Masalah gangguan kesehatan mental sering kali dipandang hanya dari kacamata medis. Namun, sebuah film etnografi terbaru berjudul The Sacrifice mencoba mendobrak stigma tersebut dengan mengangkat perspektif budaya dan ritual Bali sebagai jalan mencari harmoni jiwa.
FILM yang diproduksi oleh Elemental Production ini bukanlah karya instan. Digarap selama 15 tahun, film ini mendokumentasikan perjalanan getir seorang pria asal Kesiman, Denpasar, bernama Ketut Sudirta.
Ketut adalah penyintas gangguan jiwa berat yang hidupnya penuh gejolak; mulai dari menggelandang di jalanan, keluar-masuk RSJ, hingga peristiwa tragis yang merenggut nyawa anggota keluarganya sebelum akhirnya ia memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri.
Gus Indra, selaku Co-Producer dan Etnografer, menjelaskan bahwa film ini adalah upaya membuka pikiran masyarakat.
"Kami ingin menunjukkan bahwa penanganan gangguan jiwa juga memerlukan pendekatan budaya. Banyak kejadian serupa di Bali yang selama ini tertutup," ungkapnya usai pemutaran film di Universitas Dhyana Pura, Rabu (4/3/2026).
Ritual Sebagai Jembatan Kesembuhan
The Sacrifice menggambarkan bagaimana keluarga Ketut mencari makna di balik penderitaan melalui bimbingan penyembuh spiritual (Balian).
Dalam logika karma Bali, penderitaan Ketut tidak dilihat sebagai penyakit semata, melainkan manifestasi gangguan hubungan antara dunia manusia dan alam roh.
"Tragedi yang menimpa dirinya dimaknai sebagai 'pengorbanan darah' yang luhur untuk memulihkan harmoni keluarga besar," jelas Gus Indra. Proses penyembuhan pun melibatkan ritual kolektif, mulai dari doa, fase trance (kerauhan), hingga pembangunan kembali struktur rumah yang dianggap memengaruhi energi penghuninya.
Diakui Dunia Internasional
Meski berlatar lokal, pesan kemanusiaan dalam The Sacrifice telah bergema di panggung global. Film ini telah diputar di berbagai ajang bergengsi, termasuk The Orion Film Festival di Australia, Anthropological Film Festival di Yerusalem, hingga festival etnografi di Detroit dan Jerman.
Melalui kisah Ketut, penonton diajak merenungkan kembali arti solidaritas dan bagaimana sebuah budaya merangkul mereka yang dianggap "berbeda" agar tetap memiliki tempat di tengah masyarakat.[*]
Editor : Hari Puspita