DENPASAR,radarbali.jawapos.com – Aksi demo DPR yang berlangsung ricuh sejak 25 Agustus 2025 hingga sekarang menyisakan tangis masyarakat bawah.
Bagaimana tidak hingga detik ini korban luka dan meninggal makin bertambah.
Tak hanya masyarakat yang dibikin geram dengan kerucuhan ini namun para selebriti tanah air mulai berani angkat bicara.
Artis yang biasanya berada di pihak pemerintah kini satu persatu meluapkan kekesalannya.
Para influinser yang kerap kali dibayar untuk menyuarakan kepentingan pemerinta saat ini tegas tak lagi ingin dibayar.
Salah satu selebriti sekaligus influinser ternama yang menyatakan sikap menolak segala bentuk bayaran menyuarakan kepentingan pemerintah adalah Jerome Polin.
Jerome Polin baru-baru ini meluapkan kekesalannya saat dirinya ditawari menjadi buzzer dengan bayaran 150 juta.
Ia mengunggah sebuah foto percakapan dengan seorang yang menawarkannya menjadi buzzer.
Adapun isi kesepakatan menjadi buzzer adalah dengan mengunggah video di media sosialnya yang berisikan tentang kebaikan rezim dan aparat yang saat ini tengah bentrok dengan masyarakat.
Dengan tegas Jerome menyebutkan bahwa 150 juta adalah uang dari pajak masyarakat yang digunakan untuk membayar buzzer.
Jerome juga menyebutkan 150 tersebut lebih efisien dan bermanfaat jika disumbangkan pada guru honorer.
Sikap tegas Jerome tersebut sontak menuai sorotan publik dan ia mendapat dukungan penuh.
Sayangnya hal kurang menyenangkan justru terjadi usai dirinya membongkar tawaran menjadi buzzer tersebut.
Jerome dalam unggahan terbarunya menyebutkan utkan dirinya mendapat ancaman dan intimidasi dari pihak terkait karena membongkar kedok mereka.
Tak hanya dirinya bahkan ia diancam akan mengintimidasi keluarganya.
Tak mau tinggal diam, Jerome pun membagikan kekesalannya tersebut kepada netizen dan meminta publik untuk mengawal dirinya serta menjadi saksi.
Ia juga menghimbau pada teman-teman selebritinya agar berhenti menerima tawaran rezim untuk hal yang merugikan masyarakat kecil.
Tak hanya Jerome, banyak artis juga menghimbau hal serupa sebagai sikap tegas melawan rezim.***
Editor : Desi Rabiati