Mengarungi Samudra, Melahirkan Kata: Moch Satrio Welang Luncurkan Dua Buku dari Kapal Pesiar di Puerto Rico

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Kamis, 2 April 2026 | 15:02 WIB
LUNCURKAN BUKU DARI TANAH SEBERANG : Moch Satrio Welang dengan dua bukunya buku puisi "Kalamuning Sunya" dan kumpulan cerita pendek "Gumelaring Geni".(ist)
LUNCURKAN BUKU DARI TANAH SEBERANG : Moch Satrio Welang dengan dua bukunya buku puisi "Kalamuning Sunya" dan kumpulan cerita pendek "Gumelaring Geni".(ist)

Nun jauh dari tanah air, di tengah deburan ombak yang konstan dan ketatnya rutinitas pekerjaan di atas kapal pesiar, gairah kreatif seorang Moch Satrio Welang tidak pernah surut. Jarak ribuan mil dan dinding-dinding besi kapal justru menjadi saksi bisu lahirnya karya-karya kontemplatif.

MOMEN itu terjadi tepat pada 1 April 2026, saat kapal tempatnya bekerja membuang sauh dan berlabuh di pelabuhan San Juan, Puerto Rico, penulis dan seniman asal Bali ini resmi mengumumkan kelahiran dua buah "anak spiritualnya".

Baca Juga: Risma Angkat Pengorbanan Perempuan Lewat Hukuman Karya Satrio Welang

Secara daring, ia meluncurkan dua buku tunggal perdananya sekaligus: sebuah buku puisi bertajuk "Kalamuning Sunya" dan kumpulan cerita pendek berjudul "Gumelaring Geni".

Peluncuran ganda ini bukan sekadar seremoni biasa. Ini adalah sebuah monumen pencapaian penting dalam perjalanan literasi seorang Satrio Welang. Di dalam kedua buku tersebut, terangkum kristalisasi proses kreatif yang amat panjang selama 17 tahun, terhitung sejak rentang waktu 2008 hingga 2025.

Kesunyian dan Nyala Api yang Panjang

Buku pertama, "Kalamuning Sunya", merupakan kumpulan puisi tunggal yang memuat 43 judul puisi pilihan. Puisi-puisi ini lahir dari ruang-ruang sunyi kontemplasi sang penulis selama belasan tahun.

Sementara itu, "Gumelaring Geni" menjadi wadah bagi 14 judul cerita pendek karyanya. Menariknya, di dalam buku kumpulan cerpen ini, terdapat sebuah karya berjudul "Gayatri" yang dihadirkan secara istimewa dalam bahasa Bali, hasil alih bahasa oleh Ni Komang Ari Pebriyani.

Kelahiran kedua buku ini pun disambut hangat oleh kritikus sastra kenamaan, Arif B. Prasetyo. Dalam ulasannya yang mendalam, Arif menyebut bahwa Satrio berhasil membangun lanskap puitik yang kuat.

"Satrio Welang membangun lanskap puitik yang mencerminkan perjalanan manusia dari penderitaan menuju kesadaran. Buku puisi ini seperti membentangkan riwayat luka bangsa dan jiwa manusia," ungkap Arif memberikan apresiasi.

Menjembatani Prosa dan Puisi

Ketajaman Satrio dalam meramu kata juga terlihat jelas dalam 14 cerpen di "Gumelaring Geni". Arif menilai Satrio memiliki kepiawaian dalam memadukan lirisisme yang lembut dengan realisme yang cenderung kelam.

Gaya berceritanya yang khas kerap menggunakan simbol-simbol alam dan budaya yang kental. Sentuhan ini tidak hanya berhasil menghidupkan narasi, tetapi juga dengan apik mencerminkan gejolak batin para tokoh di dalamnya.

Dunia fiksi yang dibangun Satrio dalam buku ini digambarkan sebagai dunia yang "retak", namun tetap menyisakan spiritualitas serta kesadaran diri. Melalui bahasa yang getir, pembaca justru diajak untuk melihat secercah cahaya harapan di sela-sela reruntuhan kemanusiaan.

Uniknya lagi, buku ini memperagakan kemampuan Satrio dalam menjembatani sekat antara prosa dan puisi. Pada beberapa cerpennya, Satrio dengan sengaja menyisipkan bait-bait puisi yang sebenarnya juga terdapat dalam buku "Kalamuning Sunya". Sebuah eksperimen lintas batas yang manis.

Menembus Batas Ruang Kerja

Meski menjalani profesi sebagai pekerja migran yang menuntut mobilitas tinggi di atas samudra, Satrio Welang membuktikan bahwa batas ruang dan waktu bukanlah penghalang bagi seorang kreator untuk tetap produktif. Dedikasinya terhadap dunia sastra kini menjelma menjadi 57 karya utuh yang diluncurkan jauh dari Puerto Rico.

Kisah dari tengah laut ini pun dipastikan tidak akan berhenti sampai di sini. Di tanah air, Teater Sastra Welang kini tengah bersiap-siap mematangkan rencana besar. Mereka tengah mempersiapkan "Festival Seni Kalamuning Sunya - Gumelaring Geni 2026". Festival ini dirancang untuk memublikasikan kedua buku tersebut sepanjang tahun dengan menggelar beragam lomba seni dan sastra. [*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
moch satrio welang peluncuran buku Antologi Puisi cerpen launching buku