Di bawah temaram lampu galeri The 101 Bali Oasis, Sanur, Kamis (15/1/2026) malam, Ngurah KK berdiri di depan kanvas-kanvasnya yang riuh. Namun, di balik keriuhan warna-warna cerah itu, ada sebuah percakapan sunyi tentang kerinduan.
SENIMAN gaek asal Desa Penestanan, Ubud, ini sedang melakukan perjalanan pulang. Bukan pulang ke rumah fisiknya, melainkan pulang ke ingatan masa kecilnya; sebuah era di mana Bali bukan sekadar destinasi, melainkan sebuah "Surga" yang murni.
Baca Juga: Dari Pameran Lukisan Komang Bayu Selama Pandemi: Andalkan Teknik Serba Pecut Lidi
Melalui pameran tunggal bertajuk "Naive Art: Melukis Surga", Ngurah KK menghidupkan kembali aliran Young Artist Style yang telah membesarkan namanya. Ia mencoba merekam kembali bayang-bayang alam Bali yang kini mulai memudar tertutup hutan beton.
Baca Juga: Gus Purwa dan Artotel Sanur Gelar Pameran Lukisan Berjudul AWAK
"Dulu, saya melihat Bali benar-benar seperti surga. Saat saya kecil, alamnya murni, asri, dan jujur," kenang Ngurah dengan tatapan mata yang menerawang.
"Sekarang, perubahan alam tidak bisa dibendung. Melalui lukisan ini, saya berharap setidaknya ada bagian dari alam Bali yang tetap terjaga dalam ingatan." Imbuhnya.
Goresan Polos di Tengah Kepungan Beton
Gaya Naive Art yang ia usung bukanlah sekadar teknik, melainkan cerminan kejujuran. Tanpa beban perspektif yang rumit, Ngurah KK menyapukan warna-warna berani dan garis-garis tegas yang spontan. Figur-figur dalam karyanya menangkap denyut nadi pedesaan: petani yang sedang bercengkerama, interaksi sosial yang hangat, hingga harmoni spiritualitas yang kental.
Bagi Ngurah, Penestanan bukan hanya titik koordinat di peta Gianyar. Penestanan adalah ruang hidup yang sederhana namun kaya nilai. Di tangannya, keseharian masyarakat desa yang tampak biasa berubah menjadi sebuah mahakarya yang agung.
Namun, karya-karya ini juga membawa pesan satir yang halus. Kontras antara kanvasnya yang hijau subur dengan kondisi luar galeri yang kini mulai sesak oleh bangunan permanen menjadi pengingat bagi setiap pengunjung. Ia seolah berbisik bahwa "Surga" itu kini terancam.
Merawat Karunia Keindahan Bali
Pameran ini bukan sekadar pameran estetika, melainkan sebuah manifestasi cara pandang. Bahwa kehidupan sehari-hari—sesederhana apa pun itu—adalah surga jika kita mampu merawat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Melalui pameran ini, Ngurah KK tidak hanya memamerkan warna, ia sedang menitipkan pesan bagi generasi mendatang: agar jangan sampai Bali yang asri hanya bisa ditemukan di atas kanvas, bukan lagi di dunia nyata. [*]
Editor : Hari Puspita