Seniman Suliyat Buamar kembali menggelar pameran tunggalnya yang ke-10 bertajuk "Ngudang Rasa." Pameran ini menampilkan karya-karya terbarunya yang merupakan hasil perenungan mendalam tentang memori masa lalu, dari masa kecilnya sebagai anak petani di lereng Gunung Semeru hingga perjalanan hidupnya sebagai seorang seniman di Ubud, Gianyar.
PAMERAN bertajuk "Ngudang Rasa", yang digelar 10 hingga 24 Agustus 2025 di Pedro Coffee and Artspace , Ubud,Gianyar, menjadi momen penting bagi Suliyat untuk "menimang rasa" dalam dirinya, sebuah proses menelaah kembali kenangan yang tersimpan dalam batinnya.
Nama pameran ini sendiri diambil dari Bahasa Kawi atau Jawa Kuno : ngudang yang berarti menimang, seperti orang tua menimang bayi dengan lantunan doa dan harapan, seperti seorang ibu atau bapak yang meninabobokan anaknya tercinta.
Sementara kata rasa dalam konteks Jawa memiliki makna mendalam, bukan hanya sekadar sebatas indra perasa saja. Melainkan suasana batin dan pengalaman personal yang menjadi penentu setiap tindakan.
Melalui pameran ini, Suliyat mengundang penikmat seni untuk ikut merasakan stimulasi rasa yang ia tuangkan di atas kanvas.
Sosok Suliyat terlahir dari keluarga petani penghasil kopi terbaik di lereng Gunung Semeru, Suliyat pertama kali datang ke Ubud, Gianyar, pada tahun 1995 silam.
Nah, suatu hari, dengan berberbekal tekad kuat dan uang Rp12 ribu hasil dari bekerja memlitur mebel, ia memutuskan merantau demi mewujudkan mimpinya menjadi seorang seniman.
Perjalanan Suliyat tidaklah mudah. Setibanya di Bali, ia harus berjuang untuk bertahan hidup, bahkan sempat hanya mampu membeli satu porsi nasi Padang seharga Rp2.500.
Ia memulai pekerjaan sebagai pemlitur mebel di industri rumahan, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti dan fokus sepenuhnya pada melukis.
Tekad kuatnya berbuah manis. Hingga kini, ia telah berhasil menggelar pameran tunggal kesepuluhnya dan aktif dalam berbagai kegiatan kesenian.
Melukis Kenangan dan Menghayati Hidup
Karya-karya yang dipamerkan Suliyat kali ini adalah cerminan dari ingatan masa kecilnya. Kanvas-kanvasnya bercerita tentang dinding-dinding bambu yang lapuk, rumah yang reyot, hingga tulisan tangan spontan di dinding jalan. Lebih dari itu, lukisannya juga menjadi kanvas harapan dan motivasi hidup yang ia "timang" dia kudang layaknya bayi.
Selain berkarya rupa, Suliyat dikenal sebagai sosok yang menghayati setiap laku hidupnya. Ia juga aktif dalam seni pertunjukan (happening art) dan mengabdikan diri sebagai pembimbing pencak silat, tradisi asli Nusantara yang mengajarkan tentang keseimbangan gerak, napas, tenaga, dan fokus.
Salah satu pelajaran penting dari pencak silat, "Papasan Laku," mengajarkan tentang penerimaan terhadap segala yang telah dan akan terjadi, sebuah filosofi yang juga tercermin dalam karya-karya Suliyat.
Karya-karya yang dipamerkan sebagian besar berupa lukisan akrilik di atas kanvas, dengan beberapa di antaranya dikombinasikan dengan media temuan seperti ranting dan dahan.
Menurut Kang Beki, seorang pelukis asal Gresik, Jawa Timur, karya Suliyat adalah layaknya sebuah pengembaraan pengalaman masa lalu yang telah berkontemplasi dan menyublimasi dengan kuat menyatu dalam jiwa raga yang mendalam." Ini adalah sebuah ekspresi intuisi personal yang bebas, di mana Suliyat mengejar jati dirinya melalui setiap sapuan kuasnya," terangnya.[*]
Editor : Hari Puspita