Di tengah hiruk pikuk perubahan dan derasnya arus digital, sekelompok seniman di Bali memilih metode paling jujur untuk merekam waktu: sketsa. Mereka adalah anggota Urban Sketchers (USk) Bali, komunitas yang baru saja merayakan usia ke-13 dengan sebuah pameran besar, sekaligus menjadi ajang reuni, meditasi, dan misi sosial bagi para anggotanya.
TAK kurang, sebanyak 331 karya sketsa bertajuk “The Story of Indonesia” dipajang di aula rumah makan Masa-Masa, Desa Ketewel, Sukawati, Gianyar.
Pameran ini akan berlangsung selama sebulan lebih, mulai dari Sabtu (22/11/2025) hingga 17 Januari 2026, menjadi etalase cerita suka duka yang dilalui para sketcher selama lebih dari satu dekade.
Jurnalisme Visual dan "Memori terhadap Space"
Bagi para anggotanya, sketchbook bukanlah sekadar buku gambar, melainkan sebuah diary harian dalam bentuk visual. Krishna Adithya, Advisory Board USk Bali, menunjukkan sebuah buku sketsa tebal yang merekam setiap objek yang pernah disinggahi.
"Tidak harus pintar menggambar untuk menjadi bagian kami. Ini semacam jurnalis dalam bentuk sketsa," ujar Krishna.
Ciri khas dari komunitas ini adalah aktivitas membuat sketsa secara berkelompok di lokasi outdoor (di luar ruangan).
"Yang penting jalan minimal tiga orang, sudah bisa disebut urban sketcher," jelasnya. Mereka tidak harus fokus pada objek utama, tetapi bisa merekam hal-hal kecil di sekitarnya, seperti pohon, gapura, atau bahkan makanan.
Krishna mengenang bagaimana sketsa-sketsa mereka kini menjadi rekaman berharga bagi Bali. "Sket ini memberi memori terhadap space. Misalnya, gambar meru yang sekarang sudah tidak ada lagi. Bahkan, pasar yang mulai menghilang. Ini disebut memori," ungkapnya.
Apresiasi Tinggi dan Rasa Kebersamaan
Komunitas ini juga pernah mencicipi apresiasi yang tinggi. Krishna bercerita, pameran pertama yang digelar tiga tahun lalu secara sederhana di depan pantai Sanur pernah menarik pembeli dengan harga yang fantastis.
"Dulu pernah ada yang membeli sketsa kami. Harganya dari ratusan ribu, juga ada yang sampai belasan juta. Kami jual karya asli," kenangnya. Harga ini, menurutnya, adalah bentuk penghargaan tertinggi (privilege) bagi sang pencipta karya.
Lebih dari sekadar seni, USk Bali adalah wadah kebersamaan. Founder USk Bali, Rudy Hao, merasakan adanya ikatan kuat di komunitas ini.
"Kita senang bisa kumpul, sambil ngopi. Kumpulkan gambar secara menyenangkan," kata Rudy. Ia menambahkan, seringkali sketsa yang dibuat hanya dalam 15 menit bisa menghasilkan gambar yang luar biasa memuaskan karena didukung oleh situasi dan mood yang bagus.
"Meditasi" dan Misi Kemanusiaan
Bagi Ketua USk Bali, I Gusti Putu Adithya Gunawan, aktivitas sketching adalah sebuah pelarian yang positif.
"Aktivitas sketcher bagi saya sebagai meditasi. Lepas dari kerjaan di digital marketing. Lepas dari keseharian," kata Adithya. Ia menyamakan proses berkarya di atas kertas seperti bermain puzzle yang terus memunculkan hal baru.
Sudarman Angir, brand ambassador dari Stillman and Birn, menegaskan bahwa komunitas ini sudah seperti keluarga. Ia mengenang bagaimana pengurus USk di Singapura pernah mengurus anggota yang sakit, mulai dari apartemen hingga rumah sakit.
USk Bali juga memiliki misi sosial. "Kita nyeket, dilelang lalu disumbang," ungkap Sudarman, merujuk pada kegiatan fun racing yang mereka gelar.
Sudarman juga menutup dengan sebuah filosofi penting tentang urban sketcher: setiap seniman memiliki ciri khas yang berbeda, bahkan saat menggambar objek yang sama.
"Dalam satu tempat atau objek yang sama, maka punya gaya berbeda. Kita tidak catat semuanya. Ada yang mencatat makanan (sket), misalnya," urainya. Sketsa yang dihasilkan itu kemudian diwarnai, menjadikannya rekaman abadi yang kaya akan gaya dan imajinasi unik sang sketcher.[*]
Editor : Hari Puspita