Industri pariwisata dan hospitality di Bali tidak hanya bicara soal gemerlap pelayanan prima, namun juga menyimpan kisah perjuangan batin yang mendalam dari para pekerjanya.
PORET humanis inilah yang berhasil diangkat dengan apik oleh ARM Hospitality lewat film pendek berjudul Rumah Kedua.
Baca Juga: Pemutaran Film Dokumenter Tentang Autisme “Joshua Tree” Mendapat Apresiasi Masyarakat Bali
Film berdurasi kurang dari 30 menit tersebut sukses memikat perhatian sekaligus mengharu biru perasaan para penonton saat diputar di studio XXI Trans Studio Mall, Denpasar, Jumat (12/6/2026) sore Wita.
CEO ARM Hospitality, Ronny Soetanto, 45, menjelaskan bahwa film Rumah Kedua mengangkat realitas kehidupan seorang perantau asal Banyuwangi bernama Baskara.
Demi mengejar masa depan dan cita-citanya, Baskara memilih mengadu nasib di bidang hospitality di Pulau Dewata. Namun di balik kegigihannya bekerja, ia menyimpan dilema berat karena harus meninggalkan sang ayah tercinta di kampung halaman dalam kondisi sakit sakitan.
Alur cerita mencapai puncak emosionalnya ketika Baskara harus menerima kabar pahit bahwa sang ayah telah meninggal dunia.
Di tengah kedukaan yang mendalam, profesionalisme menuntutnya untuk tetap mengontrol rasa sedih sembari terus menjalankan tugasnya sebagai house keeping di salah satu vila di Bali.
”Melalui alur cerita yang emosional dan penuh makna, film ini menggambarkan perjuangan, pengorbanan, serta dilema yang sering dihadapi banyak orang dalam perjalanan hidup mereka,” ujar Ronny saat ditemui usai pemutaran film, Jumat (12/6/2026).
Ronny menambahkan, karya ini lahir dari sebuah impian dan idealisme yang dipendamnya sejak lima tahun lalu.
Ia ingin menghadirkan sebuah tontonan yang mampu memotret sisi kemanusiaan dalam dunia hospitality secara lebih mendalam. Visi tersebut akhirnya terwujud nyata berkat kolaborasi apik antara ARM Hospitality Indonesia, J.Karpenter Singapore, dan 52 Studios Singapore.
Disutradarai oleh sineas Cleve Low dari 52 Studio dan diproduseri oleh Goh Wei Woon dari J.Karpenter, judul Rumah Kedua dipilih bukan tanpa alasan. Judul ini menggambarkan bagaimana sebuah tempat kerja atau lingkungan baru tidak sekadar menjadi ruang untuk singgah, melainkan menjelma tempat yang menghadirkan rasa nyaman, kepedulian, dan makna mendalam bagi setiap orang di dalamnya.
”Hari ini, mimpi tersebut akhirnya menjadi kenyataan. Kami berharap Rumah Kedua dapat menginspirasi banyak orang untuk terus mengejar passion mereka tanpa melupakan keluarga, integritas, dan kasih sayang yang menjadi fondasi utama dalam setiap perjalanan hidup,” imbuhnya.
Filosofi utama yang ingin digaungkan ARM Hospitality lewat film ini adalah Hospitality is not about service, it is about commitment, integrity, passion and love.
Melalui pesan kuat ini, mereka menegaskan bahwa pelayanan sejati bukan sekadar urusan teknis yang baik, melainkan komitmen untuk melayani dengan tulus, menjaga integritas, bersemangat untuk berkembang, serta menebar kasih sayang dalam interaksi sesama.
Sementara itu, aktor Aris, 27, yang memerankan sosok Baskara, mengaku tidak menemukan kesulitan berarti saat mendalami karakter perantau tersebut.
”Sosok ini tidak terlalu sulit diperankan karena mayoritas perantau pasti pernah mengalaminya. Kebetulan saya sendiri sebenarnya juga asli dari Banyuwangi, jadi saat syuting mengalir begitu saja mengikuti flow-nya,” cetus Aris sembari tersenyum.
Kabar baiknya, film pendek lokal dengan cita rasa internasional ini dipastikan akan melebarkan sayap ke panggung yang lebih luas. Executive Producer J.Karpenter, Goh Wei Woon menegaskan bahwa film Rumah Kedua nantinya akan ikut bertarung dalam ajang festival film pendek bergengsi di Singapura dan Jogja.[*]
Editor : Hari Puspita