Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Magnet Magis Mekare-kare, Wisman Rela Berdesakan Saksi Tradisi Perang Pandan Tenganan

Zulfika Rahman • Kamis, 11 Juni 2026 | 08:37 WIB
SELALU DINANTI : Tradisi perang pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem. (foto: zulfika Rahman)
SELALU DINANTI : Tradisi perang pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem. (foto: zulfika Rahman)

Ini memang panggung pertunjukan rutinitas. Saban tahun rutin digelar, tradisi mamekare-kare atau yang lebih populer dengan sebutan perang pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, tetap menjadi tontonan favorit yang selalu dinanti.

PADA Rabu, (10/6/2026), tradisi sakral ini kembali digelar dan terbukti sukses menjadi magnet kuat yang dinantikan oleh ratusan wisatawan mancanegara (wisman).

Baca Juga: Pesona Desa Tenganan: Tradisi Bali Aga, Kain Gringsing, dan Perang Pandan yang Unik

Pantauan di lokasi, masyarakat dan turis asing sudah mulai memadati areal desa adat sejak siang hari. Sejumlah fotografer profesional dari berbagai wilayah bersama para pelancong tampak berdesakan mencari posisi paling depan.

Mereka rela berburu tempat strategis demi mengabadikan keseruan dan momen magis tradisi yang dilaksanakan setahun sekali ini.

Baca Juga: Gerindra Karangasem Ikut Perang Pandan

Sebelum prosesi dimulai, atmosfer adat begitu kental terasa. Para pemuda dan pemudi asli Tenganan Pegringsingan tampak sibuk menyiapkan sarana prasarana.

Mulai dari memilah hingga mengikat daun pandan berduri yang menjadi senjata utama dalam ritual laga tersebut.

Baca Juga: Perang Pandan: Bukan Sekadar Tradisi Desa Tenganan Pegringsingan, Penghormatan Pada Dewa Meski Berdarah-darah

Daya tarik magis mamekare-kare ini diakui oleh Anderson, 31, seorang wisatawan mancanegara asal Swedia. Pria bertubuh jangkung ini mengaku sengaja datang karena ini merupakan kali kedua dirinya menyaksikan langsung perang pandan di Tenganan Pegringsingan. Bagi Anderson, tontonan adat ini menyuguhkan keseruan luar biasa yang tidak ada di belahan dunia lain.

"Bali selalu memiliki tradisi yang sangat unik, dan perang pandan ini salah satu yang terbaik," ujar Anderson dengan nada kagum.

Anderson mengisahkan, dirinya pertama kali menonton perang pandan pada tahun 2018 lalu atas rekomendasi seorang pemandu wisata. Pengalaman pertama itu rupanya membekas begitu mendalam. "Kali ini saya sengaja menjadwalkan liburan ke Bali berdekatan dengan jadwal tradisi ini setelah mendapatkan informasi rincinya," tuturnya.

Kesan mendalam juga dirasakan oleh I Made Dwi, seorang warga asal Kabupaten Badung. Pria yang kerap mengantar wisatawan ini mengaku sangat terkesan karena para peserta perang pandan benar-benar bertarung sungguhan hingga berdarah-darah akibat goresan duri pandan, namun tanpa ada rasa dendam.

"Ini pertama kalinya saya melihat langsung dari dekat. Kalau ke sini biasanya cuma antar tamu dan pas tidak ada tradisi. Bersyukur tahun ini akhirnya bisa menyaksikan langsung keseruannya," kata Dwi.

Sementara itu, Kelian Desa Adat Tenganan Pegringsingan I Putu Yudiana menjelaskan, tradisi perang pandan ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap Dewa Indra, yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai Dewa Perang. Ritual ini rutin digelar setahun sekali, tepatnya bertepatan dengan perayaan Usaba Sambah di Desa Tenganan Pegringsingan.

Berdasarkan garis keyakinan leluhur, masyarakat adat Tenganan Pegringsingan menganut agama Hindu beraliran Dewa Indra. Perang dalam tradisi ini merupakan simbol ksatria dan penghormatan yang dilakoni oleh para remaja putra. Prosesi ini sekaligus penanda bahwa kelak merekalah yang akan memegang tongkat estafet tanggung jawab terhadap keluarga dan desa adat.

Yudiana menambahkan, perayaan tradisi perang pandan tahun ini merupakan kali kelima yang disinkronkan dengan ajang Tenganan Pegringsingan Culture Festival.

 Langkah ini diambil agar para pengunjung tidak hanya menonton ritual adat, tetapi juga bisa menikmati kuliner khas serta berbagai hiburan budaya yang disediakan. "Semoga melalui tradisi dan festival ini, desa kami Tenganan Pegringsingan bisa semakin dikenal luas di kancah internasional," tandasnya.[*]

Editor : Hari Puspita
#seni budaya bali #tenganan pegringsingan karangasem #perang pandan #Kesenian Rakyat Agraris #tradisi turun temurun