RADAR BALI - Tren konsumsi hiburan masyarakat Indonesia, khususnya di Bali, mulai menunjukkan pergeseran yang signifikan. Jika dalam beberapa tahun terakhir Drama Korea (Drakor) menjadi "kiblat" utama di berbagai platform streaming, kini Drama Cina atau C-Drama mulai merebut hati penonton dewasa, terutama kalangan ibu-ibu.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Berdasarkan pantauan di berbagai grup media sosial hingga percakapan di komunitas ibu rumah tangga di lingkungan perumahan, rekomendasi judul C-Drama kini lebih mendominasi dibandingkan drama dari Negeri Gingseng tersebut.
1. Durasi dan Kuantitas Episode yang Memuaskan
Berbeda dengan K-Drama yang biasanya terbatas pada 12 atau 16 episode, C-Drama seringkali memiliki 30 hingga 40 episode. Bagi penonton yang menyukai pengembangan cerita yang mendalam dan ingin "hidup" lebih lama bersama karakter favoritnya, durasi panjang ini memberikan kepuasan tersendiri.
"Ibu-ibu itu suka cerita yang pelan tapi dalam. Ada konflik keluarga, perjuangan hidup, dan nilai kesabaran yang lebih terasa karena episodenya banyak," ujar Siti Aminah (45), seorang ibu rumah tangga
2. Estetika Visual "Xianxia" dan "Wuxia" yang Unik
C-Drama memiliki genre khas seperti Xianxia (fantasi dewa-dewi) dan Wuxia (pendekar bela diri) yang tidak dimiliki industri film negara lain. Kostum yang megah, set lokasi yang puitis, dan sinematografi dunia fantasi Tiongkok memberikan pengalaman visual yang eksotis dan berbeda dari drama modern Korea.
3. Alur Cerita yang Lebih Ringan dan "Escapism"
Meskipun dramaturgi Korea dianggap lebih matang dan berani dalam mengangkat isu sosial yang berat, banyak orang beralih ke C-Drama karena mencari hiburan yang ringan. Drama romance Tiongkok seringkali fokus pada alur yang manis (sweet treats) tanpa konflik yang terlalu menguras emosi secara menyakitkan.
4. Frekuensi Rilis yang Sangat Cepat
Industri hiburan Tiongkok memproduksi konten dalam jumlah yang masif. Hampir setiap minggu ada judul baru yang rilis dari berbagai genre. Hal ini membuat penonton tidak pernah kehabisan stok tontonan, berbeda dengan K-Drama yang produksinya cenderung lebih selektif dan memakan waktu lama.
5. Karakter Pria yang Sangat Ideal (The "Green Flag" Lead)
C-Drama seringkali menggambarkan karakter utama pria yang sangat setia, protektif, dan mendukung pasangan secara total (sering disebut sebagai karakter green flag). Penggambaran cinta yang ideal dan tanpa syarat ini menjadi daya tarik kuat bagi penonton wanita.
6. Dubbing Voice yang Ikonik
Meskipun awalnya aneh bagi pemula, penggunaan pengisi suara (dubbing) profesional di C-Drama sebenarnya membantu emosi karakter tersampaikan lebih stabil. Suara-suara aktor pengisi suara terkenal di Tiongkok seringkali memiliki kualitas vokal yang sangat merdu dan menambah karisma karakter.
7. Kemajuan Pesat Teknologi CGI
Untuk genre fantasi dan sejarah, Tiongkok melakukan investasi besar-besaran pada efek visual. Pemandangan istana di atas awan atau pertarungan sihir kini terlihat semakin halus dan kompetitif, bahkan mampu menyaingi standar produksi internasional.
8. Adaptasi Novel Web (IP) yang Populer
Banyak C-Drama diangkat dari web novel (IP - Intellectual Property) yang sudah memiliki jutaan penggemar fanatik. Cerita yang sudah teruji popularitasnya di platform digital ini memastikan bahwa drama tersebut memiliki basis massa yang kuat sejak sebelum ditayangkan.
9. Aksesibilitas di Platform Streaming Global
Aplikasi seperti WeTV, iQIYI, dan Youku sangat agresif dalam menyediakan takarir (subtitle) berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dalam waktu yang sangat cepat. Kemudahan akses ini membuat C-Drama lebih dekat dengan audiens lokal di Asia Tenggara.
10. Nostalgia dan Kedekatan Budaya
Bagi penonton di Asia, unsur-unsur dalam C-Drama seperti nilai-nilai keluarga, penghormatan kepada orang tua, dan mitologi timur terasa lebih dekat secara personal. Ada rasa nostalgia bagi generasi yang dulu tumbuh dengan serial seperti Siluman Ular Putih atau Kera Sakti yang kini dikemas secara modern.
Persaingan Selera, Bukan Dominasi Tunggal
Meskipun C-Drama tengah naik daun, bukan berarti Drakor kehilangan taringnya. Drama Korea tetap bertahan dengan basis penggemar kuat di kalangan remaja dan generasi muda yang menyukai isu sosial kontemporer.
Pengamat media digital Andi Prasetyo menilai fenomena ini sebagai pendewasaan selera penonton. "Ini bukan soal siapa mengalahkan siapa, tapi soal selera yang semakin beragam. C-Drama berhasil mengisi ceruk penonton dewasa yang menginginkan nilai keluarga dan cerita panjang," jelasnya.
Dengan semakin mudahnya akses melalui ponsel pintar, persaingan antara drama Mandarin dan Korea diprediksi akan membuat industri hiburan Asia semakin berwarna di tahun-tahun mendatang.***
Editor : Ibnu Yunianto