DENPASAR, radarbali.jawapos.com — Perayaan tahun ke-5 Sastra Saraswati Sewana 2025, Yayasan Puri Kauhan Ubud meluncurkan buku Brahmasara Bhawana Mukti sekaligus menampilkan garapan tari kontemporer Ma Samua dari Tanzer Dance Company.
Dua agenda ini menjadi penanda kuat bahwa Bali tengah menapaki jalan baru: memadukan akar tradisi dengan kecanggihan teknologi untuk peradaban masa depan.
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, menegaskan, tema tahun ini—Brahmasara Bhawana Mukti: Teknologi untuk Kemajuan Peradaban—lahir dari kesadaran dunia tengah bergerak cepat dalam pusaran revolusi teknologi.
Dari mesin uap pada gelombang pertama yang mengagetkan Ronggowarsito, kini manusia menghadapi lompatan era 4.0: kecerdasan buatan, robotik, hingga realitas virtual yang merambah ruang privat terdalam.
"Sebagai orang Bali, kita harus eling lan waspada,” ujarnya. Ari Dwipayana mengingatkan pesan Prof. Ida Bagus Mantra, orang Bali harus menjaga harga diri dan jati dirinya di tengah serbuan budaya teknologi dari luar. “Teknologi jangan sampai mencabut dari akar. Justru harus menjadi kendaraan baru menuju bhawana mukti," ucapnya.
Selain peluncuran buku, ada juga pementasan tari kontemporer Ma Samua, karya terpilih dalam kompetisi garapan kreatif yang diselenggarakan Yayasan Puri Kauhan Ubud. Karya ini dipilih oleh tim juri berpengalaman: Prof. I Wayan Dibia, Prof. Komang Sudirga, Tjokorda Raka Kerthyasa, A.A. Ariawan, dan Made Sidia."Kami tidak hanya mengajak berkompetisi, tetapi juga berbagi ilmu agar peserta tumbuh bersama,” ujar Ari.
Buku Brahmasara Bhawana Mukti adalah hasil pergulatan pemikiran setahun penuh, melibatkan para Wiku dalam forum Dharma Panuntun serta dialog antara undagi, pande, sangging, arsitek, dan para penggiat teknologi modern. Benang merahnya satu: memastikan teknologi menjadi alat pemulia kebudayaan, bukan penghancurnya.
Generasi muda Bali diminta tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan pencipta yang memanfaatkan teknologi demi kemajuan seni dan budaya. Sinergi antara pelestari budaya dan pelaku teknologi disebut menjadi kunci—antara undagi dan arsitek, pande dan startup, pengayah adat dan programmer.
Ari Dwipayana menekankan pentingnya membangun Ekosistem Teknologi Berbasis Kebudayaan, termasuk proyek besar digitalisasi dan dokumentasi budaya Bali dalam basis data terpadu.
“Dari kita, oleh kita, untuk kita.” Pementasan ini bukan sekadar atraksi, melainkan pesan penting bahwa seni dan budaya Bali mampu bertransformasi tanpa tercerabut dari spiritualitasnya. “Ini ruang baru bagi ekosistem seni Bali, tempat tradisi bertemu inovasi kreatif," tegasnya.
Yayasan Puri Kauhan, yang lahir dari tradisi Usadhi Desa Ubud, berkomitmen terus mendukung riset dan pengembangan gagasan kebudayaan, serta mendorong seniman muda bereksperimen dan berinovasi. “Bali dapat menjadi pusat inspirasi dunia—tempat di mana kearifan lokal berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi," tandasnya.
Sastra Saraswati Sewana 2025 pun tidak hanya menjadi acara literasi, tetapi tonggak penting pertemuan antara tradisi, seni, dan teknologi—sebuah arah baru bagi kebudayaan Bali menuju masa depan.***
Editor : M.Ridwan