Di sebuah sudut Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City, sebuah lukisan tentang ritual Ngaben dan Tari Jauk mencuri perhatian pengunjung. Goresan teksturnya tegas, warnanya emosional, dan narasinya dalam. Namun, siapa sangka, sang maestro di balik karya tersebut, Made Wahyu Senayadi ,40, tidak pernah benar-benar "melihat" hasil akhir karyanya dengan mata telanjang.
BAGI Wahyu, melukis bukan sekadar urusan visual. Ia adalah perjalanan rasa, sentuhan, dan imajinasi yang melampaui kegelapan total yang ia alami sejak lahir.
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tahun 2012 ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah tembok penghalang. Dalam pameran bertajuk "Semburat Bali" yang berlangsung hingga 22 Maret mendatang, Wahyu menampilkan tiga karya monumental bertema Spirit Gotong Royong.
"Dari kecil saya sudah hidup di lingkungan seni ukir di Desa Belayu. Melukis sudah menjadi bagian dari diri saya," ujar Wahyu saat ditemui pada Sabtu (8/2/2026).
Bagi pria yang pernah membawa karyanya hingga ke San Francisco, Amerika Serikat pada 2025 lalu ini, melukis adalah bentuk art therapy. Di tengah dunianya yang sunyi dari cahaya, setiap goresan kuas berfungsi sebagai penyembuh dan penyeimbang batin.
Melukis di Atas Kanvas Imajinasi
Proses kreatif Wahyu adalah sebuah keajaiban teknik. Tanpa penglihatan, ia mengandalkan kepekaan rasa saat mencampur warna dan kekuatan tekstur untuk mengenali objek di atas kanvas. Ia seolah "menghidupkan" dunia di dalam pikirannya sebelum memindahkannya ke jari-jemari.
Selama empat bulan, ia meramu tiga lukisan yang berkisah tentang kedalaman spiritual masyarakat Bali: ritual memandikan jenazah, Ngaben, dan dinamika Tari Jauk.
"Dalam kehidupan, manusia tidak bisa berdiri sendiri. Bahkan saat mati pun, kita butuh bantuan orang lain. Begitu juga saya dengan keterbatasan ini, selalu membutuhkan spirit kebersamaan," ungkapnya filosofis.
Pesan untuk Sesama
Tantangan terbesar Wahyu bukan hanya bersaing dengan seniman berfisik sempurna, tetapi juga kepuasan batin saat ia tidak bisa memverifikasi hasil karyanya secara visual. Namun, ia menemukan kepuasan itu melalui respons penikmat seninya.
Kepada sesama penyandang disabilitas, Wahyu menitipkan pesan yang kuat: "Meski tak bisa melihat dengan mata, kita bisa melihat dengan hati. Keterbatasan tidak boleh membuat patah semangat. Teruslah berjuang dan berkarya," tegasnya.
Bagian dari Ekosistem Kreatif Bali
Kurator pameran "Semburat Bali" menjelaskan bahwa kehadiran Wahyu bersama 11 seniman lainnya adalah upaya untuk menunjukkan realitas sosial dan budaya Bali yang beragam. Pameran ini tidak mendefinisikan Bali sebagai sesuatu yang final, melainkan menawarkan sudut pandang jujur dari pengalaman hidup para senimannya.
Pameran di Nuanu Creative City ini menjadi ruang pertemuan antara seniman seperti Wahyu dengan publik, membuktikan bahwa seni adalah bahasa universal yang tidak butuh mata untuk bisa dimengerti—hanya butuh hati untuk dirasakan.[juliadi/radar bali]
Editor : Hari Puspita