasi sarat imajinasi. Seperti pementasan Seni Neo-klasik Semar Pegulingan yang ditampilkan Sanggar Gita Swara Pertiwi, Desa Singapadu, Sukawati, Gianyar, menghidupkan gaya klasik diperkirakan sejak abad ke-18, dihidupkan dengan nuansa baru, sehingga dapat dinikmati lintas generasi.
ALUNAN gamelan Tabuh Kreasi Semar Pegulingan menjadi awal pementasan. Suara suling dan pukulan tiap bilah-bilah gamelan klasik itu membuat irama indah.
Penampilan pembuka dari Sanggar Gita Swara Pertiwi Tabuh Kreasi “Santarasa” ini bawa kesejukkan untuk penonton di tengah panasnya terik matahari di Kalangan Angsoka, Art Centre Pagelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, Selasa (2/7/2025).
Dalam etimologi “Santa” memiliki arti ketenangan, damai atau suci di hati. Sementara kata rasa berarti emosi atau jiwa. Diharapkan tabuhan Santarasa pada pergelaran PKB 2025 dapat memberikan ketenangan batin, kedamaian jiwa yang secara jujur dari hati.
Penampilan pertama Tarian Gita Swara Dewi merupakan gerakan askomik pengider buana bentuk persembahan terima kasih kepada ibu pertiwi telah memberikan kehidupan ini.
Bentuk keharmonisan alam semesta raya. Pertunjukkan kedua, Legong Cili yang menampilkan penari perempuan simbol dari kesuburan, kemakmuran, dan perlindungan spiritual.
Penampilan ketiga, mempersembahkan pategakkan palegongan"Sri Kesari” memiliki makna kekuatan dan kebijaksanaan. Selanjutnya, penampilan keempat Topeng Ganjen, dan pertunjukan kelima Bala Sangsi.
Terakhir adalah penampilan Kreasi Bebarisan Bala Sangsi mengenang kejayaan Kerajaan Sangsi dan juga bentuk penghormatan kepada pendahulu.
Dari sajian Sanggar Seni Gita Swara Pertiwi, PKB jadi upaya dalam pemulian alam, manusia dan kebudayaan Bali dengan sajian inovasi seni dan budaya.
Pendiri Sanggar Swara Pertiwi I Wayan Darya ditemui usai pergelaran, menjelaskan bahwa seni klasik yang telah memiliki dasar dengan nuansa-nuansa baru.
Yakni seni yang sudah punya dasar, pakem dan punya hukum-hukum tersendiri. Sedangkan neoklasik adanya perkembangan.
Gamelan Semar Pegulingan dari Desa Singapadu, Gianyar berbeda dari lazimnya karena memiliki laras yang agak rendah.
Tujuannya untuk membangun nuansa baru sehingga bisa menyatu berbagai jenis seni.”Sehingga ada pertopengan dan kekebyaran biar bisa masuk makanya pakai gamelan semar pegulingan laras rendah,”jelasnya
Lebih lanjut dituturkan, yang membedakan dengan seni klasik, seni neo-klasik Semar Pegulingan bisa ramah di telinga pendengar.
Baik orang tua maupun muda. Mereka ingin memperkenalkan gaya-gaya baru dari Semar Pegulingan, tidak hanya hanya bermain lagu Semar Pegulingan, tapi juga bisa yang lain seperti kekebyaran, pertopengan dan yang lain.”Tergantung bagaimana kami mengemasnya dalam menyajikan,” jelasnya.
Persiapan untuk pementasan sekitar setengah tahun untuk menyatukan semuanya. Menariknya, Tabuh kreasi Santarasa musik gamelan hasil cipta dan karsa anak-anak Singapadu.”Saya ingin anak muda punya wadah dan tempat untuk berkreativitas untuk tampil,” jelasnya.
Jumlah seniman terlibat 60 orang yang memang berasal Desa Singapadu. Usia masih muda, seperti yang menarikan Legong Cili masih duduk sekolah dasar (SD).”Yang Legong Cili masih kecil-kecil SD,” ungkap Darsa.
Selama persiapan enam bulan, Darya mengaku tidak ada kendala yang berarti. Para penabuh maupun penari tidak menemukan kerumitan. Hanya menyatukan kesatuan unsur antara tarian dan gamelan.
Hasil dari melodi dan ritme dihasilkan dapat diterima oleh penonton dari berbagai kalangan.”Olah-olahan ritme maupun melodi bisa dicerna. Tujuannya itu anak-anak bisa dengar, orang tua juga tidak hanya generasi kita (tua) saja,” imbuhnya dengan tawa.
Sementara itu, hadir menyaksikan Kurator PKB ke-47 yang juga seorang tokoh dan maestro Tari Bali, Prof I Wayan Dibia menjelaskan pementasan seni neo-klasik adalah pembaruan dari repertoar klasik yang diperbarukan sehingga dapat melihat dan merasakan tabuh Semar Pegulingan dengan nuansa-nuansa baru.
Ia memuji keberanian Sanggar Gita Swara pertiwi telah berhasil mengolah pembaharuan Semar Pegulingan merupakan gamelan klasik.
”Seni klasik yang dibarukan sehingga bisa dilihat tabuh pegulingan dengan nuansa baru,” ungkap Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Bali ini.
Prof. Dibia yang juga berasal dari Singapadu, Gianyar ini mengapresiasi pementasan seni neo-klasik Semar Peguling yang dibawakan oleh Sanggar Seni Gita Swara Pertiwi.
Walaupun penampilan sebatas hafalan, tapi telah memberikan hal baru. Harapannya akan terus dikembangkan supaya tidak ada stagnasi.”Sebab yang begini perlu penghayatan rasa. Tapi, sebagai pertunjukkan cukup menarik dan bagus bisa berikan hiburan kepada masyarakat serta memberikan hal yang baru,” jelasnya.
Salah satunya dalam tabuhan kreasi Santarasa, menurut Prof Dibia mampu memunculkan perasaan tenang dan damai. Memainkan melodi yang ganda dan sederhana ditumpuk sehingga menghasilkan alunan yang membuat hati luluh.
”Gamelan Klasik lama gamelan pegulingan salah satu repertoar klasik abad ke-18. Paling penting kedamaian Semar Pegulingan buat luluh terbawa sehingga PKB ruang perdamaian ”ujarnya.
Seniman muda Desa Singapadu, Gianyar diharapkan terus memperjuangkan kesenian Semar Pegulingan untuk terus menggali pembaharuan. Tidak berhenti pada pagelaran di PKB, tapi kreativitas dan inovasi pada kesenian terus berlanjut.
”Jadi kalau Cuma untuk ini (PKB) saja terhenti sampai sana saja. Kalau konsisten menawarkan repertoar seperti ini akan menjadi aliran yang baru,”harapnya.
Pementasan seni neo-klasik Semar Pegulingan telah sesuai dengan tujuan dari Pesta Kesenian Bali, karena dalam visi kurator, wajib proporsi 60 persen untuk pelestarian dan 40 persen pengembangan.
”Jadi ini sudah klop satu sajian ini. Klasiknya ada dan pembaruannya ada,” tandas Mantan Rektor ISI Bali ini. [ni kadek novi febriani]
Editor : Hari Puspita