RADAR BALI - Setiap tanggal 1 Agustus mungkin tidak selalu diperingati secara nasional, namun di Bali, hari tersebut bisa saja bertepatan dengan Kajeng Kliwon, salah satu rahinan (hari suci) yang dianggap sangat keramat oleh umat Hindu.
Kajeng Kliwon adalah momen penting yang terjadi setiap 15 hari sekali, yaitu saat bertemunya Tri Wara Kajeng dan Panca Wara Kliwon.
Dalam kepercayaan krama Bali, hari ini diyakini sebagai waktu meningkatnya kekuatan negatif, baik dari dalam diri manusia maupun dari luar.
Makna Kajeng Kliwon dalam Kehidupan Spiritual
Menurut kepercayaan umat Hindu di Bali, Sang Hyang Siwa turun ke dunia pada hari Kajeng Kliwon untuk menjaga keseimbangan alam sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia tak kasat mata).
Oleh karena itu, umat melakukan upacara Yadnya sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tujuannya adalah mengembalikan keseimbangan dari pengaruh buruk menjadi energi positif atau “somya”.
Upacara Kajeng Kliwon termasuk dalam jenis Dewa Yadnya, yang merupakan pemujaan kepada para dewa, khususnya Siwa, Durga Dewi, serta tiga Bhucari: Bhuta Bhucari, Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari.
Jenis-Jenis Kajeng Kliwon
Kajeng Kliwon dibedakan menjadi tiga kategori:
Kajeng Kliwon Uwudan – Dilaksanakan setelah bulan purnama (purnama).
Kajeng Kliwon Enyitan – Dilaksanakan setelah bulan mati (tilem).
Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh) – Khusus dilaksanakan setiap enam bulan sekali pada Minggu Pon Wuku Watugunung.
Pada hari Kajeng Kliwon, umat Hindu menghaturkan segehan dan tipat dampulan sebagai bentuk persembahan kepada alam semesta.
Segehan
Segehan berasal dari kata suguh (suguhan). Persembahan ini ditujukan kepada alam bawah atau bhuwana alit, yaitu kepada makhluk tak kasat mata agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
Segehan dihaturkan di sudut-sudut rumah, halaman rumah, sanggah atau merajan, dan pintu gerbang rumah.
Jenis segehan yang digunakan antara lain segehan cacah dan segehan mancawarna (lima warna: putih, merah, kuning, hitam, cokelat)
Tipat Dampulan
Tipat dampulan adalah ketupat berbentuk kura-kura yang terbuat dari janur, dilengkapi dengan ulam telur matang, raka-raka, dan sampian plaus yang berisi plawa, porosan, bunga, dan boreh miyik.
Tipat dampulan dipersembahkan kepada alam atas atau bhuwana agung, yakni alam para dewa.
Hari Angker dan Malam Sangkep
Kajeng Kliwon juga dikenal sebagai hari angker, karena diyakini menjadi waktu berkumpulnya Leak—pengamal ilmu gaib Pangliyakan dalam tradisi Bali.
Malam Kajeng Kliwon disebut sebagai malam sangkep, saat para pengamal spiritual berkumpul untuk melakukan pemujaan terhadap Siwa, Durga, dan Bhairawi.
Upacara ini sering dilakukan di lokasi-lokasi sakral seperti pura dalem, pura prajapati, dan ulun Setra (kuburan).
Hari Kajeng Kliwon, termasuk yang jatuh pada tanggal 1 Agustus, adalah hari keramat dalam kalender Bali. Ia bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari keseimbangan spiritual yang terus dijaga oleh umat Hindu Bali.
Melalui upacara, sesajen, dan pemujaan yang dilakukan, umat berharap alam semesta tetap harmonis, terhindar dari gangguan kekuatan negatif, dan keluarga senantiasa diberkati keselamatan. ***
Editor : Ibnu Yunianto