Manusia seringkali pongah sebagai makhluk yang bukan hewan. Padahal seorang filsuf, Aristoteles, sudah mengingatkan bahwa "manusia adalah binatang yang bermasyarakat" atau zoon politicon. Manusia juga seringkali membabi buta dengan kerakusan melahirkan budaya korupsi, memunculkan elitisme oligarki, dan menindas. Beda dengan hewan, yang hanya sebatas mengisi perut saat lapar saja. Bukan menumpuknya. Bung Tiok mengingatkan lewat “Kawanku Kewan-Kewan”.
RENUNGAN mendalam tentang hubungan manusia dan hewan ini diangkat oleh seorang seniman, yang akrab disapa Bung Tiok, dalam pameran tungisan terbarunya bertajuk "Kawanku Kewan-Kewan". Melalui 19 karya kanvasnya, di Pedro Café Art Space, Ubud, Gianyar, 7-21 September 2025, Bung Tiok mengajak kita untuk bercermin pada kejujuran dan ketulusan 'kawan-kawan' hewannya.
Inspirasi dari Rumah Singgah
Kisah ini berawal dari sebuah kota kecil di lereng Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa. Sejak kecil, rumah Bung Tiok telah menjadi "rumah singgah" bagi ratusan burung merpati, beberapa kucing, tupai, kelinci, ayam, hingga ikan. Ia tumbuh besar dengan persahabatan tak biasa bersama para hewan ini.
Kebiasaan itu berlanjut hingga kini. Bersama sang istri, Rosalina, ia merawat lebih dari 40 kucing yang diselamatkan dari jalanan. Kucing-kucing yang awalnya menderita penyakit akut atau dibuang itu kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga mereka.
"Kami mencintai mereka sepenuh hati," ujarnya, menjelaskan bagaimana ia dan istrinya merawat dan membawa hewan-hewan ini ke dokter hewan. "Kehidupan bersama hewan-hewan ini telah mewarnai hari-hari kami, mengajarkan tentang rasa syukur dan makna hidup."
Selain kucing, mereka juga memelihara burung kenari dan ikan. Kedekatan inilah yang menginspirasi Bung Tiok untuk menciptakan karya seni yang memanusiakan 'binatang' dan mengingatkan manusia akan sisi kebinatangan mereka sendiri.
Makna di Balik "Kawanku Kewan-Kewan"
Judul pameran ini, "Kawanku Kewan-Kewan", diambil dari idiom bahasa Jawa yang berarti "Kawanku Hewan-Hewan". Namun, di balik itu, ada pesan yang lebih dalam.
"Bisa jadi maknanya saya akrab dengan banyak hewan, dan mereka adalah bagian dari keluarga kami. Atau bisa juga, memiliki makna bahwa teman saya banyak yang 'kewan' atau binatang," ucap Bung Tiok sambil tertawa.
Tawa itu menyimpan ironi. Ia berkelakar, "Lebih baik berbicara dengan hewan daripada harus berdialog dengan sesama manusia." Pernyataan ini lahir dari perenungannya bahwa komunikasi antarmanusia seringkali didasari oleh kepentingan, kecurigaan, dan persaingan, sementara dengan hewan, komunikasi hanya berlandaskan pada insting saling menyayangi.
Bung Tiok melihat kejujuran pada hewan yang sering kali luput dari pandangan manusia. Sebuas apa pun karnivora, mereka hanya makan seperlunya dan tidak pernah serakah menimbun makanan. Mereka tidak memiliki sifat munafik untuk menutupi kerakusannya.
Candaan yang Penuh Makna
Dalam karyanya, Bung Tiok menggunakan gaya surealis dan penuh warna, jauh dari kesan muram. Ia ingin menyajikan candaan dan keriangan di tengah dunia yang dipenuhi kepalsuan dan kemuraman.
Salah satu karyanya, "Panic Song", menggambarkan sejumlah ayam jago yang terlihat gelisah di tengah latar Gunung Semeru yang meletus. Lukisan ini menunjukkan kepekaan Bung Tiok terhadap kepanikan hewan peliharaan di tengah bencana alam.
Melalui "Poisoned Garden", ia mengingatkan tentang keseimbangan ekosistem dan bahaya penggunaan racun yang merusak lingkungan. Sementara itu, karya "Ecce Homo" mengajak kita merenung tentang kesombongan manusia yang lupa akan sesamanya, sebuah gagasan yang seolah terinspirasi dari filsuf eksistensialis Friedrich Wilhelm Nietzsche.
Pada akhirnya, Bung Tiok mengajak kita untuk berkaca pada ketulusan hewan, makhluk yang seringkali menjadi bahan ejekan dan makian. Ironisnya, manusia sering berperilaku lebih hina daripada satwa yang menjadi bahan sumpah serapahnya.
Lewat karyanya, Bung Tiok mengingatkan bahwa Homo Sapiens adalah makhluk yang merasa sempurna dan cenderung meremehkan apa pun di luar dirinya, padahal kejujuran dan ketulusan sejati bisa kita temukan pada “kawan-kawan” hewan di sekitar kita.[*]
Editor : Hari Puspita