Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture: Dari Canggu Berkolaborasi Kemanusiaan Lintas Budaya Prancis -Indonesia

Marsellus Pampur • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 17:02 WIB
KOLABORASI SENI ANTARBANGSA: Pameran The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture digelar di rooftoop Ghe Luc Lifestyle. (Foto : Marsellus Pampur/Radar Bali)
KOLABORASI SENI ANTARBANGSA: Pameran The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture digelar di rooftoop Ghe Luc Lifestyle. (Foto : Marsellus Pampur/Radar Bali)

 

Hidup ini bisa bermanfaat bagi sesame bila kita mau melakukannya. The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture, sebuah pameran seni yang menampilkan kolaborasi dua seniman lintas budaya, resmi dibuka di The Luc Lifestyle Bali, Canggu, Kuta Utara.

PAMERAN  ini menghadirkan karya-karya dari Mickaël, seniman asal Prancis, dan Untoro, seniman asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang kini menetap di Bali.

Pameran ini dibuka oleh sosok tokoh politik nasional, Ganjar Pranowo, pada Jumat (22/8/2025), dengan kekhasan gaya masing-masing.

Mickaël dikenal dengan karya mozaiknya, sementara Untoro mengusung gaya ekspresionis.

Dalam pameran ini, Untoro menghadirkan 22 karya yang bertema alam dan satwa. "Saya prihatin melihat perubahan alam dan budaya yang begitu cepat, serta masalah sosial dan lingkungan yang luar biasa," ungkap Untoro.

Menurutnya, karya-karyanya adalah bentuk kegelisahannya terhadap kondisi lingkungan saat ini.

Pria berusia 52 tahun ini menambahkan, dipilihnya Canggu sebagai lokasi pameran adalah untuk mengubah persepsi publik.

"Canggu bukan hanya tempat untuk berpesta. Kami ingin menunjukkan bahwa Canggu juga bisa menjadi destinasi alternatif bagi penikmat seni, selain Ubud," jelasnya.

Kolaborasi Berawal dari Kekaguman

Sementara itu, Mickaël menjelaskan bahwa kolaborasinya dengan Untoro berawal dari kekagumannya terhadap karya Untoro.

"Saya melihat karya Untoro begitu menarik dan penuh warna," ujar Mickaël. Keduanya bertemu di Canggu dan sepakat untuk menggelar pameran bersama.

Pameran ini tidak sekadar menjadi ajang menampilkan karya seni. Ada misi sosial yang diusung. Sebagian dari hasil penjualan karya seni akan disumbangkan kepada Plastic Angels, sebuah organisasi yang peduli terhadap anak-anak di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar.

Kepedulian ini juga tercermin dalam karya-karya Mickaël. Sebagian besar lukisan mozaiknya mengangkat tema anak-anak, bahkan beberapa di antaranya menampilkan wajah anak-anak dari TPA Suwung.

Mozaik-mozaik tersebut dibuat dari sampah sandal dan mainan yang dikumpulkan Mickaël dari beberapa pantai di Bali, memberikan makna mendalam pada setiap karyanya.Pameran The Art of Harmony: Living Earth, Living Culture berlangsung hingga 22 September 2025.[*]

 

Editor : Hari Puspita
#canggu #Seni Rupa #pameran lukisan #kolaborasi seni