RADAR BALI — Di tengah kesibukan dunia digital dan derasnya arus informasi, komunitas literasi Pena Perajut Aksara (PPA) asal Sidoarjo menghadirkan napas segar bagi dunia menulis.
Mereka meyakini bahwa literasi bukan hanya tentang merangkai kata di atas kertas, tetapi juga tentang mengalami, merasakan, dan memaknai kehidupan secara langsung.
Akhir pekan ini, komunitas PPA menggelar kegiatan “Jalan-Jalan Literasi: Menulis dari Perjalanan” di Kota Malang.
Tidak seperti kegiatan literasi pada umumnya yang digelar di ruang seminar, perjalanan kali ini mengajak para penulis untuk menjelajah dua lokasi inspiratif — Pasar Oro-Oro Dowo dan kawasan pegunungan Bumi Aji — sebagai ruang belajar dan sumber inspirasi nyata.
“Kami ingin para penulis belajar dari kehidupan. Setiap tempat punya cerita, setiap perjalanan punya makna itulah bahan bakar sejati bagi tulisan,” ujar Melati Hutagaol, Founder Pena Perajut Aksara, saat obrolan di titik awal perjalanan.
Belajar Inspirasi dari Pasar Tradisional yang Modern
Perjalanan dimulai dari Pasar Oro-Oro Dowo, salah satu pasar tertua di Malang yang kini bertransformasi menjadi pasar wisata dengan wajah bersih, tertata, dan penuh warna.
Di sinilah para anggota PPA diajak menyelami cerita-cerita dari para pelaku UMKM lokal yang menghidupkan semangat ekonomi kreatif kota.
Salah satu titik kunjungan yang menarik perhatian peserta adalah stan milik Bu Yanti, pemilik @Yanticollection, yang menampilkan aneka tas anyaman kekinian hasil karya tangan-tangan kreatif warga sekitar.
Tas-tas ini memadukan bahan alami seperti pandan dan enceng gondok dengan desain modern yang kini mulai dikenal hingga ke pasar internasional.
Dalam sesi dialog singkat, Bu Yanti berbagi kisah tentang proses kreatif dan perjuangannya mempertahankan kerajinan tradisional di tengah tren mode global.
“Kami ingin menunjukkan bahwa produk lokal juga bisa berkelas. Setiap anyaman adalah cerita, dan setiap tas membawa doa dari pembuatnya,” ujar Bu Yanti penuh haru.
Dari hiruk pikuk pasar, rombongan Pena Perajut Aksara kemudian melanjutkan perjalanan ke kawasan Bumi Aji, daerah pegunungan di Malang yang terkenal dengan udara sejuk dan kebun apelnya yang hijau membentang.
Kali ini, para peserta tidak hanya menjadi penulis, tetapi juga penjelajah, menaiki jeep terbuka yang melaju di jalur berbukit.
Suasana riang dan penuh tawa mengiringi perjalanan. Angin pegunungan berhembus lembut, sesekali menyapu halaman catatan yang terbuka di pangkuan.
Dari atas jeep, pemandangan lembah dan hamparan kebun menjadi sumber ide yang tak habis-habisnya.
“Ternyata menulis tidak harus diam di rumah. Di atas jeep pun inspirasi bisa datang,” ujar Nisa, salah satu anggota PPA sambil tersenyum.
Melalui kegiatan ini, Pena Perajut Aksara ingin menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan akademis, melainkan cara hidup, cara untuk memahami dunia dan diri sendiri.
Menulis tidak hanya dilakukan di ruang sunyi, tetapi juga bisa tumbuh dari tawa, perjalanan, dan perjumpaan dengan manusia lain.
“Kami ingin setiap anggota membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar tulisan. Kami ingin mereka membawa cerita, pengalaman, dan semangat baru untuk terus merajut aksara dalam kehidupan,” tutur Melati diakhir kegiatan.
Kegiatan “Jalan-Jalan Literasi” ini menjadi bukti bahwa literasi dapat hidup di mana saja di pasar yang ramai, di jalanan berdebu, di udara pegunungan yang dingin selama ada kepekaan untuk melihat dan hati yang mau menulis.
Dan dari perjalanan ke Oro-Oro Dowo dan Bumi Aji, para penulis PPA membuktikan satu hal sederhana namun bermakna:
Setiap langkah adalah kalimat, setiap perjalanan adalah paragraf, dan setiap pengalaman adalah kisah yang menunggu untuk dirajut menjadi aksara.***
Editor : Ibnu Yunianto