Di Bali, ombak bukan sekadar fenomena alam yang pecah di pesisir. Bagi anak-anak pantai, ia adalah ruang hidup, kawah candradimuka tempat karakter ditempa, sekaligus rahim bagi identitas mereka. Dari riuh rendah kultur pantai inilah muncul nama Bagus Made Irawan, sosok yang lebih akrab disapa “Piping”.
CERITANYA, jauh hari sebelum Instagram merajai layar ponsel dan aksi peselancar bisa dinikmati dalam hitungan detik, dunia surfing adalah dunia yang "sunyi" di luar garis pantai.
Kisah-kisah epik di atas papan selancar sering kali lenyap begitu saja, terkubur bersama hempasan ombak yang kembali ke laut.
Piping, yang mengawali jejaknya sebagai anak pantai penyuka selancar, menyadari hal itu. Pergaulannya dengan wisatawan mancanegara membuka gerbang baru: fotografi. Bermodalkan kamera, ia mulai mengabadikan momen yang selama ini hanya menjadi ingatan sekilas.
Puncaknya terjadi pada tahun 1999 saat ia terlibat dalam majalah Surf Time, hingga akhirnya mendirikan Magic Wave. Media ini bukan sekadar tabloid; ia adalah panggung bagi para peselancar lokal yang selama ini jarang tersentuh media arus utama.
Di tangan Piping, surfing bukan hanya soal olahraga, melainkan sebuah budaya yang memiliki roh.
Nostalgia di Warung Kubukopi
Kini, fragmen-fragmen sejarah yang sempat terekam di lembaran Magic Wave kembali "berdenyut". Sebanyak 15 karya foto Piping dipajang dalam pameran di Warung Kubukopi (18–28 Februari).
Menariknya, pameran ini juga menyisipkan satu karya dari Wayan Grandong, asisten pribadi Piping yang ia didik dari nol hingga kini menjadi fotografer profesional. Sebuah bukti bahwa dedikasi Piping tak hanya berhenti pada bidikan lensa, tapi juga pada regenerasi.
"Saya memilih foto-foto ini berdasarkan kesan pertama yang muncul. Ada rasa yang kuat di sana," ungkap Komang Erviani, sang kurator.
Karya-karya yang dipamerkan mayoritas berasal dari kurun waktu 2002–2007, era di mana Bali tengah berjuang bangkit dari luka. Salah satu seri foto yang menyentuh adalah momen Paddle of Peace di Kuta Karnival, sebuah aksi solidaritas para peselancar untuk memperingati tragedi Bom Bali.
Pesan Sunyi dari Garis Pantai yang Berubah
Namun, pameran ini bukan sekadar ajang nostalgia. Di balik estetika ombak yang meliuk indah, terselip sebuah peringatan dini. Ervi menunjukkan bagaimana foto Piping di Pantai Pererenan kini menjadi artefak visual—sebuah bukti bahwa ombak di sana tak lagi seindah dulu akibat dampak proyek penyelamatan pantai.
Aktivis lingkungan, Made Iwan Dewantama, yang turut hadir melihat karya-karya ini, menekankan pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
- Keunikan Bali: Tidak seperti pulau lain yang bergantung musim, Bali memiliki ombak sepanjang tahun.
- Potensi Wisata: Industri surfing masih menjadi "tambang emas" yang seharusnya bisa lebih banyak menyejahterakan warga lokal.
- Konservasi: Foto Piping menjadi pengingat bahwa jika pantai rusak, identitas Bali sebagai kiblat selancar dunia pun akan luntur.
Melalui bidikan lensa Piping, kita diajak menyadari bahwa ombak adalah warisan yang rapuh. Jika kita tak menjaganya, maka di masa depan, keindahan itu mungkin hanya bisa kita temukan di dinding pameran, membeku dalam bingkai kayu sebagai kenangan yang hilang.[*]
Editor : Hari Puspita