Kabupaten ujung utara Pulau Dewata ini dipastikan tampil all out dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 yang berlangsung di Art Center Denpasar dan kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Tidak tanggung-tanggung, Gumi Denbukit menerjunkan 15 penampilan seni yang persiapannya diklaim sudah final.
TERKAIT segala kesiapan seniman ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng, I Nyoman Wisandika, 51, menjelaskan bahwa jumlah keterwakilan Buleleng pada PKB tahun ini meningkat signifikan dibanding tahun lalu yang hanya menyertakan sebelas penampilan.
Baca Juga: Prof. Dibia Latih 40 Mahasiswa Korsel Menari Kecak Akan Tampil Meramaikan Perhelatan PKB-48
Sebagai pemanasan, sejumlah menu kesenian bahkan telah diujicobakan pada pembukaan Bulan Bung Karno di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno pada Senin, (1/6/2026).
Baca Juga: Ketua DPRD Klungkung Inspeksi Komposting di Kawasan PKB Klungkung
”Dari materi sajian, tahun lalu ada sebelas. Sekarang 15, ada tambahan lagi empat. Secara umum semua sudah siap, tinggal tampil saja,” ujar Wisandika penuh optimis kepada Jawa Pos Radar Bali saat dikonfirmasi pada Jumat, (5/6/2026).
Baca Juga: Kerahkan Seribu Seniman, Tabanan Siap Tampil Habis-habisan di PKB XLVIII 2026 Ini
Adapun jadwal unjuk gigi kontingen Buleleng diawali oleh Paguyuban Seniman Bali (PSB) Buleleng untuk peed aya (pawai) pada Sabtu, 13/6/2026. Disusul Sanggar Seni Werdhi Suara dari Desa Gobleg untuk utsawa (parade) joged bumbung tradisi pada Minggu, 14/6/2026, serta Yowana Shanti Adnyana dari Desa Anturan untuk wimbakara (lomba) baleganjur remaja pada Kamis, 18/6/2026.
Selanjutnya, Sanggar Seni Rare Kual Topeng dari Desa Panji tampil dalam utsawa nglawang pada Jumat, (19/6/2026). Sanggar Mada Janu Mukti Desa Busungbiu unjuk kebolehan di utsawa gong kebyar wanita pada Sabtu, 20/6/2026. Dua penampilan berikutnya hadir pada Minggu, 21/6/2026, yakni Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng untuk utsawa busana adat khas dan Sanggar Seni Suara Mustika dari Kelurahan Banyuning untuk utsawa gong kebyar anak-anak.
Memasuki pekan berikutnya, Sanggar Seni Nong Nong Kling mementaskan rekasedana (pergelaran) drama gong pada Senin, 22/6/2026, bersamaan dengan Sanggar Tari dan Tabuh Pentas Marak Lestari dari Desa Bubunan untuk utsawa gong kebyar anak-anak. Kemudian Sanggar Seni Wahana Santhi dari Desa Umejero berlaga di wimbakara Tari Barong Ket pada Rabu, 24/6/2026, dan Sekaa Yowana Mudita dari Desa Adat Kalibukbuk mementaskan utsawa janger tradisi remaja pada Kamis, (25/6/2026).
Jelang penutupan, Sanggar Seni Joged Mangun Semara dari Desa Selat tampil di utsawa joged bumbung tradisi pada Minggu, 28/6/2026.
Diikuti Sekaa Angklung Kebyar Shanti Ulangun dari Desa Ambengan untuk utsawa angklung kebyar khas pada Senin, 29/6/2026. Puncaknya, Sanggar Seni Langen Kerti Budaya dari Desa Lokapaksa turun di utsawa gong kebyar dewasa pada Selasa, (7/7/2026), dan ditutup oleh Wayang Genjek dari Desa Bungkulan untuk rekasedana wayang pada Kamis, (9/7/2026).
”Kesenian yang baru kami tampilkan tahun ini ada wayang genjek, janger remaja, nglawang, termasuk angklung kebyar yang menggantikan gong legendaris,” lanjut Wisandika.
Menurutnya, materi yang paling menonjol dan menjadi roh Denbukit adalah gong kebyar anak-anak, dewasa, perempuan, serta drama gong karena merupakan kesenian asli Buleleng.
Seluruh pengisi acara dipastikan telah mengantongi bekal matang berkat pendampingan ketat dari Disbudpar Buleleng dan tim kurator Pemerintah Provinsi Bali.[*]
Editor : Hari Puspita