Ini momen yang tidak setiap hari ada. Di tengah kemeriahan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Jembrana, ada sebuah ritual permainan yang selalu dinantikan: berputarnya ayunan tradisional Banjar Nusasakti. Bukan sekadar wahana, ayunan kayu kuno mirip ayunan jantra yang di Taman Ayun,Mengwi, ini adalah penanda waktu, sebuah ikon abadi bagi Desa Nusasari, Kecamatan Melaya.
MOMEN itu selalu dinanti warga. Khususnya anak-anak. Maklum, ayunan ini hanya memperlihatkan pesonanya selama empat hari setiap enam bulan sekali.
Setiap enam bulan, tepat pada Hari Raya Galungan, Manis Galungan, Kuningan, dan Manis Kuningan, ayunan ini seolah bangun dari tidur panjangnya.
Momen langka inilah yang menjadikannya magnet. Sejak pagi, anak-anak, baik dari warga sekitar maupun dari desa-desa tetangga, sudah berkumpul dan mengantre panjang di pelataran Banjar.
“Datang ke sini cuma mau naik ayunan ini,” ujar Dava, salah satu pengunjung cilik yang tampak sabar menunggu gilirannya.
Ayunan ini bukan digerakkan oleh mesin modern, melainkan oleh kekuatan tradisi dan tenaga manusia. Berbahan utama kayu, wahana sederhana ini dirancang khusus untuk anak-anak dengan kapasitas maksimal delapan orang.
Di sana, sudah ada petugas khusus yang dengan sigap dan terampil mengayunkan tali, membuat para penumpang cilik melayang tinggi, menciptakan tawa riang yang memecah kesunyian desa.
Sensasi unik inilah yang membuat Ayunan Nusasakti berbeda dari wahana modern. Dengan membayar sejumlah tiket, anak-anak mendapatkan waktu khusus untuk merasakan gembira dalam pusaran tradisi.
Lebih dari sekadar permainan, Ayunan Banjar Nusasakti menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan ingatan masa lalu dengan kebahagiaan masa kini, mengingatkan semua orang akan kesederhanaan dan kemeriahan sejati dalam perayaan Galungan dan Kuningan.
Ayunan ini adalah bukti nyata bahwa tradisi sederhana pun mampu melahirkan daya tarik yang tak lekang dimakan waktu.[*]
Editor : Hari Puspita