Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Anak-anak Sekolah Dasar Mewarnai di Bulan Bahasa Bali VIII/2026, Atma Kerthi Diterjemahkan Lewat Warna

Ni Kadek Novi Febriani • Jumat, 6 Februari 2026 | 09:47 WIB
SEMANGAT: Siswa SD lomba mewarnai Lantai I Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu (4/2/2026). (Panitia Bulan Bahasa Bali ke VIII)
SEMANGAT: Siswa SD lomba mewarnai Lantai I Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu (4/2/2026). (Panitia Bulan Bahasa Bali ke VIII)

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Kreativitas anak-anak sekolah dasar mewarnai di Lantai I Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu (4/2/2026).

Wimbakara Melukis Satua Bali yang digelar serangkaian Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 berlangsung semarak dan menunjukkan peningkatan kualitas peserta.

 Suasana lomba terasa serius namun penuh imajinasi. Anak-anak telah siapkan konsep dari rumah, baik secara mental maupun teknis menggambar.

Dewan juri, Prof. Dr. Drs. I Wayan Karja, MFA., menilai lomba tahun ini menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski jumlah peserta tercatat 100 anak dan 12 di antaranya tidak hadir, kesiapan peserta justru dinilai jauh lebih matang.

“Begitu lomba dimulai, mereka langsung menggambar. Tidak ada lagi terlihat bingung atau mencari ide. Ini menandakan peningkatan minat dan keseriusan mengikuti lomba,” ujarnya didampingi juri I Gusti Ngurah Agung Yuda Putra, S.Ds., M.Ds., dan Putu Wahyu Wirayuda, S.S.

Tema Atma Kerthi yang diusung dinilai cukup menantang, namun mampu dijawab peserta dengan lugas melalui karya visual. Menurut Prof. Karja, pemahaman anak-anak terhadap tema semakin sensitif dan mendalam.

Pengaruh perayaan Siwaratri yang baru berlalu juga tampak kuat dalam karya peserta. Banyak lukisan mengangkat kisah Lubdaka, menggambarkan konsekuensi karma secara simbolik dan berani.

Meski demikian, beberapa peserta masih mengangkat tokoh Manik Angkeran yang menjadi tema lomba tahun sebelumnya.

Dari sisi teknis, peningkatan terlihat jelas pada pengolahan warna dan perspektif. Anak-anak dinilai semakin dewasa dalam memadukan warna serta memahami cara tangkap visual tradisional.

Bahkan, terdapat karya yang menafsirkan konsep atma secara ekstrem, seperti sosok yang tergantung di bambu petung sebagai simbol karma.

“Itu menunjukkan keberanian gagasan. Anak-anak tidak sekadar meniru, tapi menafsirkan cerita dengan imajinasi mereka sendiri,” jelasnya.

Keberagaman media juga menjadi nilai tambah. Peserta menggunakan pastel, cat air, spidol, hingga teknik campuran yang menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan seni rupa masa kini.

“Ini keunggulan generasi sekarang. Mereka berani bereksperimen dan itu patut dicatat sebagai potensi besar seni Bali ke depan,” pungkas Prof. Karja.

Editor : Rosihan Anwar
#Bulan Bahasa Bali