Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kala Literasi dan Jalanan Melebur di Emper Library, Denpasar

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 23 Januari 2026 | 03:35 WIB
EKPRESIKAN GAGASAN : Eksibisi graffiti dari PAW dan SMOTS Denpasar. (ist)
EKPRESIKAN GAGASAN : Eksibisi graffiti dari PAW dan SMOTS Denpasar. (ist)

 

Suara desis semprotan cat kaleng bersahut-sahutan, memecah keheningan di bangunan baru Emper Library, Denpasar, Selasa (30/12/2025). Di balik kepulauan warna yang mulai menyentuh dinding, sebuah percakapan mengalir pelan namun sarat makna.

HARI itu, dinding-dinding polos tidak lagi sekadar pembatas ruang, melainkan bertransformasi menjadi kanvas kolektif dalam sebuah hajatan bertajuk "New Fear Party".

Bagi Emper Library, rumah baca independen yang getol menyuarakan diskursus publik, acara ini bukan sekadar pameran seni jalanan biasa. Tapi menjadi  titik temu yang ganjil namun intim antara literasi dan street art, antara wacana akademik yang kaku dan praktik jalanan yang liar, serta antara kegelisahan personal dan realitas sosial.

Logika Sebelum Menumpahkan Warna

Sebelum sepuluh seniman—Suak, Ciggy, Doby, Sorunone, Phand Paw, Alfanmtv, Masbe Bemas, J3smoon, Dvza, dan Rioma—menghujamkan warna ke tembok, mereka diajak "mendaki" logika melalui diskusi bertajuk “Mengindera Realitas”.

Menariknya, pemantik diskusi bukanlah praktisi seni, melainkan Adyarsa Narendra (seorang psikolog UGM) dan Adang Rusmana (praktisi filsafat UGM). Narendra menekankan bahwa ketidaktahuan adalah bahan bakar eksplorasi.

BERBAGI GAGASAN : Diskusi New Fear Party. (ist)
BERBAGI GAGASAN : Diskusi New Fear Party. (ist)

“Berangkat dari ketidaktahuan itu penting. Justru dari sana muncul proses eksplorasi dalam membaca dan merespons lingkungan,” ujarnya.

Sementara dari kacamata filsafat, Adang Rusmana menantang para seniman untuk memikirkan legacy atau warisan. Ia membedah bahwa street art harus berani mempertanyakan arahnya sendiri agar tidak kehilangan jati diri di tengah hiruk-pikuk kota. Kehadiran tokoh seperti Ferry Moll dari Surabaya dan Kang Yuda Thukul dari Denpasar semakin mempertebal bobot dialog antar-disiplin tersebut.

Kolaborasi Tanpa Sekat

Uniknya, kolaborasi ini berjalan dengan semangat kemandirian yang murni. Emper Library menyediakan seluruh material, lokasi, hingga konsumsi, sementara para seniman dari komunitas PAW dan SMOTS (Small Movement on The Street) diberikan kemerdekaan mutlak. Tidak ada tema visual yang mengikat. Satu-satunya benang merah hanyalah keberanian untuk merespons realitas.

“Banyak seniman jalanan yang punya kegelisahan, tapi jarang punya ruang diskusi. Di sini kami tidak hanya menggambar, tapi juga diajak berpikir bersama,” tutur Fandy dari komunitas PAW.

Hasilnya memukau. Tembok Emper Library kini menjadi galeri terbuka yang ciamik. Visual yang dihasilkan bukan sekadar pemanis mata; ada pesan-pesan mendalam yang terselip di antara lekuk grafiti teks dan objek-objek mural yang hidup.

Haji Egez, penggagas acara sekaligus pegiat Emper Library, menegaskan bahwa perpustakaan ini harus menjadi ruang hidup. "Bukan hanya tempat membaca buku, tetapi juga membaca realitas melalui berbagai medium, termasuk mural dan grafiti," ungkapnya.

Baginya, mendekatkan literasi kepada generasi muda memerlukan bahasa yang lebih cair dan jujur. Street art, dengan segala kejujurannya di ruang publik, adalah medium yang tepat untuk memecah stigma bahwa ruang baca selalu identik dengan suasana formal dan sunyi.

Di tengah Denpasar yang kian padat oleh papan iklan dan beton, New Fear Party menjadi pengingat penting: bahwa dinding kota bisa menjadi medium dialog, dan seni jalanan adalah bentuk literasi visual yang kritis.

Perjumpaan ini bukan hanya tentang mempercantik bangunan, melainkan upaya merebut kembali ruang publik sebagai ruang belajar dan ruang untuk mengindera realitas secara kolektif.

Dinding itu kini telah bicara, dan siapapun yang melintas di depannya, kini dipaksa untuk "membaca". [*]

Editor : Hari Puspita
#street art #seni jalanan #Seni Rupa #kolaborasi seni