DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Panggung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, berubah menjadi ruang penyampai realitas sosial pada Senin (23/2/2026).
Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali hadir bukan untuk meliput, melainkan meruwat kegelisahan publik melalui pementasan teater modern. Mereka mengangkat mitologi Jaratkaru sebagai "alarm" keras bagi kondisi sosial-ekologi Pulau Dewata saat ini.
Pementasan ini berangkat dari kisah kuno Jaratkaru—sosok yang terpaksa menikah demi menyelamatkan leluhurnya dari penderitaan. Namun, di tangan para kuli tinta, cerita legenda tersebut menjelma menjadi metafora pedas: generasi muda Bali hari ini layaknya Jaratkaru. Mereka memikul beban dan "utang" kerusakan alam serta himpitan ekonomi yang diwariskan masa lalu.
Ketua Kawiya Bali, I Putu Suryadi, menegaskan, pertunjukan ini adalah resonansi dari karut-marut fenomena di lapangan yang mereka potret setiap hari.
Di atas panggung, empat aktor menarikan narasi tubuh yang dipaksa terus bergerak demi bertahan hidup di tengah kepungan beton, kemacetan akut, hingga alih fungsi lahan yang masif. Persoalan sampah dan banjir yang kian akrab dengan keseharian warga juga menjadi sorotan.
"Hampir setiap bulan!" teriak tiga aktor, menegaskan keresahan atas banjir yang terus berulang.
Sawah-sawah yang dulu asri kini berubah drastis oleh bangunan, salah satunya menjamurnya kedai kopi (coffee shop). Momen paling teatrikal terjadi ketika belasan jurnalis muncul mengelilingi penonton sambil membacakan berita berbahasa Bali tentang fenomena sosial terkini secara simultan. Suasana menjadi riuh dan sesak, menggambarkan betapa bisingnya informasi kerusakan lingkungan yang terus terjadi tanpa solusi konkret.
Pementasan yang sarat kritik ini disaksikan langsung oleh Ni Putu Putri Suastini Koster. Penggiat teater yang juga istri Gubernur Bali dua periode, Wayan Koster, ini memberikan apresiasi tinggi atas keberanian para wartawan menyuarakan fakta lapangan melalui estetika panggung. Ia berpandangan bahwa mengubah hasil peliputan menjadi karya seni adalah metode modern yang sangat efektif untuk menyentuh kesadaran kolektif.
Melalui Jaratkaru, Kawiya Bali mengirim pesan penting: jika pembangunan terus mengabaikan napas ekologi, maka masa depan Bali akan tetap "tergantung" dalam ketidakpastian—sama merananya dengan para leluhur dalam mitos tersebut.***
Editor : M.Ridwan