Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ketika Sang "Patih Agung" itu Berpulang: Si Pembawa Nyawa Pertunjukan Kini Menuju Panggung Keabadian

Ida Bagus Indra Prasetia • Jumat, 9 Januari 2026 | 12:25 WIB
LEGENDA PANGGUNG DRAMA GONG : Seniman drama gong Prof. I Wayan Sugita tutup usia. (istimewa)
LEGENDA PANGGUNG DRAMA GONG : Seniman drama gong Prof. I Wayan Sugita tutup usia. (istimewa)

 

Panggung drama gong Bali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Prof. Dr. I Wayan Sugita, M.Si., seniman ikonik yang selama puluhan tahun menghidupkan karakter "Patih Agung" yang tegas dan berwibawa, telah tutup usia. Namun, di balik jubah kebesaran panggungnya, ia meninggalkan jejak kasih sayang yang mendalam bagi keluarga di Banjar Bukit Batu, Samplangan.

TIGA  hari sebelum mengembuskan napas terakhir, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Ni Nyoman Kembar Sriasih,47, adik kandung almarhum. Tidak ada firasat besar, hanya sebuah perhatian tulus dari seorang kakak sulung kepada adiknya yang disabilitas.

"Kakak sempat kirim pesan WA, minta saya jaga kesehatan dan tidak boleh gemuk," kenang Sriasih dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di rumah duka, Gianyar.

Bagi Sriasih, Prof. Sugita bukan sekadar akademisi bergelar Guru Besar atau seniman besar. Ia adalah sosok pengayom dari delapan bersaudara yang selalu menyempatkan diri "pulang". Di sela kesibukannya mengajar di UHN I Gusti Bagus Sugriwa atau berkeliling pentas, almarhum hampir selalu mampir ke rumah masa kecilnya setiap kali menempuh perjalanan dari Bangli atau Klungkung.

Mengalir di Nadi, Abadi di Panggung

Bakat seni Prof. Sugita bukanlah kebetulan. Darah seni itu mengalir deras dari sang ayah, almarhum Ketut Merta, yang juga dikenal sebagai pemeran Patih Agung Barak. Seolah meneruskan tongkat estafet, Sugita menjelma menjadi figur sentral dalam jagat drama gong sejak tahun 1984.

Meski tidak mengenyam pendidikan seni formal, dedikasinya tak tertandingi. Namanya mulai melambung saat menyabet gelar Pemeran Pria Utama Terbaik dalam Festival Drama Gong Remaja se-Bali. Sejak saat itu, panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) menjadi saksi bisu ketegasannya. Ia sukses menakhodai berbagai kelompok besar seperti Bintang Remaja Gianyar hingga Bandana Budaya meraih kejayaan di level tertinggi.

Harmoni Seni dan Akademik

Kehidupan Prof. Sugita adalah sebuah harmoni yang langka. Di satu sisi, ia adalah seniman rakyat yang dicintai penonton drama gong lintas generasi. Di sisi lain, ia adalah cendekiawan yang tekun. Puncaknya, pada Oktober 2023, ia berhasil meraih gelar tertinggi akademik sebagai Guru Besar.

Kini, sosok Patih Agung yang kuat itu telah tiada. Rencananya, jenazah almarhum akan dikremasi di wilayah Bali Timur sesuai kesepakatan keluarga. Ia meninggalkan istri tercinta, Ni Wayan Sukasih, serta dua orang anak yang mengikuti jejak pengabdiannya di dunia pendidikan dan pelayanan publik.

Selamat jalan, Sang Patih Agung. Layar panggung mungkin telah tertutup, namun petuah dan karakter tegasmu akan selalu melekat dalam ingatan krama Bali.[*]

Editor : Hari Puspita
#kesenian tradisional #Seniman Panggung #Legenda Seni Panggung #dosen #drama Gong