Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Lukisan "Petani Mengungsi": Jeritan Hati Perupa Ubud,Gianyar, tentang Sawah Terusir Beton

Marsellus Nabunome Pampur • Senin, 24 November 2025 | 00:01 WIB
LUKISAN SUARA HATI : Lukisan Petani Mengungsi karya I Wayan Mardika. (marsellus pampur)
LUKISAN SUARA HATI : Lukisan Petani Mengungsi karya I Wayan Mardika. (marsellus pampur)

 

Ironis, memang. Di tengah hiruk pikuk pameran Omhara Kailasha Exhibition 2025 di Museum Puri Lukisan, Ubud, Gianyar, sebuah karya kecil berukuran 25 x 38 cm berhasil menarik perhatian. Bukan karena ukurannya, melainkan karena narasi pedih yang dibawanya: sebuah lukisan berjudul "Petani Mengungsi."

LUKISAN  ini adalah suara dari perupa lokal Banjar Keliling Kawan, Ubud, I Wayan Mardika, yang menumpahkan kekhawatiran mendalamnya terhadap laju alih fungsi lahan yang kini memagari Pulau Dewata.

Ketika Sawah Berubah Menjadi Beton

Lukisan yang dibuat dengan gaya tradisi miniatur Keliki Kawan Style ini bukan sekadar gambar, melainkan sebuah metafora visual tentang Bali hari ini. Mardika melihat ironi yang terjadi di sekitarnya.

“Lukisan ini menceritakan tentang alih fungsi lahan yang sangat pesat. Banyak sawah, kebun, ladang, berubah menjadi bangunan permanen yang menjulang tinggi,” jelas Mardika, Jumat (21/11/2025).

Dampaknya terasa langsung pada para petani. Tempat yang dulunya subur sebagai sawah penanam padi, ladang berkebun, atau tempat mencari pakan ternak, kini telah banyak yang berubah menjadi "beton yang keras." Para petani, yang selama ini mengais rezeki dari tanah, kini seperti "diusir" atau "mengungsi" dari sumber kehidupan mereka sendiri.

Tergerak oleh fenomena ini, Wayan Mardika memutuskan untuk menyampaikan kekecewaannya melalui kuas dan tinta. Ia menjelaskan bahwa pesannya bukanlah penolakan terhadap perkembangan pariwisata, melainkan sebuah ajakan kolektif.

"Melalui lukisan ini, saya bukannya tidak menerima perkembangan ataupun kemajuan pariwisata. Hanya saja, saya mengajak kita semua untuk menjaga bahwa yang hijau tetaplah hijau. Jangan dialihfungsikan," tegasnya.

Teknik Miniatur yang Penuh Pesan

Meskipun pesannya berat, "Petani Mengungsi" disajikan dengan teknik tradisional yang rumit. Karya ini dibuat melalui tiga tahapan utama. Yakni:

Sketsa pensil sebagai pondasi. Teknik drawing pen untuk mempertegas garis dan Pewarnaan dan penebalan menggunakan tinta cina.

Mardika berharap, lukisan ini dapat menjadi pengingat kolektif bagi masyarakat Bali dan pemangku kepentingan.

“Lukisan ini untuk mengingat kita semua akan pentingnya untuk memperhatikan keberlangsungan budaya di Bali. Karena tidak bisa dipungkiri subak [sistem irigasi tradisional Bali] adalah salah satu akar budaya Bali,” tutupnya.

Melalui sapuan tinta di atas kanvas, I Wayan Mardika telah mengubah kekhawatiran pribadi menjadi sebuah kritik sosial yang mendesak, mengingatkan bahwa di balik kemegahan pariwisata, ada akar budaya dan pertanian yang kian terancam.[*]

Editor : Hari Puspita
#kritik sosial #Ubud Gianyar #Seni Rupa #pameran lukisan #lukisan