Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Ogoh-Ogoh "Mulat Sarira": Saat Perwujudan Tak Lagi Sosok Butha Kala, Namun Cermin Retak Manusia Bali

Juliadi Radar Bali • Rabu, 18 Februari 2026 | 13:49 WIB
AJAK MERENUNG : Penampakan ogoh-ogoh figur manusia "Mulat Sarira" Karya dari STT Banjar Sanggulan Indah (BSI), Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri Tabanan. (juliadi/radar bali).
AJAK MERENUNG : Penampakan ogoh-ogoh figur manusia "Mulat Sarira" Karya dari STT Banjar Sanggulan Indah (BSI), Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri Tabanan. (juliadi/radar bali).

 

Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948, yang nantinya jatuh pada 19 Maret 2026, sejumlah ogoh-ogoh terus dikebut penyelesaiannya oleh sekaa teruna teruni (STT). Seperti karya ogoh-ogoh STT Banjar Sanggulan Indah (BSI), Desa Banjar Anyar, Kediri, Tabanan. Kali ini bukan figur seram mengerikan raksasa yang jahat, tetapi sosok manusia yang idenya berasal dari kondisi beragam masalah yang ada di Bali hari ini.

AWAN tipis mulai menggantung di langit Jalan Tukad Unda sekitar pukul 18.00 Wita. Di sebuah sudut Banjar Sanggulan Indah (BSI), Desa Banjar Anyar, Kediri, suasana sisa acara "Gerebek Banjar" masih terasa.

Namun, di tengah kesibukan muda-mudi STT BSI yang sedang bersih-bersih, sebuah pemandangan tak lazim mencuri perhatian.

Bukan sosok Butha Kala bertaring panjang atau raksasa menyeramkan yang sedang dipersiapkan. Di sana, sebuah figur manusia berukuran raksasa mulai menampakkan wujudnya. Ia duduk terdiam di atas bongkahan kayu yang terpotong. Jari telunjuknya menempel di kening, sebuah gestur universal bagi seseorang yang sedang dirundung pening atau perenungan mendalam.

Karya itu diberi judul "Mulat Sarira", dengan tagline yang getir sekaligus menampar: "Sing Ngidank Ngomong Ape" (Tak Bisa Berkata Apa-apa).

Protes Sunyi di Tengah "Kaliyuga"

Sosok di balik konsep berani ini adalah Wayan Sudarma Putra, atau yang lebih dikenal dengan nama Nano Uhero. Seniman instalasi anyaman bambu lulusan ISI Yogyakarta ini sengaja membawa keresahannya terhadap realitas Bali hari ini ke dalam wujud ogoh-ogoh.

Bagi Nano, Bali saat ini sedang berada dalam pusaran masalah yang pelik. Mulai dari sampah yang mengepung, kemacetan yang mengular, hingga alih fungsi lahan yang tak terkendali. Belum lagi urusan perilaku wisatawan dan human error yang kian sering terjadi.

"Semua masalah ini menjadi satu kesatuan, menjadi bencana yang nyata. Sebagian orang mungkin melihat ini sudah seperti zaman Kaliyuga," tutur seniman berusia 50 tahun tersebut dengan nada serius.

Melalui gestur diam sang ogoh-ogoh, Nano ingin menyampaikan pesan agar manusia Bali berhenti saling menyalahkan. Menurutnya, manusia adalah subjek sekaligus objek dari alam itu sendiri. Saat alam rusak, manusia tak bisa cuci tangan.

"Mulat Sarira adalah pesan introspeksi. Berpikir, merenungkan apa yang salah. Harapannya, agar kita bisa menjadi lebih baik ke depan," tambahnya.

Kembali ke Akar: Bambu dan Kertas

Sejalan dengan filosofi "Mulat Sarira" yang berarti kembali melihat ke dalam diri, material yang digunakan pun sangat dekat dengan alam. Tidak ada penggunaan styrofoam yang mencemari lingkungan.

Struktur dasar ogoh-ogoh setinggi 4 meter ini menggunakan kayu, yang kemudian dibalut dengan anyaman bambu nan artistik. Untuk detail kulit dan tekstur, Nano memanfaatkan sisa kertas koran, plester kertas, hingga tisu yang dipadukan dengan pewarnaan cat.

"Semua bahan berasal dari alam," ungkap Nano. Nantinya, figur manusia raksasa ini akan tampil lebih hidup dengan balutan kain (kamen) dan tengkuluk (penutup kepala) kain sungguhan, memberikan kesan realis yang kuat.

Pengerjaan karya ambisius ini telah berjalan selama tiga minggu dan ditargetkan rampung dua minggu sebelum Hari Raya Nyepi tiba. Saat ogoh-ogoh lain mungkin akan berteriak lewat rupa yang menyeramkan, "Mulat Sarira" milik STT BSI akan hadir dalam kesunyian, mengajak setiap orang yang memandangnya untuk sejenak berhenti dan bertanya pada diri sendiri: “Apa yang telah kita lakukan pada tanah ini?”.[*]

Editor : Hari Puspita
#butha kala #nyepi #tabanan #ogoh-ogoh #hari raya nyepi #malam pengerupukan